Rasa Gunung yang Dimasak oleh Waktu dan Kearifan Desa
Oleh Christian Heru Cahyo Saputro | Jurnalis
// Di Indrokilo, Desa Lerep, rasa tidak pernah lahir dari tergesa. Ia tumbuh perlahan, seperti embun yang turun dari lereng Gunung Ungaran, meresap ke tanah, lalu menghidupi apa saja yang setia menunggu. Dari lanskap seperti inilah Ayam Pecode berasal—kuliner khas yang bukan sekadar hidangan, melainkan pengetahuan hidup yang dimasak dengan sabar.
Ayam Pecode dimulai dari daun yang tumbuh diam-diam. Daun Pecode—kecil, bergerigi halus, hijau tua—biasa ditemui di tepi pekarangan, batas kebun, atau pinggir hutan yang lembap. Ia tidak ditanam dengan aturan rapi, namun hadir sebagai bagian dari keseharian. Bagi warga Indrokilo, daun ini adalah penawar alam: direbus untuk menghangatkan badan, meredakan pegal, batuk, atau sekadar memulihkan tenaga selepas bekerja di ladang. Air rebusannya pahit lembut, meninggalkan rasa tenang di tubuh.
Namun keistimewaan Daun Pecode tidak berhenti sebagai jamu. Ketika ia masuk ke dapur, daun ini berubah peran—menjadi jiwa rasa. Aromanya yang hijau dan bersih, saat bertemu panas, membawa ingatan pada hutan basah, tanah yang subur, dan pagi yang belum ramai. Dari sanalah Ayam Pecode menemukan karakternya.
Ayam yang digunakan biasanya ayam kampung, dipelihara sendiri, akrab dengan tanah dan sisa padi. Bumbunya sederhana: bawang, ketumbar, lengkuas, sedikit kunyit, garam, dan gula jawa. Kesederhanaan itu bukan kekurangan, justru ruang bagi Daun Pecode untuk bekerja. Daun ini dimasukkan bersama ayam, menyatu dalam proses, bukan sekadar taburan di akhir.
Dalam tradisi lama, ayam berbumbu itu tidak dimasak di panci logam. Ia dimasukkan ke dalam bumbung bambu, bersama segenggam daun pecode dan sedikit air, lalu dibakar perlahan di atas bara. Bambu menjadi periuk alami. Api tidak dibiarkan membara, hanya cukup menjaga panas. Asap tipis naik, membawa aroma daun, ayam, dan bambu yang saling mengikat.
Cara memasak ini adalah cara berpikir orang Indrokilo: tidak berlebih, tidak memaksa. Makanan terbaik lahir dari kedekatan dengan alam dan kepercayaan pada waktu. Ketika bumbung dibelah, uap harum keluar perlahan. Daging ayam empuk, kuahnya bening kecokelatan, rasanya gurih dalam, dengan sentuhan pahit-hijau Daun Pecode yang menenangkan. Tidak tajam, tidak meledak—tetapi tinggal lama di ingatan.
Ayam Pecode tidak disajikan setiap hari. Ia hadir pada momen penting: selamatan desa, kenduri mata air, atau jamuan bagi tamu yang datang dari jauh. Menyajikan Ayam Pecode berarti membuka lingkaran. Siapa pun yang duduk dan makan dianggap telah diterima—menjadi bagian dari Indrokilo, walau hanya untuk satu waktu makan.
Di tengah dunia kuliner yang gemar mengejar sensasi dan kecepatan, Ayam Pecode menawarkan jalan lain. Ia mengingatkan bahwa rasa sejati tidak selalu lahir dari teknik rumit, tetapi dari hubungan yang panjang: antara manusia dan tanah, antara daun dan api, antara ingatan dan meja makan.
Di Indrokilo, kuliner bukan hanya soal kenyang. Ia adalah cara desa merawat tubuh, alam, dan pengetahuan—tanpa buku, tanpa resep tertulis. Cukup daun yang tumbuh setia, ayam yang dipelihara sendiri, api kecil, dan cerita yang terus dimasak ulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ayam Pecode, pada akhirnya, adalah rasa gunung yang bisa dimakan—pelan, hangat, dan jujur. (*)

