ANAS MA'RUF (1922–1980) adalah seorang tokoh intelektual dengan peran ganda yang sangat kuat dalam sejarah Indonesia: sebagai penjaga gawang kebudayaan dan sebagai jurnalis garis depan di masa kemerdekaan. Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, ia mulai mengasah ketajaman penanya dengan menulis puisi sejak zaman pendudukan Jepang. Dedikasinya pada dunia literasi dan organisasi membuatnya dijuluki sebagai "Administrator Kebudayaan".

​Di dunia jurnalistik, Anas Ma'ruf merupakan figur yang sangat aktif. Pada tahun 1945, ia ikut mendirikan surat kabar Berita Indonesia di Jakarta, sebuah media yang krusial di awal kemerdekaan. Kariernya terus berkembang dengan memimpin majalah Nusantara dan menjadi redaktur di berbagai media kebudayaan seperti Arena dan Patriot di Yogyakarta selama masa revolusi. Pengalamannya di meja redaksi membuktikan bahwa ia adalah jurnalis yang mampu menggunakan kata-kata sebagai alat perjuangan bangsa.

Kiprah di Dunia Seni dan Organisasi

​Anas Ma'ruf dikenal sebagai sosok yang pandai menjembatani berbagai kelompok seniman dan budayawan:

​- Tokoh Lesbumi: Pada tahun 1962, ia bergabung dengan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi). Bersama tokoh-tokoh besar seperti Usmar Ismail dan Asrul Sani, ia berperan aktif mengembangkan ekspresi seni yang bernapaskan nilai-nilai Islam di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

- ​Sekretaris BMKN: Ia pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1955–1957), sebuah posisi strategis yang mengukuhkan peran manajerialnya dalam dunia seni nasional.

- Penerjemah Karya Tagore: Anas juga berjasa memperkenalkan karya sastra dunia ke Indonesia melalui terjemahan karya peraih Nobel asal India, Rabindranath Tagore, seperti Gitanyali dan Citra.

​Anas Ma'ruf wafat pada 17 Agustus 1980, tepat pada hari peringatan kemerdekaan Indonesia. Melalui karya-karyanya yang puitis dan kerja organisasinya yang rapi, ia meninggalkan warisan penting tentang bagaimana seni dan budaya harus dikelola dengan integritas. 

Meskipun sering menggunakan nama samaran Lela Astra AM., jejak pengabdiannya dalam memajukan kebudayaan Indonesia tetap nyata dan tidak terlupakan.

wkp/bin




 
Top