DI ERA pemimpin sering diingat karena proyek megah, Anas Malik justru dikenang karena ketegasan, jiwa humoris dan kedekatannya dengan rakyat. Mantan Bupati Padang Pariaman dua periode (1980–1990) ini berhasil mengubah wajah kabupaten dari tertinggal menjadi lebih maju, bersih, dan tertib, sambil meninggalkan banyak kisah lucu yang hingga kini masih sering diceritakan warga dengan tawa dan rasa haru.
Anas Malik lahir pada 21 Desember 1929 di Sungai Sariak Malai, Sungai Limau (sekarang Batang Gasan), Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dengan latar belakang militer yang disiplin, ia membawa semangat tegas namun humanis saat memimpin. Prestasinya meliputi pembangunan infrastruktur, pendirian sekolah kejuruan (termasuk Sekolah Pelayaran), penghijauan pantai, serta pemberdayaan nelayan dan generasi muda Pariaman.
Salah satu kisah paling ikonik adalah “perang melawan WC Terpanjang di Asia”. Dulu, pantai Pariaman kerap menjadi tempat buang hajat warga. Anas Malik tidak tinggal diam. Setiap subuh ia blusukan keliling pantai. Begitu melihat ada yang buang hajat, beliau langsung melempar batu ke arahnya sambil berteriak. Orang-orang berhamburan lari sambil menahan malu. Razia ini dilakukan berulang kali hingga masyarakat jera. Pantai yang dulunya kumuh pun bersih dan akhirnya ditanami pohon aru, menjadi kebanggaan daerah. Ia berhasil membersihkan Pariaman dari keberadaan "WC Terpanjang di Asia".
Tak kalah legendaris adalah perjuangan Anas Malik melawan sampah. Setiap pagi naik sepeda keliling kota, ia memantau kebersihan. Jika melihat sampah berserakan, ia turun dan memerintahkan warga membersihkannya di depan mata. Bahkan tak jarang ia meminta sampah dikumpulkan lalu dibakar di tempat. Gerakan K3 (Kebersihan, Keindahan, dan Ketertiban) yang digagasnya menjadi program massal. Ia juga tegas menegur warga yang menjemur pakaian di depan rumah karena dianggap mengganggu keindahan kota.
Di balik ketegasannya, Anas Malik dikenal sangat sederhana dan murah hati. Rumah dinas bupati selalu terbuka 24 jam — pintu tak pernah dikunci. Makanan dan minuman tersedia bagi siapa saja yang datang. Ia sering memborong seluruh dagangan pedagang keliling yang sepi pembeli, lalu membagikannya kepada masyarakat di pendopo. Bahkan setelah pensiun dan sakit, ia tetap peduli, seperti memberi bantuan beras kepada nelayan saat ombak besar.
Kisah Anas Malik mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan soal jabatan atau proyek mewah, melainkan kesederhanaan, keberanian mengubah kebiasaan buruk, dan hati yang benar-benar dekat dengan rakyat. Teladan yang ia tunjukkan tetap relevan di zaman sekarang.
#wkp/ede


