Oleh Slamet Samsoerizal | Penulis
If You Want to Be Proud of Yourself, Then Do Thing in Wich You Can Take Pride
Ungkap Karen Horney suatu ketika. Apabila kita meminjam napas renung dari Emha Ainun Najib, maka kalimat sederhana Karen Horney dari Psikoanalis itu tidak lagi sekadar kutipan motivasi yang lewat di linimasa, melainkan semacam cermin yang diam-diam menatap balik ke dalam diri kita.
Ungkapan yang dapat diterjemahkan menjadi: Jika Anda ingin bangga kepada diri sendiri, lakukanlah sesuatu yang dapat membuat Anda merasa bangga
Kita ini sering terlalu sibuk menjadi “seseorang” di hadapan orang lain, sampai lupa menjadi “diri” di hadapan diri sendiri. Kita mengumpulkan pujian seperti orang mengumpulkan recehan, tetapi lupa menghitung apakah hidup kita sendiri pernah kita hargai.
Karen Horney seakan sedang berbisik pelan, “Kalau ingin bangga, ya lakukan sesuatu yang memang pantas dibanggakan.” Tapi kita sering membalik logikanya: ingin bangga dulu, baru mencari-cari apa yang bisa membuat kita terlihat pantas. Maka lahirlah kehidupan yang penuh rekayasa. Kita tersenyum bukan karena bahagia, tetapi karena kamera menyala. Kita bekerja bukan karena panggilan jiwa, tetapi karena takut dianggap gagal. Kita menjadi ramai, tetapi kehilangan isi.
Barangkali masalahnya bukan pada dunia yang terlalu bising, tetapi pada diri kita yang terlalu mudah meminjam ukuran. Kita mengukur hidup dengan meteran milik orang lain.
Kita menilai diri dengan angka-angka yang bahkan tidak kita pahami asal-usulnya. Padahal, kebanggaan itu tidak tumbuh di ruang publik. Ia lahir di ruang sunyi, ketika seseorang tahu bahwa apa yang ia lakukan tidak mengkhianati hatinya sendiri.
Dalam tradisi kita, ada semacam laku batin yang mengajarkan bahwa yang paling penting bukan apa yang tampak, tetapi apa yang tumbuh. Pohon tidak pernah sibuk memamerkan akarnya, tetapi justru di situlah kekuatannya. Manusia modern sebaliknya: sibuk memamerkan daun, tetapi lupa merawat akar. Maka ketika badai datang: kritik, kegagalan, kehilangan, ia tumbang, bukan karena lemah, tetapi karena tidak pernah benar-benar tumbuh.
Horney mungkin tidak berbicara dalam bahasa kearifan lokal kita, tetapi ruh pesannya sangat dekat dengan itu. Ia mengingatkan bahwa manusia punya kecenderungan menciptakan “diri ideal” yang sering kali tidak manusiawi.
Kita ingin sempurna, ingin selalu benar, ingin selalu unggul. Padahal, kesempurnaan itu sering kali hanyalah topeng yang kita pakai untuk menutupi ketakutan. Kita takut dianggap tidak cukup. Kita takut tidak dicintai. Kita takut tidak diakui.
Lalu kita bekerja keras, bukan untuk menjadi lebih baik, tetapi untuk menutupi rasa takut itu. Kita mengejar sesuatu yang bahkan tidak kita yakini. Kita berlari, tetapi tidak tahu ke mana. Kita sampai, tetapi tidak merasa tiba.
Di titik itulah, kalimat Horney menjadi semacam undangan pulang. Pulang ke diri sendiri. Pulang ke kejujuran. Pulang ke hal-hal kecil yang sering kita remehkan.
Menepati janji, misalnya. Itu sederhana, tetapi tidak mudah. Berkata jujur, itu ringan di lidah, tetapi berat di hati. Bertanggung jawab, itu sering kita ucapkan, tetapi jarang kita jalankan.
Padahal, justru di situlah letak kebanggaan yang sejati. Bukan pada seberapa tinggi kita berdiri, tetapi pada seberapa jujur kita berpijak. Bukan pada seberapa banyak orang mengenal kita, tetapi pada seberapa dalam kita mengenal diri sendiri.
Mungkin kita tidak akan menjadi orang terkenal. Mungkin nama kita tidak akan muncul di mana-mana. Tetapi jika setiap hari kita melakukan sesuatu yang bisa kita hormati, maka di dalam diri kita ada semacam ketenangan yang tidak bisa dibeli. Kita tidak perlu berteriak untuk diakui. Kita tidak perlu berdebat untuk merasa benar. Kita cukup hidup, dan itu sudah cukup.
Di zaman yang serba cepat ini, kita sering lupa bahwa hidup bukan lomba. Kita dipaksa berlari, padahal mungkin yang kita butuhkan adalah berjalan. Kita didorong untuk menjadi lebih, padahal mungkin yang kita perlukan adalah menjadi cukup. Cukup jujur, cukup baik, cukup bertanggung jawab.
Karen Horney, pendiri psikologi feminis dengan kalimatnya yang sederhana itu, seperti sedang mengajak kita duduk sejenak. Tidak untuk berhenti selamanya, tetapi untuk bertanya: apakah yang sedang kita lakukan ini benar-benar membuat kita bangga sebagai manusia?
Jika jawabannya tidak, mungkin bukan kita yang kurang, tetapi arah kita yang perlu diperbaiki. Barangkali, di situlah awal dari segala perubahan: ketika kita berhenti mencari kebanggaan di luar, lalu mulai menumbuhkannya dari dalam.
Karen Horney adalah psikoanalis asal Jerman yang lahir pada tahun 1885 dan dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan psikologi modern, khususnya dalam aliran psikoanalisis neo-Freudian. Ia awalnya mengikuti pemikiran Sigmund Freud, tetapi kemudian mengkritik beberapa teorinya, terutama yang dianggap terlalu menekankan faktor biologis dan pandangan yang bias terhadap perempuan.
Horney menekankan bahwa budaya, relasi sosial, dan pengalaman hidup memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Ia juga dikenal sebagai pelopor dalam psikologi feminis karena berani menentang konsep-konsep yang merendahkan peran perempuan dalam teori psikologi klasik.
Pemikiran Horney berfokus pada konflik batin manusia, kecemasan dasar (basic anxiety), serta kebutuhan akan rasa aman dan penerimaan. Dalam karya-karyanya, seperti Neurosis and Human Growth, ia menjelaskan bagaimana individu sering terjebak dalam pencarian kesempurnaan semu demi mendapatkan pengakuan, yang justru dapat menghambat pertumbuhan diri.
Karen Horney memperkenalkan konsep “diri ideal” dan “diri nyata,” serta menekankan pentingnya menjadi diri sendiri secara autentik. Gagasannya tetap relevan hingga kini, terutama dalam konteks kesehatan mental dan pengembangan diri, karena mengajarkan bahwa pertumbuhan psikologis sejati berakar pada keberanian menghadapi diri sendiri dan hidup sesuai nilai pribadi. (*)


