Rosadi Jamani | Penulis
- Ketua Satupena Kalbar
// Warga Jawa Timur boleh ngumpul di sini sebentar. Nih, uang kalian yang rajin bayar pajak, dihamburkan demi gaya hedonism, macam uang nenek moyangnya. Tahan emosi, siapkan Koptagul agar otak tetap encer dan waras, cak!
Negeri ini memang ajaib. Dengan gaji Rp50 juta per bulan, seseorang bisa menjelma jadi Sinterklas versi oligarki. Tiap tahun bagi-bagi hadiah, bukan cokelat atau kartu ucapan, tapi rumah Rp10,9 miliar, tanah Rp4 miliar, kantor Rp700 juta, Mercedes-Benz, Jeep Rubicon, dan cincin Rp70 juta. Kalau ini bukan mukjizat ekonomi, entah apa namanya. Para dosen ekonomi sebaiknya pensiun dini. Teori makro runtuh oleh satu kesaksian di ruang sidang Tipikor Surabaya.
Kesaksian itu datang dari Fujika Senna Oktavia, istri siri almarhum Kusnadi, yang dengan nada datar, bahkan cenderung malu-malu, mengisahkan bagaimana hidupnya dikelilingi hadiah-hadiah kelas sultan. Rumah di Pakuwon City senilai Rp10,9 miliar, katanya. Tanah Rp4 miliar, lalu dibangun kantor PT Karena Usaha Semesta dengan biaya Rp700 juta. Mobil Mercedes-Benz saat ulang tahun ke-25, Jeep Rubicon saat umur 27. Tahun 2021? Tidak dapat mobil. Hanya cincin Rp70 juta. Hakim pun sampai memastikan, “Tiap tahun kan dapat itu?” Sebab di negeri ini, yang aneh bukan dapat hadiah miliaran, tapi kalau setahun saja tidak kebagian mobil.
Di titik ini, pembaca normal pasti mulai menggaruk kepala, lalu naik darah. Bagaimana mungkin seseorang dengan penghasilan yang diakui sendiri hanya Rp50 juta per bulan bisa memelihara gaya hidup yang bahkan sulit dikejar oleh pengusaha jujur seumur hidup? Dengan matematika paling ramah pun, gaji itu butuh ratusan tahun untuk menutup satu rumah Pakuwon City. Tapi jangan salah, ini bukan dongeng. Ini diucapkan di persidangan, di bawah sumpah, di hadapan hakim, jaksa KPK, dan akal sehat yang terpaksa jadi penonton bisu.
Yang lebih menjengkelkan, sumber uang itu bukan bisnis revolusioner. Bukan tambang asteroid. Bukan startup unicorn. Tapi dana hibah kelompok masyarakat (Pokmas) APBD Jawa Timur. Dana yang di atas kertas ditujukan untuk masyarakat kecil, kegiatan sosial, pembangunan, pemberdayaan. Di lapangan? Berubah wujud jadi rumah mewah, mobil premium, dan perhiasan. Dana rakyat naik level, dari proposal stempel basah ke garasi Rubicon.
Seperti biasa, ironi paling pedih selalu muncul di kalimat paling singkat, Kusnadi sudah meninggal dunia pada Desember 2025. Proses hukum terhadapnya berhenti. Selesai. Tamat. Tirai ditutup. Yang tersisa hanya cerita, aset sitaan, dan rasa mual yang tak bisa diajukan banding. Negara boleh menjerat 21 tersangka lain, tapi tokoh utama keburu pamit, meninggalkan warisan berupa pertanyaan yang tak akan pernah dijawab tuntas, berapa banyak dana publik yang sudah disulap jadi hadiah pribadi sebelum semuanya terbongkar?
Di ruang sidang, kesaksian itu mungkin terdengar biasa. Di telinga publik, itu tamparan keras. Bukan hanya soal korupsi, tapi soal betapa telanjangnya kesenjangan antara pengakuan penghasilan dan realitas hidup. Ini bukan lagi tikus berdasi. Ini badak bermobil Rubicon yang masih sempat bilang, “Gaji saya segini kok.”
Maka wajar jika publik muak. Wajar jika marah. Sebab setiap rupiah yang berubah jadi cincin Rp70 juta itu bukan angka abstrak. Itu jalan rusak yang tak diperbaiki, sekolah yang atapnya bocor, bantuan yang dipotong, dan masyarakat yang disuruh sabar. Ketika kesabaran rakyat diadu dengan gaya hidup hasil dana hibah, yang tersisa hanya satu reaksi, jijik, lalu marah, lalu sadar, bahwa di negeri ini, kejujuran memang mahal, tapi kebohongan ternyata jauh lebih mewah.
“Bang, istri siri disiram harta melimpah macam itu, gimana istri sahnya ya?”
“Dua kali lipat, wak. Kasihan warga Jatim, uang mereka dihamburkan untuk servis istri muda. Memang suek koruptor, bukan hanya nimbun harta, juga untuk memuaskan nafsu birahinya.” (*)
#camanewak

