NAMA Ahmad Riza Patria atau yang akrab disapa Ariza sudah tidak asing lagi di kancah politik nasional. Namun, mungkin belum banyak yang menyadari bahwa di balik ketegasannya, mengalir darah Minangkabau dari sang ibu, Rasyidah, serta darah Banjar dari sang ayah yang merupakan ulama ternama, Amidhan Shaberah.
Titik Awal: Aktivis yang Gigih dan Pantang Menyerah
Ariza mengawali perjalanannya sebagai seorang aktivis organisasi yang sangat militan. Sejak muda, ia sudah menunjukkan bakat kepemimpinan dengan menjadi Ketua OSIS hingga memimpin organisasi pemuda bergengsi seperti KNPI. Namun, jalan menuju puncak karier politiknya tidaklah selalu mulus.
Pada tahun 2012, ia pernah mencoba peruntungan di Pilgub DKI Jakarta melalui jalur perseorangan, namun saat itu ia harus menerima kenyataan pahit dengan perolehan suara yang paling sedikit. Kegagalan tersebut tidak membuatnya surut, justru menjadi pelecut semangat untuk terus mengabdi.
Titik Balik: Menjadi Orang Nomor Dua di Jakarta
Momen titik balik yang sangat signifikan dalam hidupnya terjadi ketika ia berhasil terpilih sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2020. Menggantikan posisi yang ditinggalkan Sandiaga Uno, Ariza membuktikan kemampuannya sebagai pendamping yang solid bagi Anies Baswedan dalam mengelola Ibu Kota.
Kepercayaan yang ia bangun melalui kerja nyata dan integritasnya membawanya menduduki berbagai posisi strategis, termasuk menjadi Anggota DPR RI selama dua periode.
Pengalaman pahit di masa lalu saat sempat tersandung persoalan hukum pun berhasil ia lewati dengan putusan tidak bersalah, yang semakin memperkuat posisinya di panggung politik.
Kondisi Saat Ini
Kini, Ahmad Riza Patria dipercaya oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Dengan latar belakang pendidikan magister dari ITB dan pengalaman organisasi yang luas, ia kini fokus mengawal pembangunan dari pinggiran Indonesia.
Tugas besar menantinya untuk memastikan kemajuan merata hingga ke pelosok desa, termasuk di ranah Minang yang menjadi bagian dari identitasnya.
Kisah perjalanan Ariza mengingatkan kita bahwa kegagalan di masa lalu hanyalah anak tangga menuju keberhasilan yang lebih besar jika kita tetap konsisten dalam pengabdian.
#wkp/ede
