Drs. Makmur, M.Ag | Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Provinsi Lampung
SETELAH sekian lama menanti, Nabi Ibrahim as akhirnya dianugerahi seorang putra dari Siti Hajar, yang diberi nama Ismail. Kehadiran Ismail adalah kebahagiaan yang lama dinantikan. Namun kebahagiaan itu segera diuji oleh perintah Allah yang tidak mudah dijalankan oleh hati seorang ayah.
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Siti Hajar dan bayi Ismail ke sebuah lembah yang jauh, asing, dan tandus, lembah yang tidak berpenghuni, tidak ada air, dan tidak ada kehidupan. Lembah itu kelak dikenal sebagai Makkah.
Dengan penuh kepatuhan, Ibrahim menjalankan perintah itu. Ia menempatkan Hajar dan Ismail di sana, hanya dengan bekal yang sangat terbatas. Setelah itu, ia berbalik hendak kembali ke negeri Syam.
Melihat Ibrahim pergi, Siti Hajar pun berlari mengejarnya. Dengan suara yang penuh kegelisahan, ia memegang pakaian suaminya seraya berkata, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau tega meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada apa-apa ini?”
Ia mengulang pertanyaan itu berkali-kali. Namun Ibrahim tidak menoleh, karena jika ia menoleh, mungkin hatinya akan goyah. Akhirnya, dengan nada yang lebih dalam, Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”
Ibrahim menjawab singkat, “Ya.” Seketika itu, kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Dengan keyakinan penuh, Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Inilah kalimat tauhid yang hidup—bukan sekadar diucapkan, tetapi benar-benar diyakini. Hajar pun kembali, sementara Ibrahim melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di tempat yang sudah tidak terlihat oleh keluarganya, Ibrahim berhenti, menghadap ke arah Baitullah, dan berdoa dengan penuh harap:
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Hari demi hari berlalu. Bekal yang sedikit itu pun habis. Rasa lapar dan haus mulai mencekik. Tangisan bayi Ismail pecah, bukan tangisan biasa, tetapi tangisan seorang bayi yang kehausan. Air susu ibunya pun telah kering.
Melihat anaknya meronta, hati Hajar hancur. Namun ia tidak menyerah. Ia berlari menuju bukit Shafa, berdiri di sana, memandang ke seluruh penjuru dengan harapan ada seseorang yang bisa menolong. Namun tidak ada siapa pun.Islam
Ia turun, lalu berlari menuju bukit Marwah. Ia melihat lagi, tetap tidak ada. Ia kembali lagi ke Shafa. Lalu ke Marwah. Bolak-balik, penuh harap, penuh cemas. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi tujuh kali. Itulah ikhtiar seorang ibu. Ikhtiar yang lahir dari cinta dan iman.
Ketika ia kembali ke tempat Ismail, sebuah keajaiban terjadi. Dari dekat kaki bayi Ismail, tiba-tiba memancar air. Malaikat Jibril as menghentakkan sayapnya, memunculkan mata air dari tanah yang kering.
Air itu mengalir. Hajar pun bergegas mendekat, menampung dan menahan air itu sambil berkata: “Zam-zam! Zam-zam!” (Berkumpullah… berkumpullah…)
Sejak saat itu, air itu dikenal dengan nama Zam-zam, air yang terus mengalir, tak pernah kering, menjadi sumber kehidupan di tanah yang sebelumnya mati.
Dari setetes air itulah, sejarah besar bermula. Lembah tandus itu berubah menjadi tempat yang hidup. Orang-orang mulai datang. Peradaban tumbuh. Dan kelak, di sanalah berdiri kota suci Makkah, pusat ibadah umat Islam hingga akhir zaman.
Peristiwa agung ini kemudian diabadikan dalam ibadah haji. Apa yang dilakukan Siti Hajar menjadi syariat yang dijalankan oleh jutaan kaum muslimin.
Rasulullah saw bersabda: “Dari sinilah manusia melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah.” (HR. Bukhari) Dalam riwayat lain: “Lakukanlah sa’i, karena Allah telah mewajibkannya atas kalian.” (HR. Ahmad, hasan) Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…”
(QS. Al-Baqarah: 158)
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bukan hanya fragmen sejarah yang dibaca untuk dikenang, tetapi cermin kehidupan, tentang bagaimana iman diuji, bagaimana harapan dipertahankan, dan bagaimana pertolongan Allah datang pada saat yang paling genting.
Di balik kisah ini, kita melihat betapa beratnya ujian yang dipikul oleh Nabi Ibrahim as. Seorang ayah yang sekian lama menanti kehadiran anak, justru harus rela berpisah ketika kebahagiaan itu baru saja ia rasakan. Bukan sekadar berpisah, tetapi meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang, dalam pandangan manusia, sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Tidak ada air. Tidak ada manusia. Tidak ada harapan, jika dilihat dengan mata lahir.
Namun di situlah letak ujian kepatuhan. Ibrahim tidak membantah. Ia tidak menawar. Ia tidak menunda. Karena bagi seorang hamba sejati, ketika Allah memerintah, maka taat adalah satu-satunya jawaban.
Dan yang lebih menggetarkan, ujian itu tidak hanya milik Ibrahim. Siti Hajar pun mengalaminya. Sebagai seorang ibu, nalurinya menolak untuk ditinggalkan. Itu sangat manusiawi. Ia bertanya, ia gelisah, ia mengejar. Tetapi ketika ia tahu bahwa semua ini adalah perintah Allah, maka sikapnya berubah total.
Dari cemas menjadi tenang. Dari ragu menjadi yakin. Dari takut menjadi tawakal. Ucapan Hajar, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami,” adalah pelajaran tauhid yang hidup. Keyakinan itu bukan teori, tetapi kekuatan yang menenangkan jiwa di tengah badai ujian.
Di sinilah kita belajar, bahwa ketika hidup terasa sempit dan jalan terasa buntu, yang pertama harus diperbaiki adalah keyakinan kita kepada Allah. Karena Allah sendiri telah berjanji:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3)
Namun kisah ini juga mengajarkan satu hal penting: tawakal bukan berarti diam. Siti Hajar yakin Allah akan menolong. Tapi keyakinan itu tidak membuatnya berpangku tangan. Ia tetap berikhtiar. Ia berlari. Ia mencari. Ia berusaha dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Dari Shafa ke Marwah. Dari Marwah ke Shafa. Berulang-ulang, tanpa lelah. Tujuh kali. Itu bukan sekadar gerakan, tetapi simbol kesungguhan. Simbol bahwa harapan harus diperjuangkan, bukan hanya didoakan.Islam
Allah pun menegaskan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Apa yang dilakukan Hajar adalah pelajaran tentang keteguhan dalam berikhtiar. Ia tidak tahu di mana pertolongan itu akan datang. Ia tidak tahu kapan solusi itu akan muncul. Tapi ia yakin satu hal: selama masih bisa bergerak, maka harus terus berusaha.
Dan justru di saat usaha itu mencapai puncaknya, di saat tenaga hampir habis, di saat harapan seakan menipis, pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak pernah terbayangkan. Air itu tidak muncul di bukit Shafa. Tidak pula di Marwah. Tetapi muncul di dekat kaki Ismail, di tempat yang mungkin tidak pernah disangka oleh Hajar.
Di sinilah pelajaran besar itu menjadi nyata: bahwa pertolongan Allah seringkali datang bukan dari arah yang kita duga, tetapi dari arah yang Allah kehendaki.
Karena itu, kunci untuk meraih kehidupan yang penuh berkah bukan hanya satu, tetapi rangkaian yang saling menguatkan: teguhkan iman, luruskan niat, ikhlaskan hati dan maksimalkan ikhtiar.
Jika ingin hidup berubah, jangan hanya berharap. Jika ingin hasil, jangan hanya menunggu. Bergeraklah. Bahkan jika perlu, berlarilah. Seperti Siti Hajar—yang tidak sekadar berjalan, tetapi berlari-lari dalam mengejar harapan. Bahkan bukan satu kali ia berlari tapi sampai tujuh kali ia melakukaknnya.
Dan dari lari kecil seorang ibu di tengah padang tandus itulah, lahir sebuah mata air yang tak pernah kering hingga hari ini. Zam-zam menjadi saksi, bahwa iman yang kuat dan ikhtiar yang sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalan menuju pertolongan Allah. (*)
Wallahu’alam


