Dari Jaya Suprana dan Komentar Achmad Charris Zuba


Oleh Narudin Pituin | Penulis, Penerjemah, dan Kritikus Sastra

KETIKA pertama kali saya berjumpa dengan Jaya Suprana di Jaya Suprana Show, hati saya bergetar karena saya tahu nama Jaya Suprana sudah terkenal di mana-mana dan juga ia adalah seorang ahli musik dan kebetulan saja saya gemar mendengarkan musik, bermain gitar, dan menyanyi.

Sosoknya humoristis tetapi tegas, itulah Jaya Suprana. Humor ia peroleh dari Kelirumologi dan ketegasan ia peroleh dari nada-nada musik yang harus tepat agar tidak sumbang.

Di Grup WA Satupena, Jaya Suprana berkata, “Narudin Pituin yang sangat saya kagumi sebagai seorang kelirumolog sastra sejati.”

Kemudian Achmad Charris Zubair berkomentar di bawahnya, “Narudin Pituin pintar, ya? Kemarin saya lihat terjemahan puisi bahasa Arab, terus koreksi bahasa Latin, sekarang bahasa Jerman. Luar biasa.”

Saya harus menerima julukan saya “kelirumolog sastra sejati” dan juga menerima sebutan “pintar, luar biasa” dengan catatan di bawah.

Sesungguhnya sejak tahun 2016 hingga kini 2026 (sekitar 10 tahun), saya telah mendalami teori Dekonstruksi Jacques Derrida dan teori Semiotika Charles Sanders Peirce, Michael Riffaterre, Roman Jakobson, dan Aart van Zoest yang telah saya bahas dalam  buku saya berjudul Sintesemiotik: Teori dan Praktik (2023)—dibedah bukunya di Badan Bahasa akhir tahun 2022 atas rekomendasi Profesor E. Aminudin Aziz, Ph.D. saat judul buku saya itu masih Semiotika Dialektis. Ada beberapa keberatan saya terhadap teori Dekonstruksi Derrida dan para semiotikus di atas.Buku & Sastra

Pertama, teori Dekonstruksi Derrida tidak sampai kepada perbedaan “paradoks” dan “kontradiksi”. Derrida mengotot membahas kontradiksi sebagai oposisi biner atau aporia belaka. Saya mengembangkan paradoks dalam Semiotika saya.

Kedua, Semiotika Peirce belum dipraktikkan secara lebih detail bagi saya. Semiotika Riffaterre memiliki kelemahan tertentu dalam hal pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Semiotika Jakobson harus banyak dipraktikkan dalam karya sastra, terutama puisi. Semiotika Zoest harus banyak dipraktikkan dalam karya sastra, untuk menulis karya sastra dan untuk mengkaji karya sastra, tidak hanya puisi, tetapi juga prosa dan drama.

Kemudian, tentang kompetensi bahasa, telah saya terjemah 20 buku puisi ke dalam bahasa Inggris dan 5 buku puisi ke dalam bahasa Indonesia yang sebelumnya telah saya perdalam tata bahasa Inggris, Jerman, Arab, dan Indonesia, selain saya bisa berbahasa Sunda, Jawa Cirebon-Indramayu, dan Melayu. Untuk bahasa Latin karena akrab dengan Filsafat, saya perhatikan juga meskipun hanya sekadarnya saja.

Jadi, singkat kata, julukan “kelirumolog sastra sejati” dari Jaya Suprana dan “pintar, luar biasa” dari Achmad Charris Zubair telah terjawab sudah—dan saya akhiri dengan ucapan alhamdulillah sebab segala puji hanya untuk-Nya.

Ini motivasi dari para guru seperti Jaya Suprana dan Achmad Charris Zubair kepada saya khususnya dan kepada generasi baru umumnya agar lebih bagus lagi demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bukankah sudah bertahun-tahun ini bangsa kita “kehilangan kecerdasan”? (*)

9 Mei 2026




 
Top