NAMA Prof. Dr. Nugroho Notosusanto mungkin lekat dalam ingatan sejarah sebagai sejarawan militer dan menteri di era Orde Baru. Namun, banyak yang belum tahu bahwa di balik seragam tituler Brigadir Jenderal yang disandangnya, ia adalah seorang sastrawan tulen Angkatan 66 yang memiliki kepedulian luar biasa terhadap masa depan generasi muda.

Hanya dalam waktu singkat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1983–1985), Nugroho sukses melahirkan berbagai program revolusioner yang mengubah lanskap pendidikan Indonesia selamanya. Mulai dari membidani Universitas Terbuka (UT) hingga mencanangkan Program Wajib Belajar, dedikasinya melahirkan akses pendidikan yang setara bagi seluruh anak bangsa.

Berikut adalah rekam jejak inspiratif Nugroho Notosusanto, sang arsitek yang meruntuhkan sekat-sekat pembatas dalam dunia pendidikan kita.

Dilema Prajurit Muda dan Kepatuhan pada Orang Tua

Nugroho lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 15 Juli 1930 dari keluarga terpelajar. Ayahnya, R.P. Notosusanto, merupakan seorang ahli hukum Islam terkemuka sekaligus salah satu tokoh pendiri Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sejak usia muda, jiwa nasionalisme Nugroho sudah bergolak. Di masa Revolusi Nasional (1945–1949), ia terjun langsung sebagai anggota Tentara Pelajar (TP) Brigade 17 dan aktif di bagian pengintaian menghadapi agresi militer Belanda.

Usai perang, Nugroho dihadapkan pada dilema besar: melanjutkan karier militer sebagai perwira atau menuruti wasiat sang ayah untuk menempuh jalur akademis. Dengan penuh rasa hormat, ia memilih menuruti ayahnya. Nugroho kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) jurusan Sejarah, lulus pada 1960, dan melanjutkan studinya ke University of London.

Kendati berbelok ke dunia kampus, takdir tetap mendekatkannya pada dunia militer. Kapasitasnya yang mumpuni membuat ia dipercaya memimpin Pusat Sejarah ABRI sejak 1964 hingga dianugerahi pangkat tituler Brigadir Jenderal—pangkat tertinggi yang bisa dicapai warga sipil di dunia militer kala itu.

Sastrawan Produktif Berjiwa Humanis

Sebelum dikenal luas sebagai birokrat, Nugroho adalah penulis cerpen dan esai yang sangat produktif. Karya sastra monumentalnya, seperti kumpulan cerpen Hujan Kepagian dan Tiga Kota, ditulis berdasarkan pengalamannya sendiri saat berada di garis depan pertempuran.

Melalui untaian kata yang jujur dan humanis, ia memotret ketegangan, penderitaan, sekaligus harapan manusia di tengah kecamuk perang. Baginya, sastra adalah cermin untuk merekam kebenaran zaman. Kepeduliannya pada dunia literasi juga dibuktikan lewat inisiasinya menggelar Simposium Sastra FSUI pada 1953, yang kemudian menjadi tradisi tahunan bergengsi di tanah air.

Dua Tahun yang Mengubah Wajah Pendidikan Indonesia

Puncak pengabdian Nugroho terjadi ketika ia dilantik menjadi Rektor Universitas Indonesia, yang kemudian disusul dengan amanah sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1983. Walau awalnya sempat disambut kecemasan oleh kalangan mahasiswa karena latar belakang militer titulernya, Nugroho menjawab keraguan tersebut lewat kerja nyata yang luar biasa kaya ide.


Hanya dalam kurun waktu dua tahun menjabat sebelum akhir hayatnya, ia berhasil mengeksekusi program-program berskala nasional yang menjadi fondasi pendidikan modern Indonesia:

- Membidani Lahirnya Universitas Terbuka (UT): Nugroho menjadi aktor utama di balik berdirinya UT sebagai perguruan tinggi negeri bungsu saat itu. Lewat sistem belajar jarak jauh, UT sukses mendobrak batasan geografis dan ekonomi, memberikan kesempatan kuliah bagi jutaan masyarakat di pelosok daerah.

- Mencetuskan Program Wajib Belajar & Gerakan Orang Tua Asuh: Demi menekan angka putus sekolah, ia mengarsiteki program wajib belajar secara masif serta menggerakkan kepedulian sosial untuk membantu anak-anak kurang mampu agar tetap bisa mengecap bangku sekolah.

- Reformasi Sistem Seleksi (Sipenmaru): Ia merombak kurikulum menengah serta menyusun sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru yang terintegrasi secara nasional.

Nugroho Notosusanto menghembuskan nafas terakhirnya pada 3 Juni 1985 akibat serangan stroke di tengah bulan suci Ramadhan, saat masih aktif mengemban tugas negara. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan meninggalkan warisan berharga yang hingga kini kita nikmati.

Kisah hidupnya adalah inspirasi nyata bagi anak muda—bukti bahwa kepatuhan pada orang tua, ketegasan prinsip, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan mampu melahirkan karya besar yang abadi bagi peradaban bangsa.

#wkp/bin/ede




 
Top