Oleh:
Ali Samudra | Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin, Pondok Kelapa, Jakarta Timur


PERADABAN modern berkembang dengan sangat luar biasa. Teknologi melampaui imajinasi generasi sebelumnya. Manusia mampu berbicara lintas benua dalam hitungan detik, menembus ruang angkasa dan melahirkan berbagai kemudahan hidup yang dahulu sulit dibayangkan. Namun di balik seluruh kemajuan itu, manusia modern diam-diam mengalami keretakan batin: jiwa yang letih dan hati yang kehilangan arah.

Pada saat yang sama, dunia juga dipenuhi tragedi kemanusiaan yang mengguncang nurani. Anak-anak terbunuh dalam perang, perempuan kehilangan keluarga, jutaan manusia hidup dalam ketakutan dan pengungsian. 

Di Gaza Palestina, dunia menyaksikan rumah sakit dibom, rumah-rumah hancur, dan anak-anak kecil kehilangan nyawa sebelum sempat mengenal kehidupan dengan utuh. Sementara di berbagai tempat lain, bencana alam datang tanpa peringatan: gempa bumi, banjir, tsunami, dan wabah penyakit merenggut ribuan nyawa.

Pertanyaan Eksistensial

Ketika melihat semua itu, manusia secara alami bertanya: “Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa penderitaan sebesar ini tetap terjadi?”

Pertanyaan ini bukan tanda lemahnya iman. Ia justru lahir dari hati nurani manusia yang sehat. Sebab kasih sayang manusia menolak menerima begitu saja penderitaan orang-orang yang tidak berdaya. Di sinilah Islam menghadirkan salah satu konsep paling mendasar dalam seluruh bangunan spiritualnya: Rahmat Allah.

Al-Qur’an memperkenalkan Tuhan bukan pertama-tama sebagai Penghukum, melainkan sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim—Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahkan hampir setiap aktivitas spiritual dalam Islam dibuka dengan kalimat: Bismillahirrahmanirrahim “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Seolah-olah Al-Qur’an ingin menanamkan satu kesadaran penting kepada manusia: bahwa fondasi hubungan antara Tuhan dan makhluk-Nya adalah kasih sayang.

Salah satu ayat yang paling dalam terkait hal ini terdapat dalam QS. Al-A’raf ayat 156:

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”

Ayat ini bukan sekadar penghibur spiritual. Ia adalah deklarasi kosmik tentang hakikat realitas. Sebuah pernyataan bahwa seluruh keberadaan ini berdiri di atas rahmat Allah.

Rahmat sebagai Fondasi Keberadaan

Para filosof Muslim seperti Ibn Sina memahami bahwa keberadaan itu sendiri merupakan bentuk rahmat terbesar. Menurutnya, Allah adalah Wajib al-Wujud—Yang Niscaya Ada—dan seluruh alam semesta merupakan limpahan keberadaan dari-Nya.

Artinya, sebelum manusia memperoleh: kesehatan, kekayaan, keberhasilan, bahkan kebahagiaan, fakta bahwa manusia “ada” saja sudah merupakan rahmat yang luar biasa.

Kita diciptakan dari ketiadaan menjadi ada. Diberi:,kehidupan, kesadaran, akal, cinta, dan kemampuan mengenal Tuhan. Dalam perspektif ini, rahmat Allah bukan sekadar hadiah tambahan, melainkan fondasi dari seluruh realitas.

Tokoh besar seperti Ibn Arabi memandang bahwa seluruh alam merupakan manifestasi (tajalli) dari nama-nama Allah. Ketika Al-Qur’an menyatakan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu, Ibn Arabi memahaminya secara sangat mendalam: tidak ada satu pun realitas yang benar-benar berada di luar cakupan kasih sayang Tuhan.

Bahkan kehidupan yang tampak keras sekalipun—ujian, kehilangan, penderitaan—tetap berada dalam lingkaran rahmat ilahi, meski manusia sering gagal memahaminya.

Di sinilah letak perbedaan besar antara pandangan spiritual dan pandangan materialistik modern. Dunia modern cenderung melihat hidup sebagai kumpulan peristiwa acak tanpa makna mendalam. Sedangkan dalam spiritualitas Islam, kehidupan dipandang sebagai jaringan tanda-tanda (ayat) yang semuanya mengarah kepada Tuhan.

Mengapa Rahmat Tidak Selalu Tampak Lembut?

Masalah terbesar manusia modern adalah menyamakan rahmat dengan kenyamanan. Kita menganggap kasih sayang Tuhan harus selalu hadir dalam bentuk: kesehatan, kemenangan, kekayaan, atau hidup yang mudah.

Padahal para ulama dan sufi sejak dahulu telah mengingatkan bahwa rahmat Allah tidak selalu tampil dalam bentuk yang menyenangkan ego manusia.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa Allah memiliki dimensi: jalal (keagungan dan kekuasaan), sekaligus jamal (keindahan dan kasih sayang).

Dalam kehidupan manusia, keduanya sering berjalan bersama. Kadang rahmat hadir sebagai nikmat. Namun kadang ia hadir sebagai: ujian, keterbatasan, kehilangan, bahkan kehancuran ego.

Seorang dokter yang membedah pasien mungkin tampak menyakiti, tetapi sesungguhnya ia sedang menyelamatkan. Seorang guru yang memberi ujian bukan sedang membenci muridnya, melainkan sedang menaikkan kapasitasnya

Demikian pula hidup. Tidak semua luka adalah hukuman. Tidak semua kehilangan adalah tanda murka Tuhan.

Sering kali penderitaan justru menjadi pintu kesadaran terdalam manusia. Tokoh sufi besar Jalaluddin Rumi pernah berkata: “Luka adalah tempat cahaya masuk.”

Kalimat ini sangat dalam. Banyak manusia baru mengenal dirinya sendiri ketika mengalami kehilangan. Banyak orang baru memahami makna doa ketika dunia tidak lagi memberinya tempat bergantung.

Gaza, Bencana Alam dan Pertanyaan tentang Rahmat

Pertanyaan paling berat tentang rahmat Allah muncul ketika manusia menyaksikan penderitaan orang-orang tak berdosa.

Apa yang terjadi di Gaza Palestina selama bertahun-tahun adalah luka besar kemanusiaan modern. Anak-anak terbunuh. Rumah sakit hancur. Perempuan kehilangan keluarga. Orang-orang sipil hidup tanpa keamanan dan harapan.

Dalam situasi seperti itu, sangat mudah bagi manusia bertanya: “Di mana rahmat Allah?”

Islam tidak menolak pertanyaan ini. Tetapi Islam juga mengajarkan bahwa tidak semua penderitaan berasal langsung dari kehendak hukuman Tuhan. Banyak penderitaan lahir dari: keserakahan manusia, kolonialisme, kerakusan kekuasaan, dan hilangnya moralitas manusia sendiri.

Perang bukan bukti bahwa rahmat Allah tidak ada, tetapi sering kali bukti bahwa manusia menyalahgunakan kebebasan yang diberikan Tuhan.

Allah memberi manusia kebebasan: menjadi pelindung kehidupan, atau menjadi penghancur kehidupan. Dan sejarah menunjukkan bahwa manusia sering memilih jalan yang gelap.

Demikian pula ketika tsunami besar melanda Aceh Sumatra tahun 2004. Ratusan ribu manusia meninggal. Kota-kota berubah menjadi puing. Banyak keluarga hilang dalam hitungan menit.

Bencana seperti ini mengguncang akal dan hati manusia. Namun menariknya, setelah tragedi besar sering muncul sesuatu yang sangat manusiawi: solidaritas, kepedulian, kerendahan hati, dan kesadaran akan rapuhnya hidup.

Banyak orang kembali mengingat Tuhan justru ketika kesombongan manusia runtuh di hadapan alam.

Ini bukan berarti bencana itu sendiri “baik” secara sederhana. Tidak ada manusia sehat yang menikmati penderitaan. Tetapi dalam banyak kasus, tragedi membuka lapisan kemanusiaan yang selama ini tertutup oleh ego dan kesibukan dunia.

Dunia Modern dan Krisis Kehampaan

Peradaban modern berhasil menciptakan banyak kenyamanan, tetapi gagal menghilangkan kegelisahan manusia.

Hari ini kita menyaksikan: depresi meningkat, kecemasan meluas, bunuh diri terjadi bahkan di negara-negara maju, dan manusia semakin kehilangan makna hidup.

Mengapa? Karena manusia modern terlalu sibuk mengembangkan dunia luar, tetapi melupakan dunia batin.

Segala sesuatu diukur dengan: produktivitas, pencapaian, popularitas, dan keuntungan.

Akibatnya manusia kehilangan kemampuan menikmati keheningan. Padahal rahmat Allah sering hadir dalam ruang-ruang sunyi: dalam doa yang lirih, dalam sujud panjang, dalam air mata taubat, atau dalam kesadaran kecil bahwa hidup ini tidak berjalan sendiri.

Al-Qur’an menegaskan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini sangat menarik. Allah tidak mengatakan: kekayaan menenangkan, jabatan menenangkan, atau popularitas menenangkan. Yang menenangkan hati adalah hubungan spiritual dengan Allah. Dan hubungan itu pada hakikatnya adalah pengalaman memasuki rahmat-Nya.


Rahmat dan Kebebasan Manusia

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah: Jika rahmat Allah begitu luas, mengapa manusia tetap melakukan kejahatan?

Islam memandang bahwa Allah memberi manusia kebebasan memilih. Tanpa kebebasan, cinta dan moralitas kehilangan makna.

Manusia dapat: mendekati cahaya, atau menjauh darinya. Rahmat Allah terbuka, tetapi manusia sering menutup dirinya sendiri melalui: kesombongan, kebencian, kerakusan, dan kelalaian spiritual. Namun bahkan ketika manusia jatuh dalam dosa sekalipun, pintu rahmat tidak langsung tertutup.

Dalam hadis qudsi disebutkan: “Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah merupakan prinsip dasar hubungan-Nya dengan makhluk.

Tidak ada manusia yang terlalu kotor untuk kembali kepada Tuhan. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada rahmat-Nya selama manusia masih mau kembali dan memperbaiki diri.

Penutup: Tidak Ada Kehidupan di Luar Rahmat Allah Pada akhirnya, konsep rahmat dalam Islam bukan sekadar doktrin teologis. Ia adalah cara memandang kehidupan.

Rahmat Allah bukan hanya sesuatu yang turun dari langit dalam bentuk mukjizat besar. Ia hadir: dalam napas yang masih diberikan, dalam kesempatan memperbaiki diri, dalam hati yang masih mampu menangis, dalam doa yang masih mampu dipanjatkan, bahkan dalam luka yang membuat manusia kembali mengenal Tuhannya.

Mungkin manusia tidak selalu memahami jalan hidupnya. Tidak semua pertanyaan tentang penderitaan dapat dijawab secara tuntas oleh akal. Namun Al-Qur’an memberikan satu fondasi spiritual yang sangat kuat: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”

Artinya, bahkan ketika manusia merasa sendirian, sesungguhnya ia tetap hidup di dalam pelukan rahmat Tuhan yang tidak pernah benar-benar meninggalkannya.

Dan mungkin, seluruh perjalanan hidup manusia pada akhirnya hanyalah proses panjang untuk menyadari satu hal sederhana: bahwa sejak awal, ia tidak pernah hidup di luar rahmat Allah. (*)

Pondok Kelapa, 8 Mei 2026

(Pengantar Diskusi Ba’da Sholat Jumat, 8 Mei 2026 Masjid Baitul Muhajirin – Pondok Kelapa – Jakarta Timur)






 
Top