NAMA Sukarni Ilyas atau yang lebih akrab disapa Karni Ilyas, sudah tidak asing lagi di jagat penyiaran Indonesia. Pria bergelar Sutan Bareno yang lahir pada 25 September 1952 ini merupakan salah satu tokoh jurnalisme dan pewarta televisi paling berpengaruh di tanah air. Sepak terjangnya sebagai pemimpin redaksi di berbagai stasiun televisi papan atas seperti SCTV, ANTV, hingga tvOne, telah menempatkannya di jajaran elite insan pers nasional.

Dari Balingka Menuju Panggung Hukum dan Jurnalistik

Lahir di Nagari Balingka, Agam, Sumatera Barat, darah pekerja keras mengalir kuat dalam diri Karni. Ia merupakan putra dari pasangan Ilyas Sutan Nagari dan Syamsinar. Latar belakang keluarganya pun dekat dengan dunia pendidikan dan usaha; sang kakek dari pihak ibu, Datuk Basa, dikenal sebagai pedagang kain besar sekaligus salah satu pendiri Diniyah School Padang Panjang.

Minat Karni pada dunia kepenulisan sudah terasah sejak belia, terbukti saat puisi pertamanya berhasil menembus halaman Harian Haluan ketika ia masih remaja. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di SMP Negeri 5 Padang dan SMEA Negeri 1 Padang (kini SMK Negeri 2 Padang), Karni merantau ke ibu kota.

Sambil meniti karier, ia mendalami ilmu hukum di Universitas Indonesia dan berhasil meraih gelar Sarjana Hukum pada 1984. Dedikasi dan kontribusinya di bidang hukum serta komunikasi kemudian mengantarkannya meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 2013.

Tangan Dingin di Industri Televisi

Karni memulai debut jurnalistiknya sebagai wartawan harian Suara Karya pada tahun 1972, sebelum akhirnya berlabuh ke Majalah Tempo pada 1978 hingga menduduki posisi Redaktur Pelaksana. Ketajaman analisis hukumnya membuat ia dipercaya memimpin Majalah Forum sepanjang periode 1991–1999.

Memasuki milenium baru, Karni tertantang untuk menjajaki dunia penyiaran. Ia mengambil alih komando Liputan 6 SCTV (1999–2005). Di sinilah ia menemukan ritme kerja baru yang memacu adrenalinnya. Menghadapi tekanan tenggat waktu yang ketat, Karni melahirkan jargon legendarisnya: "Kekuatan televisi adalah kecepatan, kecepatan, dan kecepatan." Lewat tangan dinginnya, Liputan 6 sukses bertransformasi menjadi salah satu program berita paling disegani di Indonesia.

Pada tahun 2005, Karni hijrah ke ANTV dan kerap turun langsung ke lapangan sebagai reporter untuk berburu berita eksklusif. Langkah besarnya berlanjut di tahun 2007 saat ia dipercaya membenahi tvOne yang baru saja diambil alih oleh Keluarga Bakrie.


Di tvOne, namanya kian meroket saat memandu Indonesia Lawyers Club (ILC)—sebuah program bincang-bincang hukum dan politik yang menjadi barometer diskusi publik. Atas dedikasi seumur hidupnya di dunia penyiaran, Karni dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement di ajang Panasonic Gobel Awards 2012. Setelah bertahun-tahun menjabat sebagai Pemimpin Redaksi, sejak tahun 2023 Karni kini mengemban amanah baru sebagai Wakil Direktur Utama tvOne.

"Bang One" dan Transformasi ke Era Digital

Kritisme Karni Ilyas juga termanifestasi lewat karakter kartun ikonik bernama Bang One. Lahir pada Maret 2008, karakter karikatur berbaju merah ini merepresentasikan suara rakyat yang lugas dan berani mengkritik kebijakan pemerintah. Bang One bahkan sempat memiliki ruang sendiri lewat program Bang One Show dan hingga kini segmennya masih setia menemani pemirsa di program Kabar Petang serta Apa Kabar Indonesia.

Tak mau tertinggal oleh zaman, Karni membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk beradaptasi dengan era digital. Mengikuti jejak jurnalis senior lainnya, ia meluncurkan kanal YouTube Karni Ilyas Club pada September 2020.

Hingga saat ini, ruang digitalnya berkembang pesat dengan menghadirkan dua kanal utama di YouTube, yaitu Karni Ilyas Club dan Indonesia Lawyers Club (ILC) Reborn versi digital. Kedua kanal ini sukses menarik perhatian netizen dengan menghadirkan berbagai narasumber kelas berat.

Di luar studio, Karni tetap aktif memberikan sumbangsihnya bagi dunia profesi dan kelembagaan negara. Ia tercatat pernah memimpin Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), menjadi Presiden Jakarta Lawyers Club, serta sempat berkontribusi sebagai Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

#wkp/ede/nov





 
Top