NAWAWI gelar Soetan Makmoer, atau yang lebih akrab dipanggil Engku Nawawi, adalah seorang tokoh pendidikan Minangkabau yang sangat berpengaruh pada akhir abad ke-19. Lahir di Padang Panjang pada tahun 1859, ia mendedikasikan hidupnya sebagai guru di Kweekschool (Sekolah Raja) Fort de Kock, Bukittinggi. Beliau dikenal sebagai salah satu pribumi pertama yang memiliki ijazah guru tinggi (hulpacte) setelah menempuh ujian di Batavia pada tahun 1882.

Salah satu kontribusi sejarah terbesar Engku Nawawi adalah perannya dalam dunia literasi dan bahasa. Pada tahun 1896, beliau bersama Charles Adriaan van Ophuijsen dan Moehammad Taib Sutan Ibrahim menyusun Ejaan van Ophuijsen. Ejaan ini menjadi standar resmi bahasa Melayu di Hindia Belanda dan merupakan fondasi awal bagi perkembangan bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini. 

Selama 33 tahun mengajar di Sekolah Raja, Engku Nawawi tidak hanya mendidik calon guru, tetapi juga aktif menulis dan menerjemahkan buku-buku penting ke dalam bahasa Melayu.

Engku Nawawi juga dikenal sebagai sosok yang sangat progresif dalam hal pendidikan keluarga. Ia adalah ayah dari Syarifah Nawawi, perempuan Minangkabau pertama yang mendapatkan pendidikan ala Eropa. Semangatnya dalam membela kemajuan pendidikan negeri terlihat dari keaktifannya sebagai anggota komisi sekolah Belanda di Bukittinggi (Lid Schoolcommissie), memastikan bahwa akses ilmu pengetahuan terus berkembang di tanah kelahirannya.

Atas jasa-jasanya yang luar biasa di bidang pendidikan, Engku Nawawi menerima berbagai penghargaan prestisius dari pemerintah Hindia Belanda, mulai dari Bintang Perak hingga Bintang Oranje Nassau dari Ratu Wilhelmina. 

Nawawi Soetan Makmur wafat pada 11 November 1928 di Bukittinggi, meninggalkan warisan intelektual berupa sistem ejaan yang mempersatukan komunikasi bangsa dan semangat pendidikan yang melampaui zamannya.

#wkp/bin






 
Top