Alex Runggeary | Anggota Satupena
“Tetapi mereka secara etnografi bukanlah bangsa Indonesia”, – Mohammad Hatta
PADA awal persiapan kemerdekaan Indonesia, dalam sidang BPUPKI Juni 1945, Bung Hatta yang pernah dipenjara di Boven Digul Merauke., menolak dengan tegas dan jelas Papua (Nederlands Nieuw Guinea) dimasukkan sebagai bagian Wilayah Negara Indonesia yang sedang dirancang, “Apakah kita sebagai negara yang baru merdeka ini nanti akan mempraktekkan imperialisme dengan mencaplok daerah-daerah baru seperti Papua? Mereka secara etnografi bukanlah bangsa Indonesia !” Mohammad Hatta [1]
Jauh di kemudian hari praktik imperialisme dan kolonialisme oleh Indonesia terhadap wilayah Papua sebagaimana yang dikhawatirkan Bung Hatta itu benar-benar menjadi kenyataan.
Daerah Merauke hutannya dibabat habis untuk PSN yang menyisahkan masyarakat Adat telah kehilangan tanah milik mereka yang telah berabad-abad lamanya diwariskan secara turun temurun sebelum negara Indonesia lahir
Tetapi mengapa Merauke ?
Ketika Papua Merdeka sejak 1 Desember 1961, kemudian dibatalkan oleh Amerika dan diberikan kepada Indonesia sesuai New York Agreement 15 Agustus 1962 dan penyerahan adminsistrasi pemerintahan sementara PBB UNTEA kepada Indonesia 1 Mei 1963, semua daerah atau kota di Irian Barat melakukan pemberontakan terhadap Indonesia, kecuali daerah Merauke yang adem ayem. Padahal daerah itu berbatasan langsung dengan negara tetangga yang bisa menjadi basis perdagangan senjata untuk melakukan pemberontakan.
Namun pada kenyataannya Merauke dikenal sebagai daerah paling aman dalam konteks perjuangan Papua Merdeka. Kondisi ini mungkin saja disebabkan oleh interaksi daerah ini dengan dunia luar.
Bung Hatta bapak pejuang kemerdekaan Imdonesia dibuang ke daerah sungai Digul pedalaman atau hulu sungai yang dalam bahasa Belanda menjadi Boven Digul. Pastilah dalam kondisi tertentu pengaruh orang asing di daerah itu turut serta mempengaruhi cara pandang mereka
Seperti pengaruh dr. Sam Ratulangie yang dibuang ke Serui membikin daerah ini menjadi pusat perjuangan Republik. Hanya saja secara bersamaan Serui juga menjadi pusat Perjuangan Papua Merdeka [2]
Kedatangan atau penempatan transmigran dari Jawa di daerah Kumbe Merauke membuka cakrawala peradaban baru paling tidak dalam hal kesadaran masyarakatnya bahwa selain mereka ternyata orang lain di daerah lain juga ada ada. Apalagi mereka melihat bagaimana kehidupan petani mengolah sawah. Aneh tapi nyata. Di sana dikenal suku baru. JaMer Jawa Merauke
Selain daerah Merauke yang datar dan luas. Menyimpan kekayaan sekaligus rahasia alam yang tak terjangkau pikiran manusia. Di sana tak nampak gunung seperti wilayah lain di Papua. Memiliki iklim enam bulan panas dan enam bulan hujan sangat mirip dengan Australia Utara
Teman – temanku di Universitas Cenderawasih 1970an seperti Primus Katokdoan, Daniel Kanath, dan kakak angkatan asal Merauke, Piet Awangkok, Banggo, George Ayumi dll semuanya tipe orang-orang kalem.
Ketika pemerintah berniat membuka kebun Sawit dan Tebu di Papua, pilihan paling mudah adalah daerah ini. Wilayahnya datar dan luas mempermudah penggundulan hutan dengan 2000 Eksavator dari Haji Isam sebagai bagian balas budi politik, maka hancurlah kehidupan masyarakat Adat setempat
Tidak ada belas kasihan, tidak ada Study atau Kajian Kelayakan yang biasanya ada pertimbangan masyarakat setempat bagaimana mereka mendapatkan manfaat dari proyek seperti ini
Bank Dunia, UNDP, GTZ dan badan-badan pembangunan internasional menggunakan hukum ysng sama, menempatkan masyarakat setempat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari apapun jenis proyek-proyek seperti PSN Merauke ini
Lalu kenapa kita bebal terhadap ilmu pengetahuan dan praktek-praktek manusiawi yang teruji baik demi kemanusiaan dalam menjalankan pembangunan tanpa kajian? Pada akhirnya kita mempraktekkan kolonialisme terhadap warga negara sendiri [3]
Warga negara dari daerah Merauke yang paling setia dengan NKRI yang akan menderita turun temurun karena hutan mereka sudah rata dengan tanah.
Pengorbanan yang tak setara sepanjang masa, sepanjang sejarah kemanusiaan
Andai saja kemarin-kemarin Papua tidak dimasukkan sebagai bagian wilayah Indonesia sebagaimana maksud Bung Hatta pada sidang BPUPKI Juni 1945 itu, manusia Papua mungkin saja terbebas dari penderitaan hanya karena tidak berperi-kemanusiaan dari pelaku pembangunan. Mungkin !
Ref.
[1] Negara Paripurna, Dr. Yudi Latif
[2] The Darkened Valkey, Alex Runggeary
[3] Pesta Babi, Filem Dokumenter, Dandhy Laksono
‐———————–
26 Mei 2026


