Rosadi Jamani
WAK, ini bukan pengalihan isu. Ini hanya absurditas di negeri makin aneh. Di bilang maju, tapi antrean truk solar semakin menjadi-jadi. Maaf keceplosan, saya mau bahas corong toa masjid yang ditembak. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Kreativitas warga +62 kali ini perlu dikirim ke laboratorium NASA. Nuan bayangkan, empat corong pengeras suara alias TOA Masjid Al Falaah, Kompleks Alvita, Sawah Lama, Ciputat, Tangerang Selatan, mendadak berubah menjadi cetakan cendol raksasa. Bukan dibeli dari pasar, bukan pula pesanan tukang dawet. Melainkan dihujani tembakan.
Kalau dibawa ke pasar, tukang cendol mungkin langsung berebut. Tinggal tuangkan adonan, tekan sedikit, keluarlah cendol sebesar kabel listrik. Bisa melayani satu kecamatan. Sayangnya, benda itu bukan peralatan produksi minuman tradisional, melainkan pengeras suara masjid nasibnya mendadak seperti sasaran latihan menembak.
Empat corong bertengger di menara itu kini penuh lubang. Bukan satu dua, melainkan ratusan. Permukaannya bolong-bolong, tepinya mulai retak. Bahkan, ada bagian nyaris tidak menyisakan permukaan utuh. Kalau dilihat sepintas, bentuknya seperti cetakan cendol baru pulang dari Perang Rusia vs Ukraina.
Corong paling atas paling parah. Lubang-lubangnya bertumpuk seperti proyek pengeboran minyak dikerjakan kontraktor kesurupan. Bedanya, pengeboran biasanya mencari minyak bumi, sedangkan yang ini entah mencari apa. Mungkin sedang mencari biaya hidup yang membuat Eropa bergejolak.
Menurut keterangan imam sekaligus pengurus masjid, aksi penembakan itu berlangsung sangat teratur. Bukan sembarang waktu, melainkan setiap Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Bahkan, tembakan terus terdengar sampai rakaat terakhir salat Isya.
Luar biasa rajinnya! Kalau pelaku ikut salat, mungkin sudah mendapat penghargaan sebagai jamaah paling konsisten. Sayangnya, yang konsisten justru menembaki corong masjid. Ini bukan lagi disiplin militer, melainkan pegawai sedang mengejar target bulanan.
Nah, ini bikin orang garuk-garuk kepala. Biasanya, makhluk tidak suka mendengar suara azan itu setan. Begitu azan berkumandang, setan kabur terbirit-birit ke sarang Harun Masiku dan Silpester. Ini malah ada makhluk memilih melawan suara azan dengan senapan. Waduh, jangan-jangan setannya sudah naik pangkat, punya KTP, dan menguasai senjata.
Tentu saja, jangan buru-buru menyimpulkan terduga pelaku punya motif membenci azan. Belum ada bukti resmi mengenai hal itu. Namun, karena tembakan disebut selalu muncul ketika azan dan pengeras suara digunakan, wajar kalau warga bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan?
Awalnya warga mengira suara letusan itu petasan atau suara dari tanggulan jalan. Belakangan, dugaan sumbernya adalah senapan angin atau senapan gas. Sejak sekitar 24 Oktober 2026 setelah salat Asar, warga mulai curiga. Keesokan harinya, setelah Isya, lubang-lubang baru kembali bertambah. Rupanya proyek cetakan cendol ini menggunakan sistem kerja lembur.
Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Ciputat Timur. Polisi melakukan olah TKP, memeriksa saksi-saksi, dan berhasil mengidentifikasi terduga pelaku. Polisi juga menyarankan penyelesaian melalui islah dan permintaan maaf agar lingkungan tetap nyaman.
Kalau merasa volume TOA terlalu keras, bukankah ada cara lebih beradab? Bisa bicara dengan pengurus masjid, duduk bersama, atau mencari solusi. Tidak perlu mendirikan akademi menembak dadakan.
Ini bukan film koboi. Masjid bukan sasaran latihan, azan bukan musuh bersenjata, dan corong TOA bukan papan target perlombaan menembak.
Kesimpulannya, kalau tidak suka suara TOA, jangan sampai tangan lebih cepat menarik pelatuk dari mulut mengajak bicara. Negeri ini memang makin ajaib. Orang bikin cendol pakai cetakan, orang lain malah bikin cetakan pakai peluru. Tinggal tunggu besok ada yang menembaki klakson motor karena mengganggu pejabat lewat. (*)
#camanewak

