FAKTA unik mengenai keahlian mekanik menjadi sisi lain yang menarik dari kehidupan sang tokoh pergerakan nasional ini. Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 27 Desember 1911, putra dari pasangan Achmad Sutan Mangkuto dan Darama asal Nagari Ladang Laweh ini menempuh jalur hidup yang berpindah sejak usia belia. Pada umur 7 tahun, ia diboyong oleh sepupu ibunya ke Jakarta untuk menempuh pendidikan modern, mulai dari HIS, MULO, AMS B, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan studi kedokteran di Geneeskundige Hooge School (GHS), yang kini dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Di balik jubah medis dan kepiawaiannya berpolitik, minat mendalamnya terhadap dunia otomotif membuat rekan-rekan seperjuangannya kerap melihat ia sibuk memelihara dan mengotak-atik mobil kesayangannya, hingga ia mendapat gelar kehormatan sebagai seorang "montir mobil".
Awal Karier dan Titik Rendah di Masa Revolusi Fisik
Awal karier birokrasinya pasca-Proklamasi kemerdekaan dimulai dengan mengemban amanah besar sebagai Wakil Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP). Namun, alih-alih menikmati posisinya di pusat pemerintahan yang mapan, gejolak revolusi fisik antara tahun 1945 hingga 1949 membawa tantangan hidup yang amat berat. Pada periode perang mempertahankan kemerdekaan ini, ia mengalami titik rendah di mana ia harus mengorbankan profesi utamanya. Ia sama sekali tidak pernah memiliki kesempatan untuk membuka praktik kedokteran demi melayani pasien secara normal.
Situasi kian genting ketika agresi militer kolonial melumpuhkan ibu kota, memaksanya harus ikut bergerak dan bergerilya membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di pedalaman Sumatera Barat pada tahun 1948. Dalam keterbatasan fasilitas, ancaman blokade musuh, serta ketidakpastian situasi politik negara yang sedang berada di ujung tanduk, ia harus bertahan hidup dan menjalankan roda pemerintahan darurat demi menjaga agar eksistensi Republik Indonesia tidak runtuh di mata dunia.
Titik Balik Menuju Puncak Kepemimpinan Nasional
Titik balik dalam kehidupan sang tokoh geopolitik ini terjadi pasca-penyelesaian kedaulatan, tepatnya ketika jalannya pemerintahan beralih ke era Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada 16 Januari 1950, ia dipercaya untuk menduduki posisi puncak sebagai Perdana Menteri Indonesia yang memimpin Kabinet Halim. Di bawah kepemimpinannya, kabinet ini bertugas mengelola pemerintahan Republik Indonesia yang saat itu menjadi bagian dari negara federasi, bekerja sama dengan pamannya sendiri, Mr. Assaat, yang menjabat sebagai Acting Presiden.
Keberhasilannya dalam mengawal masa transisi tersebut membuat reputasinya kian cemerlang di tingkat nasional. Setelah era RIS berakhir dan Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan, ia dipercaya mengemban tugas krusial sebagai Menteri Pertahanan di bawah Kabinet Natsir.
Selepas menuntaskan pengabdian politiknya, ia kembali ke dunia medis dan dipercaya menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta selama satu dekade (1951-1961).
Tidak hanya itu, kontribusinya meluas ke dunia olahraga nasional dengan menjadi salah satu pendiri klub sepak bola Persija Jakarta, menjabat Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI), hingga sukses memimpin kontingen pertama Indonesia dalam ajang Olimpiade Helsinki pada tahun 1952. Dari seorang gerilyawan di hutan Sumatera, ia bangkit menjadi arsitek pemerintahan sekaligus pelopor kemajuan olahraga di tanah air.
#wkp/ede


