NAMA Adian Napitupulu sudah sangat melekat di telinga masyarakat dalam kancah politik nasional. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini dikenal luas sebagai seorang politikus yang vokal, berani, serta senantiasa konsisten menunjukkan keberpihakannya pada rakyat kecil.

Saat ini, Adian bertugas di Komisi VII DPR RI yang membidangi sektor Perindustrian, UMKM, Ekonomi Kreatif, Pariwisata dan Sarana Publikasi. Menjabat sebagai legislator sejak tahun 2014, Adian kembali membuktikan taji politiknya dengan sukses mengamankan kursi parlemen untuk periode ketiga melalui Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat V (Kabupaten Bogor) pada Pemilu 2024. Namun, di balik kegarangannya di Senayan, terdapat lembaran masa lalu yang penuh dengan perjuangan keras dan menyentuh hati.

Awal Karier dan Titik Rendah: Duka Masa Remaja hingga Menjadi Korban Represi Pabrik

Lahir di Manado pada tanggal 9 January 1971 dengan nama lengkap Adian Yunus Yusak Napitupulu, ia merupakan anak dari pasangan Ishak Parluhutan Napitupulu dan Soeparti Esther. Ayahnya merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kejaksaan Republik Indonesia yang sempat dipercaya menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) di beberapa kota, seperti Kotamobagu (Sulut), Barabai (Kalsel),  dan Kupang (NTT). Akibat penugasan tersebut, Adian kecil harus terbiasa ikut berpindah-pindah kota.

Badai kehidupan menerpa saat Adian baru menginjak usia 10 tahun. Ayahnya berpulang pada tahun 1981 ketika tengah bertugas sebagai staf di Kejaksaan Agung di Jakarta. Kehilangan sosok tulang punggung membuat kehidupan Adian selanjutnya berjalan dalam kesederhanaan di ibu kota.

Jiwa aktivisme Adian tidak dibentuk di dalam ruang kelas yang nyaman, melainkan dari kerasnya aspal jalanan dan dinginnya lantai pabrik. Demi membiayai kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI), Adian rela melakoni berbagai pekerjaan kasar, mulai dari menjadi kondektur bus hingga buruh pabrik.

Titik terendah hidupnya terjadi pada tahun 1991 saat ia bekerja sebagai buruh di kawasan industri Marunda. Kala itu, seorang rekan kerjanya mengalami kecelakaan kerja hingga kehilangan dua jari akibat terpotong gergaji mesin. Namun, pihak manajemen perusahaan hanya memberikan kompensasi yang sangat minim, yakni Rp15.000.

Melihat ketidakadilan yang mencolok tersebut, Adian geram. Ia langsung mengorganisir para buruh lainnya untuk menggelar aksi mogok kerja dan demonstrasi besar-besaran. Akibat perlawanan itu, Adian ditangkap, ditahan di Polres Cakung, mengalami interogasi dengan kekerasan, hingga akhirnya dipecat secara tidak hormat dari pabrik tersebut. Sejak insiden kelam itulah, ia memantapkan tekad bulat untuk menjadi penyambung lidah bagi kaum miskin dan tertindas.

Titik Balik: Aktor Intelektual Reformasi 1998 dan Melangkah ke Parlemen

Sekembalinya ke kampus UKI, Adian melebur sepenuhnya dalam gerakan mahasiswa. Insiden pemecatan di pabrik menjadi titik balik yang melecut semangatnya. Ia bergabung dengan GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) pada 1992 dan mendirikan kelompok diskusi ProDeo. Karena vokal membela hak-hak sipil, termasuk terlibat aksi solidaritas terkait Timor-Timur pada 1995, Adian kembali harus berurusan dengan aparat dan ditangkap.


Ketika badai politik menimpa Megawati Soekarnoputri pada tahun 1996, Adian mengambil langkah berani dengan mendirikan posko Pemuda Mahasiswa Pro Megawati (PPMI)—satu-satunya organisasi non-partai saat itu yang berani terang-terangan menggalang dukungan untuk putri Bung Karno tersebut pasca-peristiwa berdarah 27 Juli 1996 (Kudatuli).

Puncak dedikasi aktivismenya tertulis dalam tinta emas sejarah bangsa pada tahun 1998. Adian mendirikan Komunitas Mahasiswa Se-Jabodetabek bernama Forum Kota (Forkot). Bersama FKSMJ, Forkot yang dipimpin Adian menjadi organisasi mahasiswa pertama yang berani menduduki Gedung DPR/MPR Senayan pada 18 Mei 1998, yang berujung pada mundurnya Presiden Soeharto tiga hari kemudian. Akibat totalitasnya di jalanan, studi S1 Hukum Adian yang dimulai tahun 1991 baru bisa ia rampungkan pada tahun 2007.

Karier Politik: Pertarungan di Dapil Neraka

Usai tumbangnya Orde Baru, Adian tidak berhenti berjuang. Ia mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) untuk mendampingi korban SUTET di Parung, hingga membidani organisasi Bendera (Benteng Demokrasi Rakyat) yang sempat melakukan aksi mogok makan massal demi membela hak buruh pada tahun 2012.

Adian resmi terjun ke politik praktis lewat PDIP. Sempat gagal pada Pemilu 2009, ia akhirnya sukses menembus kursi Senayan pada Pemilu 2014 dari Dapil Jawa Barat V. Pada Pemilu 2019, Dapil Jabar V berubah menjadi "Dapil Neraka" saat Adian harus berhadapan langsung secara elektoral dengan politikus senior Partai Gerindra, Fadli Zon. Dalam pertarungan sengit tersebut, Adian berhasil mengamankan kursinya setelah meraup 80.228 suara.

Ketangguhannya di lapangan sempat diuji ketika ia mengalami serangan jantung dan kolaps dalam penerbangan dinas menuju Palangka Raya pada Desember 2019. Namun, setelah menjalani perawatan intensif, kesehatannya berangsur membaik dan ia kembali aktif di parlemen.

Dedikasinya yang tak goyah membuat masyarakat Kabupaten Bogor kembali menaruh kepercayaan besar kepadanya. Pada Pemilu 2024, Adian Napitupulu kembali sukses mempertahankan kursinya di Senayan, bahkan dengan kenaikan suara yang signifikan mencapai 87.288 suara.

Kini, bersama istrinya Dorothea Eliana Indah Wardani—yang juga sesama mantan aktivis mahasiswa—serta kedua buah hatinya, Achilles dan Aurora, Adian Napitupulu terus melangkah kokoh sebagai salah satu simbol politikus rakyat yang lahir dari rahim perjuangan jalanan sesungguhnya.

#wkp/ede




 
Top