BANDAACEH — Seiring dengan semakin kompleksnya agenda pembangunan nasional, kebutuhan terhadap jasa konsultansi profesional diyakini akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum penting bagi Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) untuk melakukan lompatan besar, tidak hanya sebagai organisasi profesi, tetapi juga sebagai kekuatan strategis yang mampu ikut menentukan arah pembangunan Indonesia.
Optimisme itu disampaikan oleh Satriya Madjid , eks Ketua DPP INKINDO Sulawesi Selatan (Sulsel) kala berbincang dengan awak media di sela Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-11 DPP INKINDO Aceh di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, peluang pasar bagi perusahaan konsultan nasional sesungguhnya masih sangat luas dan bahkan terus berkembang seiring bertambahnya kebutuhan pemerintah terhadap perencanaan, pendampingan, kajian teknis, pengawasan, hingga penguatan tata kelola di berbagai sektor.
Satriya menegaskan, tantangan utama INKINDO ke depan bukan lagi soal kemampuan teknis para anggotanya. Dengan ribuan perusahaan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, kapasitas organisasi dinilai sudah terbukti.
Persoalan yang kini harus dijawab adalah bagaimana kepemimpinan organisasi mampu membuka akses yang lebih luas dan setara bagi seluruh anggota.
“Yang harus dilakukan pemimpin INKINDO ke depan tentu membangun relasi yang setara antara anggota INKINDO dengan pemerintah. Ruang ini yang harus kita buka seluas-luasnya. Sekat-sekat ini yang harus kita buka. Biarkan seluruh anggota bisa mengakses seluruh kementerian,” ujar Satriya.
Bukan Satu Kementerian, Melainkan Semua Kementerian
Menurutnya, selama ini sebagian besar perusahaan konsultan masih terlalu fokus pada kementerian teknis yang selama ini identik dengan proyek-proyek konstruksi, seperti Kementerian Pekerjaan Umum (PU)
Padahal, ruang kerja konsultan saat ini telah berkembang jauh lebih luas dan tersedia hampir di seluruh sektor pemerintahan.
Ia menilai, seorang pemimpin INKINDO di masa depan harus memiliki jejaring yang kuat, kemampuan membaca perubahan, serta keberanian membuka peluang baru di luar zona nyaman organisasi.
Leadership, menurutnya, bukan sekadar mengelola organisasi, tetapi juga menghadirkan ruang-ruang baru yang bisa diakses seluruh anggota.
Satriya Madjid mencontohkan sektor lingkungan hidup sebagai salah satu peluang besar yang selama ini belum digarap optimal. Menurutnya, kebutuhan terhadap perencanaan rehabilitasi kawasan, kajian dampak lingkungan, tata kelola pertambangan, hingga program keberlanjutan akan terus meningkat dan membutuhkan keterlibatan perusahaan konsultan nasional.
Selain itu, sektor koperasi, transmigrasi, pengembangan wilayah, hingga penguatan kelembagaan daerah juga dinilai menyimpan potensi pasar yang sangat besar.
Satriya yang juga sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi (DPOP) INKINDO Sulsel menyebut, banyak kementerian yang selama ini belum tersentuh secara maksimal oleh ekosistem anggota INKINDO, padahal kebutuhan jasa konsultansi di sektor tersebut terus bertambah.
“Kita punya lebih dari 4.000 perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini kekuatan besar. Tinggal bagaimana kepemimpinan ke depan mampu mengonsolidasikan potensi itu, membuka pintu-pintu baru, dan memastikan seluruh anggota memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh. Saya sangat optimis pasar ke depan sangat terbuka bagi INKINDO,” tutur Satriya Madjid.
Tantangan Konsultan Nasional di Era Persaingan Global
Namun di balik peluang besar tersebut, sektor jasa konsultansi Indonesia juga tengah menghadapi berbagai gejolak yang tidak ringan. Menurutnya, persaingan usaha yang semakin ketat membuat banyak perusahaan konsultan nasional harus berhadapan dengan tekanan efisiensi, perang harga, hingga sistem pengadaan yang kerap menempatkan biaya sebagai pertimbangan utama dibanding kualitas dan pengalaman.
Kondisi ini dinilai mulai memengaruhi keberlangsungan perusahaan konsultan menengah dan kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekosistem jasa konsultansi nasional.
Di sisi lain, transformasi digital dan perubahan kebutuhan pasar juga memaksa perusahaan konsultan untuk bergerak jauh lebih adaptif. Kehadiran teknologi berbasis artificial intelligence, Building Information Modeling (BIM), big data, hingga sistem pengawasan digital mulai mengubah pola kerja industri konsultansi.
Ia mengatakan, perusahaan yang tidak mampu bertransformasi dinilai akan tertinggal, sementara kebutuhan terhadap konsultan yang memiliki kompetensi multidisiplin dan mampu membaca isu keberlanjutan semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Fenomena lainnya adalah semakin terbukanya pasar global yang menghadirkan tantangan baru bagi konsultan nasional. Masuknya perusahaan asing, tuntutan standar internasional, hingga kebutuhan sertifikasi kompetensi yang semakin tinggi membuat industri konsultansi Indonesia dituntut naik kelas.
Dalam situasi tersebut, INKINDO dinilai memiliki peran strategis sebagai rumah besar perusahaan konsultan nasional untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan daya saing anggota, sekaligus memastikan perusahaan konsultan Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
#ksm/bin


