TANGGAL 20 Mei 2008 menjadi hari berkabung bagi kemajuan tata kota di Indonesia saat Ali Sadikin menghembuskan napas terakhirnya. Sosok legendaris yang akrab disapa Bang Ali ini merupakan perwira tinggi militer kelahiran Sumedang, Jawa Barat, yang melegenda karena keberaniannya merombak Jakarta menjadi kota metropolitan yang modern. Karakter tegas, lugas dan disiplin tanpa kompromi yang melekat pada dirinya justru menjadi modal terbesar ketika ia ditunjuk untuk memimpin ibu kota.

Di balik kesuksesan besarnya dalam mengarsiteki Jakarta, proses penunjukan Ali Sadikin sebagai gubernur dipenuhi oleh drama politik yang tidak biasa. Ia terpilih menduduki kursi nomor satu di Jakarta justru karena dinilai memiliki sifat yang keras kepala.

Awal Karier dan Keraguan Bung Karno Menentukan Pemimpin Jakarta

Kisah ini bermula ketika Presiden Sukarno mengalami kesulitan besar dalam menemukan sosok yang tepat untuk menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Situasi ibu kota yang semrawut pada pertengahan dekade 1960-an menuntut adanya nakhoda yang kuat. Bung Karno kemudian berdiskusi secara mendalam dengan Wakil Perdana Menteri II, Johannes Leimena, untuk menyaring sejumlah nama potensial.

Setelah melalui proses seleksi yang ketat dari tingkat bawah, terjaringlah tiga kandidat jenderal yang dianggap mumpuni. Pada fase awal ini, nama Ali Sadikin sama sekali tidak masuk ke dalam hitungan. Namun, setelah menimbang berbagai aspek strategis, ketiga kandidat utama tersebut justru ditolak mentah-mentah oleh Bung Karno karena dianggap kurang memenuhi kriteria khusus yang ia cari.

Titik Balik: Rekomendasi Leimena dan Label Koppig dari Presiden

Melihat kebuntuan tersebut, Johannes Leimena memahami bahwa Bung Karno sebenarnya memerlukan sosok pemimpin yang tidak hanya tegas, tetapi juga berani mendobrak aturan demi kepentingan publik. Titik balik terjadi ketika Leimena memberanikan diri menyodorkan nama Ali Sadikin, seorang perwira tinggi Korps Komando Angkatan Laut (KKO).

Mendengar nama tersebut, Bung Karno sempat tertegun dan memberikan tanggapan yang spontan. Presiden Sukarno menyebut bahwa Ali Sadikin adalah orang yang koppig—sebuah istilah dalam bahasa Belanda yang berarti keras kepala atau tegar tengkuk. Sifat inilah yang sempat membuat Bung Karno ragu apakah perwira laut tersebut bisa dikendalikan dalam birokrasi pemerintahan.


Namun, di tengah situasi Jakarta yang membutuhkan pembenahan radikal, sifat keras kepala tersebut justru dinilai sebagai sebuah kelebihan. Bung Karno akhirnya luluh dan menyetujui usulan tersebut.

“Namun nyatanya Bung Karno setuju saja dengan seseorang yang dinilai koppig itu, seperti dikemukakannya dalam pidato pelantikan saya itu,” tutur Ali Sadikin kepada Ramadhan K.H. dalam biografinya yang berjudul Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi.

Legasi Ketegasan bagi Semua Generasi

Pilihan Bung Karno terbukti sangat tepat. Sifat koppig atau keras kepala yang awalnya diragukan, bertransformasi menjadi modal utama bagi Ali Sadikin untuk mengeksekusi berbagai kebijakan kontroversial yang ditakuti oleh pemimpin lain, mulai dari penataan transportasi, pembangunan pusat kebudayaan, hingga ketegasan dalam memungut pajak demi modal pembangunan kota.

Kisah perjalanan hidup Ali Sadikin memberikan pelajaran berharga yang inklusif bagi semua kalangan pembaca. Profilnya membuktikan bahwa karakter yang keras, jika ditempatkan pada porsi yang tepat dan dibimbing oleh integritas serta ketulusan untuk membangun daerah, dapat menjadi motor penggerak perubahan sejarah yang diakui lintas generasi.

#wkp/bin/nov




 
Top