JIKA kita membuka kembali buku pelajaran sejarah di sekolah, perjuangan kemerdekaan Indonesia sering kali digambarkan lewat pertempuran fisik atau perundingan di meja diplomasi yang formal. Namun, tahukah Anda bahwa ada babak rahasia yang jauh lebih menegangkan, penuh intrik dan melibatkan operasi penyelundupan berskala internasional?
Lebih mengejutkannya lagi, salah satu aktor intelektual di balik operasi nekat demi menyambung napas Republik ini adalah seorang putra asli Minangkabau. Lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, tokoh genius ini bernama Suryono Darusman.
Di balik penampilannya yang rapi sebagai diplomat perintis, pria yang akrab disapa "Tjoei" ini adalah otak di balik misi spionase ekonomi paling berbahaya di awal kemerdekaan kita.
Membawa Misi Rahasia ke "Zaman Singapura"
Suryono Darusman lahir di Payakumbuh tepat pada tanggal 17 Agustus 1919—sebuah tanggal lahir yang seolah menjadi takdir bahwa hidupnya akan diwakafkan sepenuhnya untuk kemerdekaan Indonesia.
Badai perjuangan hidupnya dimulai pada tahun 1948. Saat itu, Indonesia yang baru seumur jagung dikepung rapat oleh blokade laut militer Belanda. Akibatnya, kas negara kosong, rakyat kelaparan, dan para pejuang di garis depan kehabisan modal untuk membeli senjata maupun obat-obatan.
Melihat situasi kritis ini, Suryono yang baru memiliki anak balita (yang kelak kita kenal sebagai Marzuki Darusman) nekat memboyong keluarganya menembus barikade musuh menuju Singapura. Di sana, ia bergabung dengan Indonesian Office (INDOFF) di bawah pimpinan Utoyo Ramelan.
Di bawah kedok kantor dagang resmi, Suryono dan tim kecilnya mengemban misi rahasia dari Wakil Presiden Mohammad Hatta: lakukan apa saja, selundupkan apa saja, yang penting hasil penjualannya bisa menjadi modal mempertahankan kemerdekaan Indonesia!
Kisah Nekat Menjual Opium demi Membeli Senjata
Salah satu babak paling gila sekaligus genius dalam karier Suryono adalah ketika ia terlibat dalam pengelolaan pasokan opium (narkotik) mentah yang diambil dari gudang obat Salemba, Jakarta.
Bagaimana strateginya? Opium tersebut diselundupkan secara rahasia lewat jalur laut yang dijaga ketat oleh kapal perang Belanda. Begitu berhasil menembus Singapura, Suryono memutar otak untuk menjual komoditas haram tersebut ke pasar internasional dengan harga tinggi.
Uang hasil penjualan ilegal itu sama sekali tidak masuk ke kantong pribadi. Setiap sen yang didapat murni digunakan untuk:
Membeli senapan, peluru dan amunisi dari pasar gelap.
Membeli pasokan obat-obatan dan pakaian untuk dikirim ke kantong-kantong gerilya di tanah air.
Membiayai operasional delegasi diplomatik RI yang sedang keliling dunia mencari pengakuan kedaulatan.
Ketegangan luar biasa selama operasi penyamaran dan aksi kejar-kejaran dengan intelijen Belanda di Selat Malaka ini kemudian ia abadikan dalam memoar terkenalnya yang berjudul "Operation Meriam Bee: Penyelundupan Senjata Terbesar".
Dari Spionase Ekonomi hingga Menembus Tembok Uni Soviet
Setelah kedaulatan Indonesia diakui penuh pasca-1949, Suryono Darusman tidak lagi menyelundupkan senjata di malam hari. Ia resmi berganti seragam menjadi diplomat karier profesional di Kementerian Luar Negeri.
Kegeniusannya dalam bernegosiasi membuat kariernya melesat. Di era Presiden Soeharto, tepatnya tahun 1973–1976, putra Payakumbuh ini dipercaya mengemban tugas berat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Uni Soviet di Moskow. Menjabat di sana bukanlah perkara mudah, mengingat tensi Perang Dingin sedang memuncak dan hubungan Jakarta-Moskow sempat mendingin. Sebelum pensiun, ia juga sukses menyelesaikan misi diplomatiknya sebagai Duta Besar RI untuk Swiss (1979–1982).
Warisan Anak-Anak Hebat dan Akhir Hayat Sang Maestro Diplomasi
Darah genius dan dedikasi Suryono Darusman ternyata menurun kuat kepada anak-anaknya. Dari pernikahannya dengan Alida Mahdi, ia dikaruniai lima anak, di antaranya tumbuh menjadi tokoh besar nasional:
Marzuki Darusman (Mantan Jaksa Agung RI dan Aktivis HAM Internasional)
Taufik Darusman (Jurnalis Senior Ternama)
Candra Darusman (Musikus, Komposer dan Maestro Jazz Legendaris Indonesia, pendiri grup Chaseiro dan Karimata)
Sang Jenderal Diplomasi ini mengembuskan napas terakhirnya pada 12 April 2000 di usia 81 tahun. Ia pergi meninggalkan warisan sejarah yang luar biasa berharga lewat bukunya, "Singapore and the Indonesian Revolution, 1945–50".
Kisah Suryono Darusman adalah bukti nyata bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya direbut dengan bambu runcing, melainkan juga lewat kegeniusan taktik, keberanian menembus batas, dan dedikasi tanpa batas dari seorang putra Minang.
#wkp/ede


