INDONESIA adalah negara dengan tingkat kemajemukan yang luar biasa tinggi. Menjaga agar ratusan suku dan berbagai agama di dalamnya tetap rukun bukanlah perkara mudah. Di balik kokohnya fondasi kerukunan yang kita nikmati hari ini, ada nama seorang tokoh besar yang melintasi batas tradisi demi mencari formula kedamaian.

Adalah Prof. Dr. K.H. Abdul Mukti Ali, Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) pada Kabinet Pembangunan II (1971–1978). Kisah hidupnya adalah bukti nyata bahwa kombinasi antara ketajaman ilmu Barat dan keteguhan iman pesantren bisa melahirkan solusi besar bagi bangsa.

Santri Tulen yang Mendobrak Batas

Lahir di Cepu, Blora, pada tahun 1923, Mukti Ali adalah seorang santri tulen. Ia menghabiskan masa mudanya dengan berkelana dari satu pesantren ke pesantren besar lainnya, termasuk Pondok Pesantren Termas di Pacitan dan Pesantren Hidayah di Lasem. Di bawah asuhan para kyai kharismatik, ia melahap habis kitab-kitab klasik (kitab kuning) dan berteman akrab dengan tokoh-tokoh besar NU seperti K.H. Ali Ma'sum.

Namun, Mukti Ali tidak lekas berpuas diri. Setelah menempuh studi di Yogyakarta dan Pakistan, ia mengambil langkah yang sangat berani dan tidak biasa pada zamannya: terbang ke McGill University di Montreal, Kanada, untuk mengambil spesialisasi Ilmu Perbandingan Agama (Comparative Religion).

Langkah ini sempat memicu kontroversi dan penentangan. Bagi sebagian kalangan saat itu, belajar agama Islam ke negara Barat dianggap tabu dan mengkhawatirkan. Namun, Mukti Ali membuktikan bahwa iman yang kokoh tidak akan luntur hanya karena menuntut ilmu di negeri orang.

"Setuju dalam Perbedaan": Formula Penyelamat Kerukunan

Sekembalinya ke tanah air, kepakaran Mukti Ali dalam perbandingan agama justru menjadi oase yang sangat dibutuhkan Indonesia. Ketika ditunjuk oleh Presiden Soeharto untuk memimpin Kementerian Agama, ia dihadapkan pada tantangan besar berupa potensi gesekan antarumat beragama di awal era Orde Baru.


Di sinilah Mukti Ali meluncurkan konsep legendarisnya yang mengubah wajah toleransi Indonesia: "Setuju dalam Perbedaan" (Agree in Disagreement).

Prinsip ini sangat genius dan membumi. Mukti Ali menegaskan bahwa untuk hidup rukun, setiap pemeluk agama tidak perlu mengorbankan atau mencampuradukkan akidah dan teologi mereka (sinkretisme). Toleransi yang sejati bukan berarti menganggap semua agama itu sama, melainkan:

Saling menghormati eksistensi dan keyakinan masing-masing.

Setuju untuk tidak sepakat dalam hal akidah, tetapi setuju untuk bekerja sama dalam membangun bangsa.

Warisan Abadi Sang Begawan Toleransi

Lewat pendekatan yang ilmiah namun tetap santun dan berbasis nilai-nilai agama, Mukti Ali berhasil meletakkan kerangka dialog antarumat beragama yang bertahan hingga hari ini. Ia membuktikan bahwa ilmu yang ia timba dari Barat tidak membuatnya sekuler, melainkan menjadikannya lebih bijaksana dalam melihat perbedaan di tanah airnya.

Hingga wafatnya pada 5 Mei 2004, Prof. Mukti Ali dihormati sebagai raksasa intelektual yang berhasil menjembatani dunia modern dengan ketulusan tradisi pesantren. Lewat warisan pemikirannya, kita belajar bahwa berbeda itu mutlak, tetapi rukun adalah pilihan yang harus diperjuangkan.

#wkp/bin






 
Top