by bambang oeban


MENYAMBUT Hari Jadi Polwan ke-78. 

Mengenang Para Perempuan Polisi Pertama di Indonesia.


Mariana Saanin

Nelly Pauna.

Rosmalina Loekman.

Dahniar Sukotjo.

Djasmainar.

Rosnalia Taher.


I

Satu September.

Jangan hanya kita ingat

sebagai tanggal merah

yang sebentar lagi lewat

lalu tenggelam

di antara kalender,

gaji bulanan,

tagihan listrik,

dan berita politik

yang setiap hari

lebih ramai daripada

pasar malam.


Tanggal

satu September

adalah sebuah jejak.

Jejak enam perempuan

yang pernah berjalan

bukan di atas karpet merah,

menuju panggung hiburan,

mengejar pencitraan,

bukan pula berlomba

menjadi terkenal di

media sosial.

Mereka berjalan menuju

sebuah pintu sejarah.

Pintu yang ketika itu

belum tentu terbuka lebar.

Pintu yang harus diketuk

dengan keberanian.

Pintu yang di baliknya

ada seragam,

disiplin,

tanggung jawab,

bahaya,

ada air mata,

dan ada pertanyaan besar:

Apakah perempuan juga

mampu menjaga negeri?

Sejarah menjawab:

Bukan hanya mampu.

Mereka telah membuktikannya.

Jauh sebelum kata

“kesetaraan”

menjadi bahan seminar

di hotel berbintang.

Jauh sebelum banyak orang

pandai membuat slogan

tentang pemberdayaan

perempuan.

Jauh sebelum kalimat-kalimat

indah dipasang di spanduk

lalu dilipat kembali

setelah acara selesai.

Enam perempuan Indonesia

sudah melangkah.

Diam-diam.

Tegas.

Tanpa banyak gaduh.

Tanpa perlu berkata:

“Lihat kami!”

Karena sejarah

kadang tidak lahir

dari orang yang paling

lantang berbicara.


Sejarah sering lahir

dari orang-orang

yang memilih bekerja

ketika yang lain sibuk

berdebat tentang siapa

yang paling berjasa

yang paling-paling

tak hebat-hebat!


───


Di tanah pusaka

Bukittinggi – Sumatra Barat.

Satu September tahun seribu

sembilan ratus empat

puluh delapan.

Indonesia masih muda.

Republik belum lama belajar

mengeja namanya sendiri.

Kemerdekaan belum

benar-benar duduk

tenang di kursinya.


Di luar sana

masih ada ancaman.

Masih ada perang.

Masih ada kepentingan

yang ingin menarik kembali

bendera Merah Putih

dari tiang kemerdekaan.

Negeri ini seperti bayi

yang baru belajar berjalan.

Kadang jatuh,

berdarah.

menangis.

Tetapi tetap berusaha

berdiri dan tegak.

Dan di tengah masa

yang serba tidak pasti itu,

muncul sebuah kesadaran.

Bahwa negara

tidak mungkin dibangun

hanya oleh satu jenis manusia.

Bahwa menjaga keadilan

tidak cukup hanya dengan

seragam dan senjata.

Ada persoalan

yang membutuhkan

sentuhan lain.


Ada korban perempuan

yang membutuhkan

perempuan untuk

mendampinginya.

Ada anak-anak

yang ketakutan.

Ada saksi

yang malu berbicara.

Ada korban

yang terluka

bukan hanya tubuhnya,

tetapi juga harga dirinya.

Ketika hukum datang

tanpa empati,

hukum bisa terasa

seperti martil.

Padahal,

kadang manusia

yang sedang terluka

tidak membutuhkan ambulan.

Ia membutuhkan tangan

yang mampu mengangkatnya

untuk berdiri.


Di situlah

perempuan dipanggil

masuk ke dalam sejarah

kepolisian.

Bukan sebagai hiasan,

pelengkap penderita,

sekadar agar foto barisan

terlihat lebih berwarna.

Tetapi karena tugas negara

memang membutuhkan

para perempuan!


───


III

Dulu,

saat seorang

perempuan

harus diperiksa,

ketika tubuhnya

harus digeledah

sesuai aturan,

ketika perkara

menyentuh ruang pribadi

yang tidak mudah dibicarakan,

polisi laki-laki

menghadapi persoalan

yang tidak sederhana.

Bukan hanya persoalan fisik.

Tetapi juga persoalan

kehormatan.

Etika.

Hukum.

Dan kemanusiaan.

Dalam keadaan tertentu,

bantuan perempuan

bahkan harus diminta

dari pegawai sipil

atau dari lingkungan

keluarga.


Bayangkan.

Negara sudah merdeka.

Tetapi sistem

masih mencari jalan

untuk menjadi lebih adil.

Dan inilah pelajaran penting

bagi kita hari ini:

Kemerdekaan politik

tidak selalu berarti

semua persoalan langsung selesai.

Setelah bendera dikibarkan,

masih ada pekerjaan.

Setelah lagu kebangsaan

dinyanyikan, masih ada

pekerjaan.


Setelah pidato selesai,

masih ada pekerjaan.

Setelah tepuk tangan senyap,

masih ada pekerjaan rumah.

Kadang bangsa ini terlalu

mudah berbangga-ria.

Padahal,

yang lebih sulit adalah

mengerjakan apa yang

dibanggakan, terkadang

serupa tembang sumbang

terbang melayang.


───


IV

Organisasi perempuan

dan organisasi perempuan Islam

di Bukittinggi melihat masalah itu.

Mereka tidak sekadar

mengeluh di dapur sejarah.

Mereka tidak hanya berkata:

“Beginilah nasib perempuan.”

Mereka mengusulkan,

berpikir,

menawarkan jalan.

Inilah yang sering kita lupakan

dalam kehidupan berbangsa.

Mengkritik itu penting.

Tetapi setelah kritik,

apa?

Menyalahkan, teramat mudah.

Tetapi setelah menyalahkan,

apa?

Membuat meme

tentang masalah negeri

memang bisa mengundang tawa.

Tetapi setelah tertawa,

apa?

Kalau semua orang

hanya menjadi komentator,

siapa yang turun ke lapangan?

Kalau semua orang

merasa paling benar,

siapa yang mau belajar?

Kalau semua orang

sibuk mencari kesalahan,

siapa yang memperbaiki?

Perempuan-perempuan

di masa awal kemerdekaan itu

memberikan satu pelajaran:

Jangan hanya meminta pintu dibuka.

Datanglah membawa alasan

mengapa pintu itu perlu dibuka.

Dan usulan itu didengar.

Kepala Jawatan Kepolisian

Sumatra menyetujui.

Maka sejarah

mulai bergerak.

Pelan.

Tetapi pasti.


───


V

Enam perempuan.

Mari kita sebut

nama mereka.

Bukan agar nama itu

sekadar menjadi bahan kuis

pada peringatan tahunan.

Tetapi agar bangsa ini

belajar menghormati

orang-orang yang berjalan

sebelum jalan itu

menjadi lebar.

Mariana Saanin.

Nelly Pauna.

Rosmalina Loekman.

Dahniar Sukotjo.

Djasmainar.

Rosnalia Taher.

Enam nama.

Enam perempuan.

Enam langkah.

Dan mungkin,

enam doa dari keluarga

yang tidak pernah tercatat

secara lengkap oleh sejarah.

Karena di balik perempuan

yang berangkat menuju tugas,

sering ada seorang ibu

yang diam-diam berdoa.

Ada ayah

yang pura-pura kuat.

Ada keluarga

yang bertanya:

“Apakah jalan ini aman?”

Tetapi keberanian

memang tidak pernah

menjanjikan jalan

yang aman.


Keberanian

hanya berkata:

Ada sesuatu

yang harus dilakukan.

Maka lakukanlah

dengan sebaik-baiknya.


───


VI

Mereka memasuki

Sekolah Polisi Negara

di Bukittinggi.

Enam siswi perempuan.

Bersama empat puluh empat

siswa laki-laki.

Barangkali ada tatapan

yang bertanya-tanya.

Barangkali ada keraguan.

Barangkali ada yang diam-diam

berpikir:

“Apakah mereka sanggup?”

Pertanyaan semacam itu

sebenarnya masih hidup

sampai hari ini.

Bukan hanya kepada perempuan.

Tetapi kepada siapa saja

yang mencoba masuk

ke ruang yang selama ini

dianggap bukan miliknya.

Seorang anak desa

masuk universitas.

“Memangnya mampu?”

Seorang anak miskin

bercita-cita tinggi.

“Jangan mimpi!”

Seorang guru

mengajar dengan idealisme.

“Memangnya bisa hidup

dengan idealisme?”

Seorang pemuda

menolak korupsi.

“Nanti juga berubah.”

Seorang polisi muda

ingin bersih.

“Kita lihat saja

berapa lama bertahan.”

Aneh.

Kita sering meminta

Indonesia menjadi lebih baik.

Tetapi ketika ada orang

yang mencoba menjadi baik,

kita justru

sibuk menyiapkan

taruhan kapan ia jatuh.

Barangkali itulah

salah satu penyakit sosial kita.

Kita terlalu sering

menjadi penonton

yang menunggu kegagalan.

Padahal bangsa yang sehat

adalah bangsa yang

membantu orang baik

agar tidak mudah kalah.


───


VII

Pendidikan kepolisian

bukan panggung mode.

Seragam bukan kostum.

Pangkat bukan hiasan.

Kewenangan bukan

mainan.

Dan hukum

bukan tongkat

untuk memukul siapa saja

yang berbeda pendapat.

Semua itu

harus dipelajari.

Dilaksanakan.

Diuji.

Diperjuangkan.

Karena ketika seseorang

mengenakan seragam negara,

sebenarnya ia sedang membawa

sebagian wajah negara

di pundaknya.

Itulah sebabnya

seorang aparat

tidak boleh lupa:

Rakyat yang dilayaninya

adalah manusia.

Bukan angka statistik.

Bukan objek laporan.

Bukan sekadar

nama dalam berkas.

Seorang korban

adalah manusia.

Seorang tersangka

tetap manusia.

Seorang saksi

tetap manusia.

Seorang polisi

juga manusia.

Dan karena semuanya manusia,

maka hukum harus berjalan

bersama akal sehat,

hati nurani,

aturan.

Tidak boleh hanya salah satunya.

Sebab hati tanpa hukum

bisa menjadi keberpihakan.

Hukum tanpa hati

bisa menjadi

kekejaman.


───


VIII

Tetapi sejarah

tidak selalu berjalan

sesuai jadwal pendidikan.

Akhir tahun seribu sembilan ratus

empat puluh delapan,

perang kembali

mengganggu halaman sekolah.

Agresi Militer Belanda II

membuat perjalanan

pendidikan mereka terhenti.

Sekolah bisa ditutup.

Kelas bisa kosong.

Buku bisa disimpan.

Tetapi perjuangan

tidak selalu berhenti

hanya karena bel sekolah

tidak berbunyi.

Enam perempuan itu

ikut dalam perjuangan

mempertahankan

kemerdekaan.


Di sinilah kita

perlu berhenti sejenak.

Karena hari ini

kita hidup di masa

ketika banyak orang

merasa perjuangan itu

selesai.

Padahal, perjuangan

hanya berganti bentuk.

Dahulu orang berjuang

melawan penjajahan.

Hari ini kita berjuang

melawan kebodohan.

Dahulu orang berjuang

mempertahankan

wilayah.


Hari ini kita harus

mempertahankan akal sehat.

Dahulu orang melawan

kekuatan asing.

Hari ini kita juga harus

melawan korupsi,

kekerasan,

perdagangan manusia,

narkotika,

kejahatan digital,

dan kebiasaan

menganggap ketidakjujuran

sebagai sesuatu yang wajar.

Dahulu musuh datang

dari kejauhan.


Hari ini,

kadang musuh

tinggal di dalam diri.

Namanya:

keserakahan.


───


IX

Perang

mengajarkan satu hal.

Tidak ada yang benar-benar

siap ketika bahaya datang.

Seorang pemberani

bukan manusia

yang tidak pernah takut.

Seorang pemberani

adalah manusia

yang tetap melakukan

yang harus dilakukan,

meskipun rasa takut

ikut berjalan

di belakangnya.

Begitu pula seorang Polwan.

Seragam tidak menghapus

rasa takut.

Seragam tidak membuat

manusia menjadi batu cadas.

Seragam hanya mengingatkan:

Ketika tugas memanggil,

ada kepentingan yang lebih besar

daripada kenyamanan pribadi.

Tetapi di sinilah

kita juga harus jujur.

Jangan jadikan kalimat

“demi tugas”

sebagai alasan

untuk melupakan

kemanusiaan petugas.

Polwan adalah manusia.

Polisi adalah manusia.

Mereka punya keluarga.

Punya anak.

Punya orang tua.

Punya kelelahan.

Punya rasa sedih.

Punya hari-hari

ketika hati ingin pulang

lebih cepat.

Maka masyarakat berhak

menuntut profesionalisme.

Tetapi negara juga berkewajiban

menjamin kesejahteraan,

perlindungan,

pelatihan,

dan sistem yang sehat

bagi mereka yang bertugas.

Karena tidak adil

menuntut pohon

berbuah baik,

sementara akarnya

kita biarkan

kering.


───


X

Setelah

kedaulatan Indonesia pulih,

panggilan itu datang kembali.

Tanggal sembilan belas Juli

tahun seribu sembilan

ratus lima puluh.

Enam perempuan itu

dipanggil untuk melanjutkan

pendidikan kepolisian.


Kali ini di Sekolah

Polisi Negara Sukabumi.

Perjalanan sejarah

yang sempat tertunda

tidak berarti berakhir.

Ini pesan penting

untuk generasi hari ini.

Kalau cita-citamu tertunda,

belum tentu gagal.

Kalau perjalananmu

berhenti sementara,

belum tentu selesai.

Kalau hidup

memaksamu mundur,

belum tentu itu kekalahan.

Kadang hidup hanya berkata:

“Belum waktunya.”

Masalahnya,

manusia modern

terlalu terbiasa

dengan kata “instan”.

Mau sukses instan,

terkenal instan,

kaya instan,

Mau viral instan.

Bahkan mungkin

kalau bisa,

ingin menjadi bijaksana

dengan cara mengunduh

aplikasi.


Sayangnya,

hikmah belum tersedia

di toko daring.

Tidak ada tombol:

“Tambahkan kedewasaan

ke keranjang.”

Tidak ada promo:

“Beli dua pengalaman pahit,

gratis satu kebijaksanaan.”

Hidup tidak bekerja

seperti itu.

Ada luka,

latihan,

kegagalan,

kesabaran,

waktu.

Dan ada kemauan

untuk bangkit.


───


XI

Enam

calon inspektur itu

kembali belajar.

Bayangkan.

Mereka telah melewati

masa perang.

Mereka telah melihat

bahwa kemerdekaan

bukan kalimat

di dalam buku pelajaran.

Kemerdekaan bisa berdarah.

Bisa lapar,

kehilangan,

membuat seseorang

berjalan jauh

tanpa kepastian.

Namun mereka kembali

ke ruang pendidikan.

Mengapa?

Karena perjuangan

tanpa pengetahuan

bisa kehilangan arah.

Keberanian tanpa ilmu

bisa berubah

menjadi kenekatan.

Kekuasaan tanpa pendidikan

bisa berubah

menjadi kesewenang-wenangan.

Dan agama tanpa pemahaman

bisa berubah

menjadi alasan

untuk membenci

sesama.


Karena itu,

pendidikan adalah

salah satu bentuk

pengamanan masa depan.

Guru yang baik

sedang menjaga bangsa.

Orang tua yang mendidik

sedang menjaga bangsa.

Polisi yang memahami hukum

sedang menjaga bangsa.

Ulama yang mengajarkan

kasih sayang sedang

menjaga bangsa.

Seniman yang membangunkan

hati nurani masyarakat

juga sedang menjaga bangsa.

Negara tidak hanya dijaga

di perbatasan.

Negara juga dijaga

di ruang kelas.

Di rumah.

Di pasar.

Di masjid.

Di gereja.

Di pura.

Di vihara.

Di jalan raya.

Dan di dalam

hati manusia.


───


XII

Tanggal satu Mei

tahun seribu sembilan

ratus lima puluh satu.

Enam perempuan itu

resmi lulus.

Mereka menjadi

Inspektur Polisi Wanita

pertama di Indonesia.

Sejarah mencatat.

Tetapi kita jangan berhenti

hanya pada pencatatan.

Sebab nama yang tertulis

di dalam sejarah harus

menjadi cermin bagi

yang hidup hari ini.


Pertanyaannya:

Apa yang kita lakukan

dengan sejarah?

Apakah kita hanya

mengadakan upacara?

Mengucapkan selamat?

Memasang foto?

Membuat spanduk?

Lalu selesai?

Tidak.

Peringatan yang baik

seharusnya membuat

kita bertanya:

Apakah semangat mereka

masih hidup?

Apakah keberanian mereka

masih kita warisi?

Apakah profesi

masih dianggap sebagai

tempat mengabdi,

atau hanya tempat

mengejar kedudukan?

Apakah seragam

masih dimaknai

sebagai amanah,

atau berubah menjadi

alat untuk mencari

keistimewaan?

Pertanyaan ini

tidak hanya untuk polisi.

Pertanyaan ini

untuk semua profesi.

Untuk pejabat.

Guru.

Pengusaha.

Wartawan.

Seniman.

Ulama.

Hakim.

Dokter.

Politikus.

Dan tentu saja,

untuk rakyat biasa.

Karena negara

tidak akan bersih

jika kita hanya menuntut

orang lain bersih.


───


XIII

Tugas utama Polwan

pada masa awal

difokuskan antara lain

pada perkara-perkara

yang melibatkan

perempuan

dan anak-anak.

Di sinilah

kita menemukan

salah satu wajah

terpenting sebuah negara:

Cara negara

memperlakukan

mereka yang lemah.

Sebuah bangsa

tidak cukup diukur

dari gedung pencakar langitnya.

Tidak cukup diukur

dari panjang jalan tolnya.

Tidak cukup diukur

dari kemewahan

pusat belanjanya.


Bangsa yang besar

harus juga diukur

dari caranya melindungi:

anak-anak.

Perempuan.

Lansia.

Penyandang disabilitas.

Orang miskin.

Korban kekerasan.

Mereka yang tidak punya

koneksi kekuasaan.

Mereka yang tidak punya

uang untuk membayar

seribu pintu.

Keadilan akan kehilangan makna

jika hanya mudah didapat

oleh orang yang mampu

membayar jalan

menuju keadilan.


Di sinilah tugas

menjadi sangat berat.

Karena hukum

sering bertemu

dengan kenyataan sosial.

Dan kenyataan sosial

tidak selalu hitam putih.

Ada kemiskinan.

Ada ketakutan.

Ada ketidaktahuan.

Ada trauma.

Ada tekanan keluarga.

Ada budaya diam.

Maka penegak hukum

harus tajam, tetapi tidak

kehilangan rasa.

Tegas, tetapi tidak

mabuk kekuasaan.

Berani,

tetapi tidak

sombong.


───


XIV

Wahai

Polisi Wanita Indonesia,

engkau lahir.bukan dari

pesta kemewahan.

Engkau lahir

di tengah masa

ketika republik

masih mempertahankan

hak untuk berdiri.

Maka jangan biarkan

sejarahmu menjadi kecil

hanya karena zaman

menjadi semakin ramai.

Jangan biarkan

arti seragam

kalah oleh pencitraan.

Sebab kamera

bisa membuat seseorang

terlihat gagah.

Tetapi kamera

tidak selalu mampu

memotret hati.

Media sosial

bisa membuat seseorang

terlihat populer.

Tetapi popularitas

tidak sama

dengan integritas.

Pangkat bisa naik.

Jabatan bisa berubah.

Nama bisa terkenal.

Tetapi pertanyaan

yang akan tetap tinggal adalah:

Ketika engkau memiliki kewenangan,

apakah engkau menggunakannya

untuk melindungi atau untuk

menakut-nakuti?

Itulah ujian.

Karena kekuasaan

bukan hanya mengubah keadaan.

Kekuasaan sering kali

membuka wajah

asli manusia.


───


XV

Dan kepada masyarakat,

jangan pula kita hanya pandai

menuntut polisi sempurna.

Sementara kita sendiri

masih mencari jalan pintas

ketika melanggar aturan.

Lampu merah diterobos.

Kemudian marah

ketika ditilang.

Sampah dibuang

sembarangan.

Kemudian mengeluh

ketika banjir datang.

Pajak ingin dihindari.

Tetapi pelayanan publik

ingin sempurna.

Aturan ingin ditegakkan

kepada orang lain.

Tetapi ketika aturan

menyentuh diri sendiri,

kita mendadak menjadi

ahli filsafat:

“Bukankah manusia

harus saling memahami?”

Memahami?

Tentu.

Tetapi jangan sampai

“saling memahami”

berarti:

Saya salah,

tolong jangan ditindak.

Kita memang perlu

humor untuk hidup.

Tetapi bangsa ini

tidak boleh menjadikan

pelanggaran sebagai lelucon

yang diwariskan.

Kejujuran

harus dimulai

dari hal-hal kecil.

Anak yang melihat ayahnya

berbohong untuk keuntungan,

sedang belajar sesuatu.

Bukan dari buku.

Tetapi dari contoh.

Anak yang melihat ibunya

menghormati aturan,

juga sedang belajar.

Bangsa tidak hanya

dibentuk oleh kurikulum.

Bangsa dibentuk

oleh kebiasaan.


───


XVI

Polwan

bukan malaikat.

Dan kita tidak boleh

meminta manusia

menjadi malaikat.

Karena setiap manusia

memiliki kemungkinan

untuk salah.

Tetapi seorang yang diberi

kewenangan lebih,

memiliki kewajiban lebih besar

untuk mengendalikan dirinya.

Di situlah pendidikan karakter

menjadi penting.

Bukan sekadar hafalan.

Bukan sekadar slogan.

Bukan sekadar tulisan

di dinding kantor.

Karakter diuji

ketika tidak ada kamera.

Integritas diuji

ketika tidak ada atasan.

Kejujuran diuji

ketika ada kesempatan

untuk berbuat curang.

Kesetiaan diuji

ketika kebenaran

tidak menguntungkan.

Dan keberanian diuji

ketika yang harus dilawan

adalah orang yang lebih kuat.

Mudah menjadi berani

kepada orang kecil.

Yang sulit adalah

berani kepada kesalahan

yang memakai

jabatan.


───


XVII

Hari ini,

Polwan Indonesia

telah berkembang.

Mereka hadir

di berbagai bidang tugas.

Di jalan.

Di kantor.

Di ruang penyelidikan.

Di ruang pelayanan.

Di tengah bencana.

Di tengah konflik.

Di tengah masyarakat.

Di berbagai tugas

yang membutuhkan

kecerdasan,

ketegasan,

ketahanan,

dan kepekaan.

Tetapi semakin besar peran,

semakin besar pula

tanggung jawab.

Jangan sampai keberhasilan

hanya diukur dari

berapa banyak kasus

yang selesai secara

administratif.

Tanyakan juga:

Berapa banyak manusia

yang merasa dilindungi?

Berapa banyak anak

yang kembali berani sekolah?

Berapa banyak perempuan

yang akhirnya berani

melaporkan kekerasan?

Berapa banyak keluarga

yang mendapatkan

kejelasan dan pendampingan?

Karena statistik

memang penting.

Tetapi di balik statistik

selalu ada wajah manusia.

Jangan sampai laporan

terlihat indah,

sementara manusia

masih menangis

di luar gedung.


───


XVIII

Ada

sebuah pelajaran

dari sejarah enam

Polwan pertama.

Mereka memulai

dengan jumlah kecil.

Hanya enam.

Bukan enam ribu.

Bukan enam puluh ribu.

Hanya enam.

Tetapi angka kecil

tidak selalu berarti

pengaruh kecil.

Satu guru

bisa mengubah

seratus murid.

Satu dokter

bisa menyelamatkan

banyak kehidupan.

Satu polisi yang jujur

bisa memulihkan

kepercayaan masyarakat.

Satu pejabat yang berani

menolak suap

bisa memberi contoh.

Satu anak

yang memilih

tidak menyontek

sedang menjaga

masa depan dirinya.

Jangan pernah berkata:

“Apa arti saya

di tengah bangsa

sebesar ini?”


Lihatlah sejarah.

Kadang perubahan

dimulai bukan dari

kerumunan.

Tetapi dari beberapa

orang yang bersedia

memulai.


───


XIX

Kepada

generasi muda,

jangan hanya kagum

kepada hasil.

Belajarlah hargai proses.

Jangan hanya melihat

pangkat di pundak.

Lihatlah jalan

yang ditempuh

untuk sampai ke sana.

Jangan hanya ingin

memakai seragam.

Tanyakan:

Apakah saya siap

memikul tanggung

jawabnya?


Jangan hanya ingin

memiliki jabatan.

Tanyakan:

Apakah saya mampu

menjaga amanahnya?

Karena jabatan

tanpa kesiapan

bisa menjadi bencana.

Ilmu tanpa moral

bisa menjadi bahaya.

Kecerdasan tanpa nurani

bisa menjadi alat penipuan.

Dan kekuatan tanpa

kebijaksanaan

bisa melukai orang-orang

yang seharusnya dilindungi.


Bangsa ini

tidak kekurangan

orang pintar.

Yang sering kita rindukan

adalah orang pintar

yang tidak menggunakan

kepintarannya

untuk memperdaya.


───


XX

Enam perempuan

pernah memulai.

Mereka tidak meminta

jalan yang mudah.

Sejarah memberi mereka

jalan yang sulit.

Pendidikan mereka

sempat terhenti.

Negeri sedang berperang.

Masa depan belum pasti.

Tetapi mereka kembali.

Belajar kembali.

Berdiri kembali.

Dan akhirnya,

menjadi bagian dari

sejarah kepolisian

Indonesia.


Maka hari ini,

ketika kita memperingati

Hari Jadi Polisi Wanita,

marilah kita tidak hanya berkata:

“Selamat Hari Polwan.”

Mari kita berkata

kepada diri sendiri:

Semoga seragam

selalu lebih berat

daripada gengsi.

Semoga pangkat

selalu lebih kecil

daripada tanggung jawab.

Semoga kekuasaan

selalu tunduk

kepada hukum.

Semoga hukum

selalu berjalan

bersama keadilan.

Semoga ketegasan

tidak kehilangan

kasih sayang.

Semoga pelayanan

tidak berubah

menjadi transaksi.

Semoga keberanian

tidak hanya muncul

di hadapan kamera.

Dan semoga,

perempuan-perempuan

yang memilih

jalan pengabdian,

selalu mendapatkan

penghormatan yang layak.

Bukan karena mereka perempuan.

Bukan pula karena mereka

memakai seragam.

Tetapi karena mereka manusia

yang memilih memikul

tanggung jawab

untuk negeri.


───


EPILOG


Bukittinggi telah

mengirimkan pesan

melintasi waktu.

Pesan itu sederhana:

Sejarah tidak menunggu

semua keadaan menjadi

sempurna.

Sejarah dimulai

ketika seseorang

melihat persoalan,

lalu memilih untuk

ikut mencari

jalan keluar.

Enam perempuan

telah melakukannya.

Mereka mengetuk pintu.

Mereka masuk.

Mereka belajar.

Mereka menghadapi perang.

Mereka kembali.

Mereka menyelesaikan

pendidikan.

Mereka bertugas.

Dan dari enam langkah itu,

lahirlah perjalanan panjang

Polisi Wanita Indonesia.

Kini, tugas generasi

berikutnya

bukan sekadar

meneruskan jumlah.

Tetapi meneruskan nilai.

Keberanian.

Pengabdian.

Kejujuran.

Disiplin.

Kecerdasan.

Empati.

Dan keberanian untuk

selalu memperbaiki diri.

Karena negara

yang kuat

bukan negara

yang rakyatnya takut

kepada seragam.

Negara yang kuat

adalah negara

yang rakyatnya percaya

bahwa seragam

hadir untuk melindungi.

Dan kepercayaan itu,

tidak dapat dibeli

dengan slogan.

Tidak dapat dipaksa

dengan kewenangan.

Tidak dapat dibuat

hanya dengan pencitraan.

Kepercayaan

dibangun perlahan.

Dengan tindakan.

Dengan kejujuran.

Dengan keberanian.

Dengan kesediaan

mengakui kesalahan.

Dan dengan kemauan

untuk memperbaiki

yang masih kurang.

Karena menjadi baik

bukan berarti

merasa sudah sempurna.

Menjadi baik

adalah kesediaan

untuk terus belajar.

Seperti enam perempuan itu.

Yang pernah memulai

dari sebuah sekolah

di Bukittinggi.

Di tengah republik

yang masih muda.

Di tengah bangsa

yang sedang berjuang.

Lalu mereka mengajarkan

kepada masa depan:

Perempuan Indonesia

bukan hanya bagian

dari sejarah bangsa.

Perempuan Indonesia

juga penulis sejarah bangsa.

Dan selama keadilan masih

harus diperjuangkan,

selama perempuan dan anak

masih membutuhkan

perlindungan, selama hukum

masih harus diperjuangkan

agar tetap bermartabat,

selama bangsa ini

masih ingin menjadi dewasa,

maka pesan dari tanggal

satu September akan

tetap relevan:

Jadilah kuat, tetapi jangan

kehilangan kelembutan.

Jadilah tegas, tetapi jangan

kehilangan keadilan.

Jadilah berani, tetapi jangan

kehilangan akal sehat.

Dan ketika memegang

kewenangan, jangan pernah

lupa—bahwa di balik setiap

seragam, ada manusia.

Di hadapan setiap hukum,

ada manusia.

Dan tujuan tertinggi

dari sebuah negara,

pada akhirnya, bukan

sekadar menciptakan

rakyat yang patuh.

Tetapi menciptakan

kehidupan bersama

yang lebih aman,

lebih adil,

lebih beradab,

dan lebih manusiawi.


Selamat Hari Jadi

Polisi Wanita Indonesia.

1 September.


Dari Bukittinggi

untuk Indonesia.

Dari enam perempuan

untuk jutaan langkah.

Dari sejarah untuk masa depan.

POLWAN INDONESIA— TEGAS

DALAM TUGAS, HUMANIS

DALAM PELAYANAN,

DAN SETIA MENGABDI

KEPADA BANGSA

DAN NEGARA.


Dari Timur Bekasi,

Senin, 31 Agustus 2026

13.54





 
Top