f: screenshotvideo.dok.suararantau/fb.seputarpadang

PADANG -- Sikap tegas serta kekompakan warga bersama aparatur Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang dalam memproteksi potensi mudharat bagi lingkungan mereka, patut diacungi jempol. Disamping menjaga imun di masa pandemi, iman juga musti dipertebal, begitu idealnya warga dan aparatur dalam berlingkungan, khususnya di Ranah Minang.

Pada Rabu (28/7/2021) sore, puluhan warga bersama Lurah Pasie Nan Tigo melakukan penyegelan terhadap tiga penginapan di lingkungan RW 07 Pasir Jambak. Tiga penginapan tersebut yakni Hotel Dangau Mande, Hotel Laguna dan Uncle Jack Home Stay.

Lurah Pasie Nan Tigo, Taslim, menjelaskan, tiga penginapan tersebut ditutup karena belum memiliki izin operasi. Selain itu, ketiga tempat tersebut telah menimbulkan permasalahan sosial, perselisihan serta keributan.

“Tempat ini kita segel karena belum memiliki izin pengoperasiannya. Selain itu, menurut laporan masyarakat, pada tiga lokasi ini selalu kerap berlangsung aktivitas maksiat. Sehingga warga menjadi geram,” ujar Taslim kepada awak media yang mewawancarainya selepas penyegelan. 

Menurut lurah tersebut, sebenarnya  penyegelan ini sudah kali kedua dilakukan. Namun tindak penyegelan pertama tidak diindahkan oleh pengelola penginapan. Aktivitas maksiat terus saja berlangsung.


"Selama saya menjabat lurah di sini, sudah dua kali kita lakukan penyegelan,” jelas Taslim.

Ketua Pemuda RW 07 Pasia Jambak, Syahroni menambahkan, tiga penginapan ini terdeteksi sering dijadikan arena maksiat oleh pendatang. Oleh karena itu, warga sepakat, tempat ini harus ditutup.

“Kami tidak ingin kampung kami buruk karena dijadikan arena maksiat oleh pendatang. Oleh karena itu, tempat penginapan ini kami tutup,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa warga setempat sering mendapati keluarga yang datang menyerang anggota keluarganya lantaran diketahui berbuat mesum di tiga penginapan tersebut.

“Yang kami sesalkan juga, anak-anak sekolah sering memanfaatkan penginapan tersebut untuk berbuat mesum. Sangat disesalkan sekali. Oleh karena itu kami meminta dinas terkait menutup pengoperasian penginapan tersebut,” jelasnya.

Terpisah, pihak Hotel Laguna, Yani Mendra, menjawab konfirmasi awak media menjelaskan bahwa dirinya baru menjabat sebagai manager di tersebut. Karena itu, ia ingin merobah imej negatif yang selama ini melekat pada yang saat ini ia kelola, dari dari hotel ajang maksiat menjadi tempat penginapan yang lebih baik. 

“Dulu tempat ini mungkin dijadikan tempat maksiat, tetapi dengan kehadiran saya, saya ingin menjadikan tempat ini sebagai penginapan yang lebih baik,” ungkapnya.

#red/suararantau






 
Top