Rosadi Jamani | Penulis

- Ketua Satupena Kalbar


// Cerpen ini tidak bermaksud menyinggung para jomblo. Ini base on true story. Kisah nyata dua insan bucin, tidak peduli umur. Simak cerpennya sambil seruput Koptagul, wak!

Cinta sering datang dengan sepatu yang salah ukuran. Terlalu besar menurut orang lain, terlalu kecil menurut logika, dan sama sekali tak cocok menurut buku pelajaran hidup. Tapi di Jenangan, Ponorogo, cinta tidak repot mengurus pendapat siapa pun. Ia hanya datang, duduk, lalu menetap.

Siang itu, 28 Januari 2026, Kantor Urusan Agama mendadak terasa seperti altar kecil tempat semesta menandatangani sebuah kesepakatan sunyi. Ahmad Suryatna menarik napas sekali saja, seolah seluruh hidupnya memang dipersiapkan untuk satu tarikan itu, lalu ijab kabul meluncur mulus. Tidak gagap. Tidak goyah. Tidak tersandung umur.

Sisri menunduk. Air matanya jatuh pelan, bukan karena haru semata, tapi karena lelah telah selesai. Empat tahun nikah siri itu bukan perkara sepele. Ia seperti mencintai sambil berbisik, bahagia tapi tak boleh terlalu keras. Kini, cinta itu boleh berbicara lantang.

Orang-orang sibuk menghitung umur 58 dan 30. Selisih 28 tahun. Terlalu jauh, kata mereka. Tapi cinta tidak pernah pandai berhitung. Ia hanya tahu pulang.

Sisri lahir 1968, saat radio masih menjadi jendela dunia. Ahmad lahir 1996, ketika televisi sudah berwarna dan harapan mulai ribut. Sisri sudah menjadi ibu, bahkan nenek. Ahmad baru belajar menjadi suami. Tapi di hadapan cinta, semua itu hanya latar belakang. Yang berdiri di depan adalah dua manusia yang sama-sama ingin ditemani.

Empat tahun lalu mereka menikah siri. Mahar peralatan salat. Bukan cincin berlian, bukan pesta, hanya sepasang alat untuk sujud. Barangkali sejak awal, cinta mereka memang diniatkan untuk rendah hati. Ekonomi menjadi alasan menunda pengesahan, seperti banyak kisah cinta lain yang diuji bukan oleh orang ketiga, tapi oleh perut dan dompet.

Di rumah mereka, Dukuh Krajan II, Desa Nglayang, romansa tidak berbentuk puisi panjang. Ia hadir sebagai asap dapur. Sisri memasak, Ahmad membantu. Mereka sarapan bersama. Setelah itu Ahmad berangkat jual beli sekam, Sisri tinggal di rumah. Begitu setiap hari. Begitu saja. Justru di situlah cinta menemukan keindahannya. Ia tidak perlu variasi untuk tetap hidup.

“Ya begini setiap hari,” kata Sisri sambil tersenyum. Senyum orang yang akhirnya merasa aman mencintai.

Tujuh tahun lalu, Ahmad datang sebagai pekerja. Usianya 23. Sisri tak pernah berniat jatuh cinta. Tapi perasaan, seperti hujan, tidak pernah meminta izin tanah. Dari sering bertemu, lahirlah rasa. Ahmad melamar. Ditolak. Disuruh pulang. Dunia rasanya sepakat, ini tidak lazim.

Namun cinta jarang peduli pada kelaziman.

Ahmad menunggu. Ia bekerja. Ia bertahan. Orang tuanya merestui. Sisri akhirnya percaya. Mereka menikah siri tahun 2021, diam-diam, penuh keyakinan. Tidak banyak yang tahu, tapi mereka tahu satu sama lain, dan itu cukup.

Kini, mahar Rp200 ribu mengesahkan apa yang sudah lama sah di hati. Kepala KUA mendoakan sakinah, mawaddah, warahmah. Doa yang sering terdengar, tapi kali ini terasa benar-benar sampai.

Ahmad jatuh cinta karena perhatian. Karena Sisri peduli pada dirinya dan keluarganya. Dalam dunia yang gemar pamer cinta, Ahmad memilih cinta yang bekerja diam-diam.

Sisri kini bukan sekadar perempuan dengan masa lalu panjang. Ia adalah istri. Ahmad bukan lagi pemuda yang dipertanyakan niatnya. Ia adalah suami. Mereka tidak sejajar dalam umur, tapi sejajar dalam kesungguhan

Di Ponorogo, cinta kembali memberi pelajaran paling sederhana sekaligus paling sulit. Bahwa hati tidak membaca KTP. Bahwa bahagia tidak perlu izin publik. Bahwa pulang, pada orang yang tepat, adalah bentuk keajaiban paling masuk akal di dunia ini.

Kalau ente tersenyum pelan di akhir kisah ini, itu bukan kebetulan. Itu tanda, cinta mereka sempat singgah sebentar di hati kita. (*)

#camanewak




 
Top