Catatan Harian ASA
SEORANG teman pernah berkata kepada saya dengan sangat pasrah,
“Saya pikir setelah bercerai, semua masalah akan selesai.
Namun ternyata, hidup justru semakin rumit.”
Kalimat itu diucapkan pelan, dalam dan kebingungan. Hingga terasa sangat berat.
Ia bercerita tentang pasangannya yang selama ini dikenal baik oleh banyak orang.
Ramah.
Pandai berbicara.
Mudah membuat orang percaya.
Namun di balik itu, ada sisi lain yang tidak semua orang lihat.
Ia mengaku sering disalahkan.
Diremehkan.
Dimanipulasi.
Bahkan anak-anaknya sampai trauma hanya untuk sekadar bertemu, dengannya, karena sering dipukulnya.
Dan yang paling menyakitkan, tidak banyak orang percaya pada ceritanya.
Karena di mata publik, pasangannya terlihat begitu baik.
Inilah salah satu fenomena yang semakin sering dibahas dalam psikologi hubungan modern.
Fenomena hubungan dengan pribadi yang memiliki kecenderungan narsistik berlebihan.
Dalam dunia psikologi, istilah yang sering dikaitkan dengan pola seperti ini adalah:
NPD — Narcissistic Personality Disorder.
Namun perlu dipahami, tidak semua orang egois otomatis mengalami NPD.
Diagnosis tetap harus dilakukan oleh profesional kesehatan jiwa atau seorang psikolog.
Tetapi pola perilakunya sering tampak mirip seperti:
selalu merasa paling benar,
sulit mengakui kesalahan,
minim empati,
gemar memanipulasi keadaan,
dan sering membuat orang lain merasa bersalah terus-menerus.
Yang paling melelahkan dari hubungan seperti ini bukan sekadar pertengkarannya.
Tetapi efek perlahan yang mengikis hati dan jiwa tanpa kita menyadarinya.
Korban mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Apa memang saya yang salah?”
“Apa saya terlalu sensitif?”
“Kenapa saya terus meminta maaf terus?”
Lama-kelamaan, rasa percaya diri menurun.
Mental lelah.
Emosi terkuras.
Bahkan tidak sedikit yang mengalami depresi dan kehilangan semangat untuk hidup.
Dan ironisnya, orang yang paling menyakiti sering justru tampil sebagai pihak yang paling tersakiti.
Ia memutar cerita.
Membalik fakta.
Membangun citra.
Sementara korban memilih diam karena lelah menjelaskan sesuatu yang tidak akan pernah dipahami orang.
Sayapun sering berhubungan dengan sosok berkarakter NPD. Maka saya meramu sendiri formula Menghadapi Pribadi Narsistik ini seperti:
Zero Speak
Kurangi penjelasan yang tidak perlu.
Tidak semua orang benar-benar ingin memahami kita.
Sebagian hanya mencari celah untuk memutarbalikkan ucapan kita.
Zero Emotion
Jangan tenggelam dalam ledakan emosinya.
Tetap tenang.
Tetap stabil. Jika perlu banyak berdoa dan berzikir.
Karena pribadi manipulatif sering kehilangan kekuatan ketika kita tidak lagi bereaksi berlebihan.
Zero Action
Tidak semua provokasi harus dibalas.
Kadang diam bukan kalah.
Tetapi bentuk perlindungan diri yang paling dewasa.
Keep silence and zero action.
Make Boundary
Buat batas yang sehat.
Batasi akses.
Batasi komunikasi yang merusak.
Batasi kedekatan yang menguras jiwa.
Tidak semua hubungan harus dipertahankan jika ternyata menghancurkan kesehatan mental kita sendiri dan orang di sekitar kita.
Dan yang paling penting…
Jika suatu saat merasa sudah tidak sanggup menjalani hidup, jangan memendam semuanya sendirian.
Bicaralah pada orang terpercaya.
Keluarga.
Sahabat.
Psikolog.
Atau profesional kesehatan jiwa. Serta jangan lupa selalu memohon lindunganNya agar dijauhkan dari pribadi NPD.
Karena hidup seseorang jauh lebih berharga daripada luka yang sedang ia alami hari ini.
Pada akhirnya, kedewasaan bukan hanya tentang mempertahankan hubungan.
Tetapi juga tentang tahu kapan harus menjaga jarak demi menyelamatkan jiwa sendiri dan anak-anak atau keluarga dekat yang ikut terluka.
Sebab hidup terlalu singkat untuk terus menjadi tersangka dalam cerita yang bahkan bukan kita penulisnya.
Dan akhirnya…
Maafkan mereka.
Namun tetaplah berjalan menuju hidup yang lebih sehat dan damai. (*)
Forgive, heal, and move forward.
Salam Hangat,
ASA | Asrulsani Abu, S.E., M.M.
11 Mei 2026
.jpg)
