PROFESOR Dr. dr. Mohammad Ali Hanafiah gelar Sutan Maharaja adalah seorang tokoh medis dan akademisi terkemuka Indonesia yang lahir pada 11 Juli 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sosoknya bukan sekadar dokter biasa; ia adalah pionir dalam dunia pendidikan farmasi nasional dan tercatat sebagai dekan pertama Perguruan Tinggi Ahli Obat (PTAO), yang merupakan cikal bakal dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat ini.
Perjalanan hidup Ali Hanafiah penuh dengan pengabdian dan keberanian. Lulusan STOVIA tahun 1926 ini telah bertugas di berbagai wilayah Nusantara, mulai dari Solok hingga Tangerang. Dedikasinya teruji saat ia membantu para korban gempa bumi Sumatera Selatan tahun 1933, yang membuahkan penghargaan Bintang Perak Besar dari pemerintah Hindia Belanda. Namun, masa paling kelam sekaligus heroik baginya terjadi saat pendudukan Jepang.
Ia sempat ditangkap dan ditahan selama 105 hari oleh Kempeitai terkait "Peristiwa Doktor Mochtar," sebuah tuduhan sabotase medis yang menelan korban banyak ilmuwan Indonesia.
Pasca-kemerdekaan, peran Ali Hanafiah semakin krusial dalam membangun sistem kesehatan nasional. Sembari memimpin sekolah ahli obat di masa awal yang serba sulit, ia juga diperbantukan di Kementerian Kesehatan. Beliau memegang berbagai posisi strategis, mulai dari Kepala Perbekalan Obat-obatan hingga Kepala Direktorat Farmasi. Visi medisnya bahkan membawa beliau mewakili Indonesia dalam sidang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Belanda pada tahun 1957.
Keluarga Ali Hanafiah juga merupakan keluarga intelektual yang disegani. Ayahnya adalah seorang jaksa, sementara anak-anaknya meniti karier cemerlang sebagai ahli jantung (Asikin Hanafiah) dan pengacara.
Sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa-jasanya di bidang kedokteran dan pengabdiannya kepada masyarakat, namanya kini diabadikan menjadi nama RSUD Ali Hanafiah di Batusangkar, Tanah Datar. Beliau wafat pada 5 Agustus 1980, meninggalkan warisan berupa fondasi ilmu farmasi yang kokoh bagi generasi penerus di Indonesia.
#wkp/ede


