Trump di Persimpangan Jalan: Opsi Serangan Langsung atau Penundaan Paksa


ANALISIS SITUASI

// Pada fajar Jumat, 30 Januari 2026, sebuah laporan strategis terbaru mengungkap fakta yang selama ini tersembunyi di balik ketegangan Teluk: Iran ternyata menyimpan sebuah “kartu liar” yang kini mulai terbuka ke publik.

Masuknya China dan Rusia ke kawasan Laut Oman dan Samudra Hindia—resmi disebut sebagai latihan angkatan laut gabungan dengan Iran—secara fundamental mengubah peta konfli k. Bagi militer Amerika Serikat, ini bukan sekadar manuver rutin, melainkan dilema strategis yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Sejak Washington meningkatkan kehadiran militernya di kawasan, kalkulasi kekuatan seolah mengarah pada satu skenario klasik: tekanan maksimum, diikuti ancaman serangan presisi.

Namun, pengumuman latihan laut gabungan oleh Iran, Rusia, dan China datang pada momen yang nyaris “fatal” bagi rencana tersebut. Timing-nya terlalu tepat untuk dianggap kebetulan.

Perisai Terapung di Laut Oman, Strategi Jenius Iran

Di kalangan analis militer, langkah Iran ini dipandang sebagai strategi jenius. Kehadiran kapal perang Rusia dan China di zona operasi potensial—terutama Laut Oman—menciptakan apa yang disebut sebagai “jebakan strategis.” Secara militer, situasi ini membuat opsi serangan Amerika menjadi jauh lebih berisiko.

Para laksamana AS tidak bisa begitu saja meluncurkan rudal Tomahawk atau menggelar serangan udara skala besar di wilayah yang sama dengan keberadaan kapal perusak Rusia atau China.

Risiko salah sasaran, sekecil apa pun –misalnya, rudal Tomahawk salah menghantam kapal perang Rusia atau China– berpotensi mengubah konflik regional menjadi konfrontasi global. Dalam logika Pentagon, satu insiden fatal saja cukup untuk menyeret dunia ke eskalasi yang tak terkendali.

Tanpa menembakkan satu peluru pun, kapal-kapal perang Rusia dan China itu telah berfungsi sebagai “perisai terapung”. Kehadiran mereka saja sudah cukup untuk memberi perlindungan tidak langsung terhadap pantai Iran.

AS Berpacu dengan Waktu: Jendela 48 Jam

Situasi ini memaksa Gedung Putih berpacu dengan waktu. Jika Presiden Donald Trump ingin bertindak, jendela kesempatan itu sangat sempit—diperkirakan hanya sekitar 48 jam sebelum manuver gabungan Iran-Rusia-China benar-benar berjalan penuh.

Pilihan Washington kini brutal dalam kesederhanaannya. Pertama, menyerang segera, sebelum kapal-kapal Rusia dan China sepenuhnya tiba dan bercampur dengan armada Iran.

Kedua, menunda atau membatalkan rencana serangan, karena begitu latihan dimulai, kawasan tersebut secara de facto berubah menjadi “zona terlarang internasional”. Dalam kondisi itu, serangan besar-besaran bukan hanya berisiko secara militer, tetapi juga nyaris mustahil dipertanggungjawabkan secara politik.

Pesan Poros Timur: Iran Tidak Sendirian

Lebih dari sekadar manuver militer, latihan ini membawa pesan politik yang sangat jelas. Iran ingin menunjukkan bahwa ia tidak terisolasi. Rusia dan China, dengan kehadiran langsung di teater operasi, mengirim sinyal keras ke Washington: menyerang Iran berarti menyentuh garis merah yang bersinggungan dengan kepentingan keamanan nasional mereka.

Bagi Amerika Serikat, ini adalah bentuk pencegahan paling eksplisit yang diterima dalam beberapa tahun terakhir—bukan lewat pernyataan diplomatik, melainkan melalui posisi kapal perang di laut terbuka.

NOTAM Jask dan Logika Baru Penutupan Wilayah

Dalam konteks ini pula, muncul tafsir baru atas keputusan Iran membiarkan NOTAM Jask (A0358/26) kedaluwarsa tanpa perpanjangan.

NOTAM “Jask” (A0358/26) adalah pemberitahuan resmi dari otoritas penerbangan Iran yang menutup sementara ruang udara di sekitar pangkalan angkatan laut Jask, Teluk Oman, untuk latihan militer tembak langsung. NOTAM ini berlaku sebagai larangan terbang di area tertentu dengan koordinat 25°50′N, 57°42′E, dan berakhir setelah periode latihan militer selesai.

Selama ini, NOTAM tersebut berfungsi sebagai instrumen penutupan wilayah udara dan laut di sekitar Selat Hormuz. Kini, Teheran tampaknya merasa tak lagi perlu menutup area itu dengan kekuatannya sendiri.

Logikanya sederhana namun tajam: mengapa menutup wilayah secara sepihak jika kapal-kapal sekutu sedang dalam perjalanan? Iran seolah menukar “NOTAM penutupan” dengan “NOTAM manuver gabungan” yang implisit—dan mungkin akan segera diformalkan.

Kesimpulan Lapangan: Skakmat Politik

Di lapangan, posisi Amerika Serikat terlihat semakin terpojok. Rencana “shock and awe” menghadapi apa yang bisa disebut sebagai veto lapangan oleh Rusia dan China. Sebaliknya, Iran berhasil menginternasionalisasi krisis dan menarik kekuatan besar langsung ke wilayah operasinya.

Penilaian para analis relatif seragam: beberapa hari ke depan—sebelum kapal-kapal Rusia dan China sepenuhnya menguasai area latihan—adalah satu-satunya kesempatan tersisa bagi Trump untuk bertindak secara militer.

Jika periode ini berlalu tanpa serangan, manuver gabungan tersebut akan menciptakan semacam “gencatan senjata paksa”. Pada titik itu, pilihan yang tersisa bagi Washington kemungkinan bukan lagi rudal, melainkan meja perundingan.

Iran, dalam bahasa catur geopolitik, tampaknya telah memainkan langkah skakmat di masa tambahan. (*)

(Satrio Arismunandar, diolah dari data/informasi Talal Nahle/IntelSky) 




 
Top