MENCAPAI kursi menteri di era Orde Baru bukanlah perkara mudah, terlebih bagi seorang perempuan. Kebanyakan pejabat kala itu datang dari latar belakang militer atau birokrat karier yang mentereng. Namun, ada satu kisah luar biasa yang mendobrak kebiasaan tersebut. Kisah itu milik Anindyati Sulasikin Murpratomo.
Banyak yang belum tahu bahwa jauh sebelum didaulat menjadi Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Sulasikin mengawali pengabdiannya dari tempat yang sangat bersahaja: sebagai seorang guru Taman Kanak-Kanak (TK). Perjalanan hidupnya adalah bukti nyata bahwa ketekunan, kecintaan pada ilmu, dan konsistensi dalam bergerak bisa mengantarkan siapa saja ke puncak kepemimpinan nasional.
Berikut adalah rekam jejak inspiratif Sulasikin Murpratomo, sang pendidik yang bertransformasi menjadi arsitek emansipasi wanita di Indonesia.
Ketulusan Mengajar dari Ruang Kelas TK dan SD
Sulasikin lahir pada 18 April 1927. Sejak usia muda, ia sudah memiliki panggilan jiwa yang kuat di dunia pendidikan. Langkah awalnya dimulai dengan memasuki Frobel Kweekschool di Jakarta, sebuah sekolah guru yang mengkhususkan diri pada metode pendidikan anak usia dini. Lulus pada tahun 1944, ia langsung terjun menjadi guru TK dan Sekolah Dasar (SD).
Mengajar anak-anak di masa-masa awal kemerdekaan menuntut kesabaran ekstra dan ketulusan hati. Di sinilah karakter kepemimpinan Sulasikin mulai terbentuk. Sambil tetap mengajar, ia terus mengasah intelektualitasnya dengan melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI). Karier keguruannya terus menanjak hingga profesi terakhirnya di dunia pendidikan adalah sebagai guru SMA di Jakarta pada tahun 1956.
Dipercaya Presiden Soeharto Menakhodai Dua Periode Kabinet
Keterlibatannya yang aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dan perhatiannya yang besar terhadap isu-isu sosial-keluarga membuat nama Sulasikin mulai diperhitungkan di tingkat nasional. Kapasitas intelektualnya sebagai lulusan UI serta pembawaannya yang tenang namun tegas membuat Presiden Soeharto kepincut.
Sulasikin akhirnya dipanggil masuk ke dalam jajaran kabinet inti untuk memimpin kementerian yang fokus pada pemberdayaan perempuan. Ia memegang posisi sebagai Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dalam dua periode penting:
Kabinet Pembangunan IV (1987–1988): Masuk di tengah jalan menggantikan menteri sebelumnya, Lasiyah Soetanto.
Kabinet Pembangunan V (1988–1993): Dipercaya penuh memimpin kementerian sejak awal pembentukan kabinet.
Selama menjabat sebagai menteri, Sulasikin menjadi motor penggerak berbagai kebijakan strategis. Ia adalah sosok di balik penguatan program ketahanan keluarga, perluasan akses pendidikan bagi anak-anak perempuan di pelosok, serta peningkatan keterlibatan aktif kaum perempuan dalam roda pembangunan nasional.
Menjadi Negarawan Lintas Zaman di Komisi Politik DPA
Integritas dan rekam jejaknya yang bersih membuat pemikiran Sulasikin tetap dicari, bahkan setelah era Orde Baru runtuh. Memasuki masa Reformasi pada tahun 1999, Dewan Pertimbangan Agung (DPA) secara resmi memilih Sulasikin Murpratomo untuk mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPA sekaligus Ketua Komisi Politik masa bakti 1999–2003.
Posisi ini menjadi penegasan bahwa ia bukan sekadar pejabat pelengkap, melainkan seorang pemikir politik dan negarawan lintas zaman yang sangat dihormati oleh berbagai faksi pemerintahan.
Sulasikin Murpratomo mengembuskan napas terakhirnya pada 23 Januari 2019 dalam usia 91 tahun. Jasadnya boleh tiada, namun warisan pemikirannya tentang emansipasi dan kesetaraan gender tetap hidup hingga hari ini.
Bagi anak muda masa kini, khususnya kaum perempuan, kisah hidup Sulasikin mengirimkan pesan yang sangat kuat: jangan pernah meremehkan awal yang kecil. Karena dari ruang kelas TK yang sederhana sekalipun, sebuah perubahan besar bagi bangsa ini bisa dimulai.
#wkp/bin/ede


