BATAM, KEPRI -- Banyak orang menganggap lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus langsung terjun ke dunia kerja. Namun, Rustani Nainggolan menulis ulang takdir itu.

Gadis kelahiran Batam, 14 April 2002 ini menolak tunduk pada stigma. Ia memilih jalan sunyi menjadi seorang ilmuwan.

Berawal dari siswi SMK Negeri 4 Batam, Rustani kini berdiri di koridor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Pada usia 24 tahun, ia menempuh program fast-track Magister sekaligus Doktoral (S2-S3) melalui beasiswa prestisius PMDSU.

Keberanian mendobrak batas membuat anak SMK dari daerah ini melesat menjadi kandidat doktor muda bimbingan ilmuwan top dunia.

Kecintaan Rustani pada sains tidak datang tiba-tiba.

Di jurusan Kimia Analisis SMKN 4 Batam, ia jatuh hati pada atmosfer laboratorium. Bahan bakar utama ambisinya bermula pada tahun 2019.

“Mata dan mindset-ku langsung terbuka lebar melihat kultur riset presisi dan teknologi lingkungan di sana,” kenang Rustani kepada awak media di Batam, Minggu (24/5/2026).

Sepulang dari Jepang, seuntai janji terpatri di benaknya. Ia harus kuliah fast-track dan meriset di level dunia. Didorong guru-gurunya, Rustani melanjutkan kuliah S1 Pendidikan Kimia di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) pada tahun 2021.

Rustani mengaku sempat merasa insecure saat berhadapan dengan mahasiswa dari kampus raksasa Pulau Jawa dalam berbagai kompetisi nasional.

Namun, ia menolak kalah. Di balik koleksi 40 piala Karya Tulis Ilmiah (KTI), tersimpan ribuan jam begadang dan kelelahan fisik.

“Banyak orang hanya melihat pialanya. Mereka tidak tahu rasanya nyesek ketika penilaian juri jauh dari ekspektasi,” ungkapnya jujur.

Kompetisi dari Kepri hingga NTB dan NTT justru mengubah cara berpikirnya. Ia mengamati taktik presentasi dan metode riset lawan.

“Bukan tempat yang menentukan seseorang hebat, tapi orang itu sendirilah yang menentukan seberapa jauh mendobrak batasnya,” tegas Rustani.

Manajemen waktu dan mental baja itu berbuah manis. Ia lulus S1 di UMRAH hanya dalam waktu 3,5 tahun pada Maret 2025.

Ia menyapu bersih predikat pemuncak Prodi, pemuncak fakultas, wisudawan terbaik, hingga menyandang gelar mahasiswa berprestasi.


Agustus 2025 menjadi babak baru. Rustani lolos beasiswa PMDSU di ITS Surabaya bawah bimbingan langsung Prof. Dra. Ratna Ediati, M.S., Ph.D.

Profesor Ratna masuk dalam daftar World’s Top 2 persen Scientist dari Stanford University dan Elsevier.

Bimbingan ilmuwan kelas dunia memberikan campuran rasa pride sekaligus tekanan luar biasa karena standar riset yang sangat tinggi.

Saat menghadapi ritme fast-track yang padat dan melelahkan, keluarga menjadi sauh yang menahannya dari keputusasaan.

“Setiap mendengar doa orang tua, lelah langsung hilang. Mereka selalu mengingatkan mimpi sudah di depan mata,” tuturnya.

Kehadiran Prof. Ratna yang suportif juga menjadi energi tersendiri yang membuat Rustani terus on fire dan berani bermimpi tinggi.

Perjalanan panjang dari laboratorium SMK di Batam hingga kampus top Surabaya membuktikan bahwa lingkungan tepat mengubah cara berpikir.

Setelah meraih gelar Doktor Muda, gadis ini menargetkan diri menjadi peneliti muda di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Kita bisa memanfaatkan potensi Kepri karena masih banyak hal belum tergali. Aku ingin melahirkan riset berdampak,” tutupnya optimis.

Rustani Nainggolan membuktikan bahwa kerja keras mampu menghancurkan stigma. Dari Batam, ia meracik formula masa depannya sendiri. 

#aza/dtc




 
Top