PERISTIWA kelam Gerakan 30 September 1965 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Di tengah kekacauan politik dan ancaman kudeta yang mengguncang ibu kota, muncul sejumlah prajurit muda yang bergerak cepat menyelamatkan negara. Salah satunya adalah Feisal Tanjung, mantan Panglima ABRI (Pangab) Periode 21 Mei 1993 s.d. 20 Februari 1998.

Saat peristiwa G30S/PKI meletus, Feisal Tanjung masih berpangkat Letnan Satu (Lettu) dan menjabat sebagai Komandan Kompi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), satuan elite yang kini dikenal sebagai Kopassus. Meski masih muda, ia memegang peranan penting dalam operasi militer penumpasan gerakan tersebut.

Pada pagi 1 Oktober 1965, situasi Jakarta berada dalam kondisi genting. Sejumlah jenderal Angkatan Darat diculik dan dibunuh, sementara kelompok Gerakan 30 September berusaha menguasai pusat-pusat komunikasi dan pemerintahan. Saat itu, Feisal Tanjung baru saja menerima pengarahan dari Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Operasi penerjunan pasukan untuk misi Dwikora ke Kuching, Malaysia, yang sebelumnya telah dipersiapkan, langsung dibatalkan. Seluruh kekuatan RPKAD diperintahkan fokus menghadapi situasi darurat di Jakarta.

Dalam kondisi penuh ketegangan, Kompi yang dipimpin Feisal Tanjung mendapat tugas penting merebut kembali kantor Radio Republik Indonesia atau RRI. Penguasaan RRI sangat vital karena stasiun radio tersebut menjadi alat utama penyebaran informasi dan propaganda pada masa itu.

Pasukan RPKAD bergerak cepat menuju lokasi. Operasi berlangsung dalam suasana mencekam karena situasi ibu kota belum sepenuhnya terkendali. Namun melalui disiplin dan keberanian prajuritnya, RRI berhasil diamankan kembali sehingga pemerintah dapat memulihkan komunikasi nasional dan menenangkan masyarakat.

Tidak lama setelah operasi perebutan RRI, tugas yang jauh lebih berat menanti Feisal Tanjung dan pasukannya.

Berdasarkan informasi dari saksi yang berhasil melarikan diri, pasukan RPKAD melakukan pencarian terhadap para jenderal yang hilang di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di lokasi itulah mereka menemukan sebuah sumur tua yang telah ditutup dan disamarkan.

Feisal Tanjung kemudian memimpin operasi evakuasi yang menjadi salah satu momen paling memilukan dalam sejarah militer Indonesia.

Pasukannya menggali sumur tersebut hingga akhirnya tercium bau menyengat dari kedalaman. Ketika penggalian dilanjutkan, ditemukan jenazah para perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjadi korban kekejaman G30S/PKI. Proses pengangkatan berlangsung sangat sulit karena sumur sempit, gelap, dan penuh aroma kematian yang menyiksa.

Satu per satu jenazah para Pahlawan Revolusi berhasil diangkat dari dasar sumur maut Lubang Buaya. Momen itu menjadi saksi betapa besar pengorbanan para prajurit dalam mengembalikan kehormatan para jenderal yang gugur demi bangsa dan negara.

Atas keberanian dan keterlibatannya dalam operasi penumpasan G30S/PKI, Feisal Tanjung kemudian dianugerahi tanda jasa Satya Lencana Penegak G30S/PKI.

Perjalanan Feisal Tanjung dalam tragedi 1965 bukan hanya tentang operasi militer, tetapi juga tentang loyalitas, keberanian, dan pengabdian seorang prajurit muda di tengah ancaman runtuhnya negara.

Jenderal TNI (Purn) Feisal Tanjung menghadap Sang Khalik dalam usia 74 tahun karena sakit di Rumah Sakit Siloam Jakarta pada Senin 18 Februari 2013 pukul 06.30 WIB. 


Mantan Pangab itu lahir di Tarutung 17 Juni 1939, meninggalkan seorang isteri DR. Masrowida Lubis serta tiga orang anak yaitu Astrid Tanjung, Yasser Tanjung dan Yusuf Tanjung. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan Upacara Militer dan bertindak selaku Inspektur Upacara kala itu adalah Wakil Presiden RI Budiono.

Jenderal TNI (Purn) Feisal Tanjung merupakan lulusan AMN tahun 1961 dengan pangkat Letnan Dua. Semasa berdinas di militer pernah mengikuti berbagi pendidikan baik di dalam maupun luar negeri antara lain; Suslapa Infanteri tahun 1977, Lemhannas 1982, Sesko di Jerman Barat tahun 1975 dan juga IDMC (International Defence Management Course) di USA tahun 1981.

Semasa hidupnya pria yang fasih bahasa Inggris dan Jerman tersebut pernah menduduki berbagai jabatan strategis, antara lain Dan Brigif Linud 17 (1976), Pangkopur Linud Kostrad (1981), Pangdam VI/Tanjungpura (1985), Danseskoad (1988), Kasum ABRI (1992) dan terakhir Panglima ABRI (1993-1998).

Riwayat penugasan yang pernah dilaksanakan adalah Operasi Masohi RMS (1963), Operasi Trikora (1963), Operasi Dwikora (1965), Operasi G 30 S/PKI (1965), Operasi Wibawa OPM 1967, Team ICCS G IV (1973), dan Operasi Seroja Tim-Tim (1976).

Sedangkan tanda jasa yang diterima dari Pemerintah RI, antara lain Bintang Mahaputra Adi Pradana, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Utama. Selain itu, pria asli Taruntung ini juga menerima berbagai Satya Lencana, antara lain SL Santi Dharma X, SL GOM III (RMS), SL Wira Dharma/Dwikora, SL Satya Dharma/Trikora, SL Penegak G 30 S/PKI, SL GOM IX/Raksasa Dharma, SL Kesetiaan VIII, XVI, XXIV dan XXXII tahun, dan SL Seroja serta SL Dwija Sistha.

#wkp/ede





 
Top