PANGGUNG sejarah politik Indonesia mencatat Muhammad Taufiq Kiemas sebagai salah satu tokoh bangsa yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menjembatani berbagai kepentingan politik. Politikus senior dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini diakui secara luas atas jasa-jasanya memimpin lembaga tinggi negara sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dari 1 Oktober 2009 hingga akhir hayatnya pada Juni 2013.

Selain kepemimpinannya di parlemen, ia juga mengukir sejarah unik di ranah domestik kepresidenan. Sebagai suami dari Presiden Indonesia kelima, Megawati Soekarnoputri, Taufiq Kiemas merupakan pria pertama yang secara resmi menyandang gelar Bapak Negara Indonesia saat istrinya memimpin negara pada kurun waktu 2001 hingga 2004. Di balik puncak kejayaannya di tingkat nasional, perjalanan hidup Taufiq dimulai dari dinamika keluarga yang kuat dan penuh dengan tempaan getir.

Awal Kehidupan dan Latar Belakang: Garis Keturunan Minang dan Perbedaan Pandangan dengan Ayah

Lahir di Gang Abu, kawasan Harmoni, Jakarta Pusat pada tanggal 31 Desember 1942, Taufiq merupakan putra sulung dari pasangan Tjik Agus Kiemas dan Hamzathoen Roesyda. Garis keturunan ibunya mengalir kuat dari Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang membuat Taufiq mewarisi darah Minangkabau asli. Di kemudian hari, oleh kaum ibunya di ranah Minang, ia dianugerahi gelar adat kehormatan yang sah sebagai Datuk Basa Batuah.

Masa kecil Taufiq diwarnai oleh perpindahan kota akibat tugas ayahnya yang merupakan seorang perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) lulusan pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) Bogor. Dari Jakarta, mereka sempat ikut berpindah ke Yogyakarta pada masa revolusi, sebelum akhirnya kembali ke ibu kota dan berlanjut menetap di Palembang, Sumatera Selatan.

Meskipun ayahnya yang asli "Wong Kito Galo" atau Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) adalah seorang pendukung militan Partai Masyumi (sebuah organisasi politik Islam), Taufiq justru tumbuh menjadi seorang pengagum berat gagasan-gagasan Soekarno melalui pidato di radio dan literatur buku yang dibacanya. Ketertarikan pemikiran ini menuntunnya mengambil langkah berani sewaktu berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, dengan memilih bergabung ke dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Keputusan ini sempat melahirkan benturan serta pertentangan keras dari ayahnya yang sangat menginginkan putra sulungnya aktif di organisasi mahasiswa Islam. Namun, lewat jalan GMNI inilah, ia mulai membangun jaringan luas dan bersahabat erat dengan Guntur Soekarnoputra.

Titik Rendah: Menjadi Tahanan Politik dan Diskriminasi Orde Baru

Badai kehidupan yang paling berat datang menghampiri menyusul meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Sebagai seorang loyalis dan pengagum pemikiran Soekarno, Taufiq Kiemas harus membayar mahal keyakinan politiknya tersebut. Ia menjadi salah satu sasaran pembersihan oleh rezim penguasa yang baru.

Titik terendah dalam hidupnya terjadi ketika ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam jeruji besi oleh pemerintahan Orde Baru. Taufiq harus mendekam di sel tahanan Markas Corps Polisi Militer Palembang, sebelum akhirnya dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer Budi Utomo di Jakarta.

Penderitaan politiknya tidak berhenti setelah ia menghirup udara bebas. Karier politik awal yang ia rintis bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di tahun 1980-an hingga berhasil masuk parlemen pada tahun 1987, kerap kali mengalami pengebirian dan tekanan konstan dari pihak penguasa Orde Baru yang berupaya meredam ruang geraknya.


Titik Balik: Perkawinan dengan Megawati dan Kebangkitan Menuju Puncak Politik

Momen kebebasannya dari penjara menjadi titik balik personal yang sangat penting. Melalui perantara sahabat karibnya, Guntur Soekarnoputra, Taufiq diperkenalkan dengan Megawati Soekarnoputri yang saat itu statusnya telah menjanda karena suaminya wafat. Hubungan tersebut berlanjut ke jenjang pernikahan pada Maret 1973. Pernikahan ini melahirkan seorang putri bernama Puan Maharani, yang kelak meneruskan estafet kepemimpinan politik keluarga.

Tumbangnya rezim Soeharto lewat gerakan Reformasi 1998 menjadi fajar baru bagi kehidupan politik Taufiq Kiemas. Ketika PDIP keluar sebagai pemenang mutlak Pemilu 1999, jalannya di panggung kekuasaan terbuka lebar. Ia kembali sukses mengamankan kursi di DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Selatan (1999–2004) dan dilanjutkan dari dapil Jawa Barat II (2004–2013).

Di dalam struktur internal partai, ayah dari Puan Maharani ini menempati posisi puncak yang sangat dihormati sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP. Kematangan berpolitik dan kemampuannya dalam melakukan manuver serta lobi-lobi lintas partai terdokumentasikan dengan baik oleh para penulis, salah satunya dalam buku karya Derek Manangka yang berjudul Jurus Dan Manuver Politik Taufiq Kiemas: Memang Lidah Tak Bertulang (terbit tahun 2009).

Perjuangan Melawan Sakit hingga Akhir Hayat

Di masa-masa akhir pengabdiannya sebagai Ketua MPR RI, kondisi fisik Taufiq mulai mengalami penurunan akibat gangguan kesehatan kronis pada organ jantung dan ginjal. Perjuangan medisnya tercatat cukup panjang, termasuk tindakan operasi pemasangan alat pacu jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta pada Oktober 2005, yang dilanjutkan dengan operasi penggantian baterai alat pacu tersebut pada Desember 2011.

Taufiq Kiemas akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di usia 70 tahun pada hari Sabtu, 8 Juni 2013, pukul 19.05 waktu setempat, saat sedang menjalani perawatan intensif di Singapore General Hospital, Singapura. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas pengabdiannya kepada negara, jenazahnya disalatkan secara khidmat di hanggar Landasan Udara Halim Perdanakusuma sebelum dimakamkan melalui upacara militer penuh di Blok M 114, Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta, berdampingan dengan makam kedua orang tuanya. Atas segala dedikasinya, ia dianugerahi penghargaan sipil tertinggi berupa Bintang Republik Indonesia Adipradana.

#wkp/nov/ede





 
Top