DI TENGAH gempuran tren financial technology (fintech) dan pinjaman online saat ini, anak muda Indonesia perlu menengok kembali lembaran sejarah ekonomi bangsa. Jauh sebelum era digital dimulai, Indonesia sudah memiliki sistem inklusi keuangan pedesaan yang diakui dunia sebagai salah satu yang terbaik.
Aktor utama di balik penyelamatan ekonomi wong cilik tersebut adalah Prof. Dr. Radius Prawiro, S.E. Tokoh begawan ekonomi nasional ini merupakan otak jenius yang melahirkan program Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes) dan Simpanan Pedesaan (Simpedes). Lewat tangan dinginnya, jutaan petani, pedagang pasar, dan pelaku UMKM di pelosok nusantara berhasil terlepas dari jerat lintah darat.
Berikut adalah kisah inspiratif Radius Prawiro, sang arsitek keuangan yang berhasil memodernisasi ekonomi desa.
Mantan Penjual Rokok yang Menembus Rotterdam
Lahir di Yogyakarta pada 29 Juni 1928, Radius tumbuh di tengah keluarga pendidik yang sederhana. Nilai-nilai kerja keras sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil. Pada tahun 1942, saat masih duduk di bangku SMP di tengah situasi pelik pendudukan Jepang, Radius tidak malu untuk melakoni pekerjaan sebagai penjual rokok demi bertahan hidup.
Naluri tangguh dan kecerdasannya kemudian membawa Radius terbang ke Eropa. Ia berhasil menyelesaikan studi ekonominya di Nederlandsche Economische Hogeschool, Rotterdam, Belanda—sebuah kampus elite yang melahirkan banyak pemikir ekonomi dunia. Usai menuntaskan pendidikan di luar negeri, ia kembali ke tanah air dan memperdalam keilmuannya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI).
Revolusi Keuangan Desa: Lahirnya Kupedes dan Simpedes
Karier Radius di sektor moneter terbilang legendaris. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (1966–1973), Menteri Perdagangan, hingga Menteri Keuangan di Kabinet Pembangunan IV (1983–1988).
Saat menjabat sebagai Menteri Keuangan inilah, Radius melihat adanya ketimpangan besar. Akses perbankan saat itu hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan dan korporasi besar, sementara masyarakat desa kesulitan mendapatkan modal usaha dan sering kali menjadi korban rentenir.
Radius kemudian melakukan terobosan berani dengan melakukan reorientasi sistem perbankan nasional melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). Ia merancang dua program utama yang kelak mengubah wajah pedesaan Indonesia:
Kupedes (Kredit Usaha Pedesaan): Solusi modal usaha dengan syarat yang mudah dan fleksibel bagi masyarakat bawah. Program ini memberikan kesempatan bagi pelopor UMKM desa untuk mengembangkan usahanya tanpa agunan yang memberatkan.
Simpedes (Simpanan Pedesaan): Tabungan berhadiah yang dirancang khusus untuk masyarakat desa guna menumbuhkan budaya menabung. Program ini terbukti sukses menghimpun dana masyarakat pedesaan secara masif untuk diputar kembali menjadi modal usaha lokal.
Langkah berani Radius ini tidak hanya menstabilkan moneter nasional, tetapi juga berhasil memandirikan ekonomi pedesaan secara berkelanjutan. Keberhasilan konsep ini bahkan sempat menjadi percontohan bagi banyak negara berkembang lainnya di dunia.
Sisi Humanis: Pencinta Motor Besar dan Fotografi
Di luar ketegangannya merumuskan formula ekonomi makro negara, Radius Prawiro adalah pria yang hangat dan memiliki hobi yang terbilang nyentrik di zamannya. Ia merupakan seorang penggila fotografi dan pencinta motor besar (moge).
Kegemarannya memacu adrenalin di atas motor dimulai sejak ia berkuliah di Belanda. Namun, hobi tersebut terpaksa ia hentikan demi alasan keselamatan protokoler negara saat dirinya ditunjuk menjadi Gubernur Bank Indonesia. Di masa senggangnya, Radius memilih meluangkan waktu berkebun dan merawat tanaman bersama sang istri tercinta, Leonie Supit.
Radius Prawiro mengembuskan nafas terakhirnya pada 26 Mei 2005 akibat penyakit jantung. Warisannya berupa Kupedes dan Simpedes tetap hidup hingga hari ini, menjadi bukti nyata bagi generasi muda bahwa inovasi keuangan yang berpihak pada rakyat kecil mampu menjadi fondasi kokoh yang menyelamatkan ekonomi bangsa.
#wkp/ede/bin


