DI TENGAH derasnya arus modernisasi yang sering menggerus nilai-nilai luhur, lahir seorang ulama yang teguh memadukan Islam, adat Minangkabau dan dakwah komprehensif. Buya Mas'ud Abidin (atau Mas'oed Abidin) menjadi teladan hidup yang menginspirasi: dari surau kecil di kampung hingga memimpin dakwah tingkat provinsi, ia membuktikan bahwa ilmu dan keteguhan hati mampu menerangi generasi.
Buya Mas'ud Abidin lahir pada 11 Agustus 1935 di Koto Gadang, Agam (Bukittinggi), Sumatera Barat, pada masa Hindia Belanda. Ia merupakan putra dari pasangan H. Zainal Abidin bin Abdul Jabbar (Imam Mudo Engku Pakieh, ayah) dan Khadijah binti Idris (ibu, suku Piliang). Koto Gadang, nagari yang melahirkan banyak tokoh bangsa, membentuk semangat intelektual dan religiusnya sejak dini.
Pendidikannya dimulai di lingkungan surau tradisional: Surau (Madrasah) Rahmatun Niswan Koto Gadang, Sumatra Thawalib Syekh H. Abdul Mu’in di Lambah, dan Sumatra Thawalib Syekh Ibrahim Musa di Parabek. Ia melanjutkan ke sekolah formal SR Kotogadang, SMP II Negeri Bukittinggi, SMA A/C Negeri Bukittinggi, serta FKIP UNITA Padangsidempuan dan FKIP Medan (1963). Kombinasi pendidikan agama mendalam dan pengetahuan umum ini membekali dirinya untuk dakwah yang holistik.
Perjalanan dakwah Buya Mas'ud penuh dedikasi. Ia aktif menulis puluhan karya, antara lain Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai (1997), Dakwah Awal Abad, Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Suluah Bendang di Minangkabau, Surau Kito, Adat jo Syarak di Minangkabau, hingga Ensiklopedi Minangkabau dan Natsir dan Dakwah Islam di Indonesia. Karya-karyanya memperkuat harmoni antara adat Minangkabau (ABS-SBK: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah) dengan ajaran Islam murni.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (2003–2006) dan Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (2001–2007). Selain itu, ia menjabat Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar, Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Sumbar, dan Ketua Umum Badan Amil Zakat (BAZ) Provinsi Sumbar.
Hingga usia senja (kini 90 tahun), Buya tetap produktif berdakwah, menulis, dan membimbing umat melalui ceramah, blog, serta kegiatan keagamaan.
Buya Mas'ud Abidin memandang kondisi umat Muslim di Sumatera Barat saat ini dengan keprihatinan yang mendalam namun penuh harapan. Ia menekankan bahwa di tengah tantangan globalisasi, digitalisasi, dan pengaruh eksternal yang semakin kompleks, umat Islam Minangkabau harus kembali memperkuat pondasi Adat Basandi Syarak dan menghidupkan kembali peran surau sebagai pusat pendidikan dan pembinaan moral.
Buya mengajak umat untuk menghindari perpecahan, meningkatkan konsolidasi melalui wadah seperti Syarikat Islam, serta fokus pada penguatan ekonomi, pendidikan, dan akhlak generasi muda agar tidak mudah terpecah-belah oleh konspirasi asing atau paham yang menyimpang dari sumber murni Islam dan kearifan lokal.
Kisah Buya Mas'ud Abidin mengajarkan bahwa perjalanan hidup yang penuh ilmu, dakwah, dan pengabdian tak pernah lekang oleh waktu. Dari Koto Gadang hingga membawa cahaya Islam ke Mentawai dan seluruh Minangkabau, beliau adalah bukti nyata bahwa seorang hamba yang ikhlas bisa menjadi penerang bagi bangsanya.
#wkp/zal


