Rosadi Jamani | Penulis
Ketua Satupena Kalbar
// Kalau sudah terlanjur korupsi, tobatlah. Kalau masih menikmati hasil korupsi, rumah megah, mobil kinclong, rekening gemuk, tobat juga. Kalau baru mau korupsi, setop. Jangan sok kuat iman tapi lemah lihat proposal. Kalau lagi seruput Koptagul, tetap habiskan sambil menikmati narasi ini, wak!
Kebetulan malam ini malam Nisfu Sya’ban. Momentum langit lagi longgar. Pintu ampunan lagi kebuka lebar. Sayang kalau dilewatkan cuma buat scroll WhatsApp grup proyek.
Malam Nisfu Sya’ban itu bukan malam biasa. Ini malam pertengahan bulan Sya’ban, malam ketika dosa ditimbang, amal diangkat, dan ampunan diturunkan. Dalam istilah agama, Lailatul Bara’ah atau malam pembebasan. Dalam istilah koruptor, malam yang seharusnya bikin dompet berkeringat dan hati bergetar. Karena di malam ini, bukan cuma doa rakyat yang naik, tapi juga laporan keuangan amal hidup kita.
Tahun 2026, Nisfu Sya’ban datang ketika Indonesia sedang pilek akut bernama korupsi. Bukan flu ringan, tapi flu komplikasi. Dari pusat sampai desa, dari jas mahal sampai sandal jepit. Data KPK berseliweran seperti daftar dosa tahunan. Ratusan perkara, triliunan rupiah raib, pejabat berguguran lebih cepat dari daun kering di musim kemarau. Ada yang ketangkap basah, ada yang masih licin tapi aromanya sudah tercium sampai masjid.
Korupsi di negeri ini sudah bukan rahasia, sudah jadi budaya, selangkah lagi menjadi local wisdom. Inilah kebiasaan buruk yang diwariskan seperti resep keluarga. Di pusat, proyek disulap jadi ladang upeti. Di daerah, jabatan diperdagangkan seperti cabe rawit. Di desa, dana publik berubah jadi pagar rumah pribadi. Semua terjadi sambil mulut komat-kamit bicara moral, sambil foto pakai peci hitam tiap peringatan hari besar.
Dampaknya? Jangan tanya. Jalan rusak, sekolah reyot, puskesmas ngos-ngosan. Istri simpanan berceceran di mana-mana. Rakyat disuruh sabar, pejabat disuruh “tidak bersuara”. Korupsi itu bukan sekadar mencuri uang negara, tapi mencuri masa depan. Ia merampok harapan anak-anak, memiskinkan yang sudah pas-pasan, dan mematikan rasa percaya. Gotong royong berubah jadi curiga berjamaah.
Nah, di titik inilah Nisfu Sya’ban seharusnya bicara lantang. Malam ini bukan cuma soal doa panjang dan air mata khusyuk, tapi soal keberanian berhenti zalim. Dalam banyak riwayat disebutkan, ampunan Allah luas, kecuali bagi mereka yang terus-menerus menumpuk kezaliman tanpa niat berubah. Korupsi jelas bukan dosa kosmetik. Ini dosa struktural, berjamaah, dan berdampak panjang.
Nuan bayangkan kalau malam Nisfu Sya’ban benar-benar dipakai untuk tobat kolektif. Pejabat istighfar bukan karena takut OTT, tapi takut hisab. Pengusaha merenung bukan karena tender gagal, tapi karena sadar rezeki haram itu racun jangka panjang. Masyarakat pun berhenti permisif, berhenti memaklumi “asal kebagian”.
Malam ini, langit tidak menanyakan jabatanmu. Tidak peduli gelarmu, pangkatmu, atau isi rekeningmu. Yang ditanya sederhana, masih mau zalim atau mau pulang?
Malam Nisfu Sya’ban 2026 ini mestinya jadi titik balik. Kalau tidak bisa langsung jadi bersih, setidaknya berhenti mengotori. Kalau tidak sanggup jadi pahlawan, jangan jadi perusak. Tobat bukan slogan, tapi keputusan. Karena di dunia, mungkin kita bisa lolos. Tapi di hadapan Tuhan, audit tak pernah bisa disuap. (*)
#camanewak

