TIDAK banyak yang tahu bahwa cobaan hidup terberat seorang Gamawan Fauzi—yang kelak melesat menjadi Menteri Dalam Negeri RI setelah sempat jadi Gubernur Sumatra Barat —bukanlah tekanan politik ibu kota atau peliknya urusan pemerintahan. Ujian terbesarnya adalah taruhan nyawa selama lima hari mencekam ketika ia dinyatakan hilang di hutan belantara Paninggahan pada Agustus 1998 silam.

Peristiwa dramatis itulah yang selalu ia kenang sebagai titik balik spiritual dan komitmen kepemimpinannya. Di tengah gelapnya rimba yang pekat, nyaris tanpa logistik dan memimpin rombongan lebih dari seratus orang yang tersesat, Gamawan sempat berserah diri dan berjanji kepada Tuhan:

“Jika Tuhan meridai saya selamat, saya akan menjalankan amanah rakyat dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, maka saya berserah diri. Dan keluarga yang saya tinggalkan harus merelakan saya…”

Awal Perjalanan: Misi Mulia Jalan Alternatif yang Berakhir Petaka

Kisah nyata ini bermula pada Selasa, 11 Agustus 1998. Gamawan yang saat itu menjabat sebagai Bupati Solok, memimpin rombongan besar berjumlah 116 orang. Rombongan ini terdiri dari pejabat kabupaten, mahasiswa, pelajar, aparat kepolisian, hingga tokoh masyarakat.

Misi mereka adalah melakukan napak tilas perjuangan dari Paninggahan menuju Lubuk Minturun, Padang Pariaman. Bukan sekadar jalan-jalan, Gamawan turun langsung ke lapangan untuk meninjau kemungkinan pembangunan jalan alternatif dari Danau Singkarak ke Padang.

Jalur baru ini diproyeksikan memangkas jarak hingga 30 kilometer, membuka potensi ekonomi baru, serta membebaskan isolasi masyarakat setempat. Malangnya, meski jalur tersebut sudah disurvei sebelumnya oleh tim pendahulu, tanda-tanda rute yang telah dibuat mendadak hilang tak berbekas akibat lebatnya vegetasi hutan. Di sinilah petaka dimulai. Terjebak di hutan peawan yang juga dijuluki "Bukik Si Bunian".

Hari 1–3: Terjebak di Hutan Perawan, Satu Sendok Pop Mie untuk 116 Nyawa

Memasuki hari kedua, rombongan mulai kehilangan arah total. Gamawan memutuskan mengirim 12 orang tim pembuka jalan untuk mencari tanda survei, namun kelompok tersebut tak pernah kembali dan ikut tersesat.

Rombongan besar terjebak di tengah hutan perawan yang belum pernah tersentuh manusia, dikelilingi ratusan bukit, jurang dalam, dan tebing terjal. Saat malam turun, mereka terpaksa bermalam di punggung bukit tanpa cahaya. Modal mereka hanya enam senter dan lampu botol minyak tanah. Sebagai pemimpin, Gamawan menyembunyikan kecemasannya rapat-rapat demi menjaga mental anggotanya agar tidak histeris.

Memasuki hari ketiga, persediaan makanan habis total. Rasa lapar dan dingin mulai menyerang fisik. Air sungai menjadi satu-satunya penyambung hidup.

Sebuah momen mengharukan terjadi saat fajar tiba, usai seluruh rombongan melaksanakan salat Subuh berjamaah di tepi sungai. Satu-satunya Pop Mie yang tersisa di dalam tas salah satu anggota dimasak dengan air sungai. Makanan instan yang kecil itu kemudian dibagi rata untuk 116 orang—di mana satu orang hanya mendapatkan satu sendok kecil.

Tak hanya itu, sisa bubuk kopi yang ada dituangkan ke dalam sebotol air mineral. Tiap orang hanya kebagian satu tutup botol. Gamawan, dengan jiwa ksatria, memilih meminum giliran terakhir. “Itulah kopi paling nikmat yang pernah saya rasakan,” kenangnya emosional.

Hari 4–5: Isak Tangis Lewat Radio ORARI dan Tembakan Salvo Tim SAR

Pada hari keempat, hujan lebat mengguyur hutan tanpa henti. Rombongan terus berjalan menyusuri aliran sungai—satu-satunya kompas alam yang tersisa. Fisik mereka mulai bertarung dengan batas kemampuan manusia saat harus menyeberangi puluhan sungai beraliran deras, melewati riam, dan lubuk yang dalam.

Di tengah keputusasaan itu, secercah harapan muncul saat sinyal radio ORARI berhasil menangkap frekuensi. Sayup-sayup, Gamawan mendengar suara putrinya yang cemas dari posko luar:

“Pa… Papa gimana keadaannya?”

Mendengar komunikasi singkat itu, isak tangis pecah di tengah rimba. Banyak anggota rombongan yang menitikkan air mata, teringat keluarga di rumah.


Sadar berjalan dengan 116 orang membuat pergerakan sangat lambat, enam orang sukarelawan menawarkan diri memisahkan diri untuk berlari lebih cepat mencari bantuan. Namun, hanya satu orang yang berhasil menembus pinggiran hutan: Bakri. Ia keluar dengan pakaian koyak dan tubuh penuh luka robek akibat duri hutan.

Penduduk kampung yang melihat kondisi Bakri langsung geger dan melapor ke posko darurat. Kabar tersebut langsung direspons oleh Gubernur Sumbar saat itu, Dunidja, yang langsung memimpin operasi pencarian skala besar menggunakan helikopter dan tembakan salvo sebagai penunjuk arah bagi rombongan yang tersesat.

Rombongan akhirnya berhasil dideteksi di sekitar daerah Bukit Gogoan. Pada Sabtu sore, 15 Agustus 1998, bantuan logistik pertama akhirnya berhasil diturunkan. 

Keesokan paginya, Minggu 16 Agustus 1998, seluruh rombongan dievakuasi dengan selamat dan tiba di Posko Kampung Serabutan, Pariaman. Tangis haru, pelukan keluarga, dan sujud syukur menggema seketika.

Refleksi Gamawan: Janji Suci Anti-Korupsi dari Hutan Solok

Pengalaman lolos dari maut di hutan Sumatra itu mengubah total cara pandang hidup Gamawan Fauzi. Baginya, lima hari di dalam hutan adalah ujian kepemimpinan tertinggi, ujian mental, dan pemurnian keimanan.

Janji suci yang ia bisikkan kepada Tuhan di tengah kegelapan rimba terbukti tunai. Setelah selamat dari peristiwa tersebut, rekam jejak Gamawan dikenal lurus. Saat menjabat sebagai Bupati Solok, ia sukses menerapkan sistem pelayanan publik yang bersih hingga dianugerahi penghargaan bergengsi Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) karena keberhasilannya memerangi korupsi.

Hutan Paninggahan tidak hanya menguji fisiknya, tetapi telah melahirkan kembali sosok pemimpin yang berintegritas bagi bangsa.

#wkp/ede/nov





 
Top