Rosadi Jamani
JAKARTA siang itu mendung. Entah karena cuaca, entah langit sudah mulai skeptis melihat drama MBG kembali tayang. Kamera televisi menyala. Lampu sorot menembak satu titik. Di sana berdiri Dr. Ketut Sumedana, Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN.
Seragamnya biru muda. Kacamata terpasang rapi. Rambut cepak. Wajah serius, setenang orang baru saja menemukan jawaban atas misteri kehidupan. Ia berdiri di podium. Ada logo BGN. Di dinding belakang juga ada logo BGN. Pokoknya kalau ada cicak lewat memakai logo BGN, konferensi itu tetap terasa kurang BGN.
Mikrofon dinyalakan. Suasana hening. Dr. Ketut menatap kamera. Lalu keluarlah jurus sakti:
“Kami sangat prihatin. Kami sangat tegas. Kami suspend berat. Kami usulkan dicopot. Kami fokus ke kesembuhan anak-anak.”
Dramatis. Berwibawa. Kalau diberi musik Avengers, penonton mungkin mengira negara sedang mempersiapkan pasukan terakhir melawan Thanos Bazzertium.
Padahal musuhnya kali ini adalah keracunan makanan. Sebanyak 512 orang keracunan di Manbaul Hikam. Ada 80 masih dirawat, 312 sembuh, dan 120 masih diobservasi.
SPPG Talang Angin kemudian digembok selama 30 hari. Kepala SPPG diusulkan dicopot. Investigasi? “Sedang berjalan.”
Nah. Sampai di sini publik mulai menggaruk kepala. Bukan karena gatal. Karena merasa pernah menonton episode seperti ini. Konferensi pers selesai. Kamera mati. Mikrofon dimatikan. Logo BGN tetap gagah di belakang.
Publik kemudian bertanya dalam hati, “Ini konferensi pers atau upacara pengucapan mantra?” Sebab setiap ada keracunan, muncul paket nyaris sama. Prihatin. Tegas. Suspend. Copot. Investigasi. Kemudian, Bersambung.
Saya curiga di markas BGN ada lemari rahasia. Pintunya bertuliskan, “Skrip Konferensi Keracunan MBG. Jangan Sampai Hilang.”
Di dalamnya tersedia berbagai edisi. Versi 2025. Versi 2026. Versi tegas. Versi sangat tegas. Versi supertegas dengan ekspresi lebih serius. Tinggal pilih. Print. Baca. Konferensi pers. Selesai.
Sementara itu, di dapur SPPG, bakteri mungkin sedang mengadakan rapat evaluasi.
E. coli: “Konferensi pers lagi, wak.”
Staphylococcus: “Jurusnya?”
E. coli: “Suspend.”
Staphylococcus: “Copot?”
E. coli: “Iya.”
Staphylococcus: “Investigasi?”
E. coli: “Sedang berjalan.”
Ruangan hening. Kemudian semua bakteri tertawa. E. coli yang sedang nongkrong di nasi berkata, “Wah, mereka tegas.” Staphylococcus yang berenang di kuah menyahut, “Gawat. SPPG digembok 30 hari.” Bakteri senior menenangkan, “Tenang. Cari dapur lain.”
Di titik ini, publik wajar menjadi skeptis. Sebab persoalannya bukan siapa paling keras suaranya di depan kamera. Bukan pula siapa paling gagah mengucapkan kata “tegas”.
Pertanyaan rakyat jauh lebih sederhana, bagaimana memastikan anak-anak tidak keracunan lagi? Sebab anak sekolah bukan pemeran figuran dalam sinetron. Mereka datang untuk belajar, bukan untuk mengikuti program “MBG: Siapa Tahan Perut, Dia Menang.”
Kalau setiap episode selalu berakhir dengan suspend, pencopotan, dan investigasi yang “sedang berjalan”, rakyat lama-lama bukan cuma hafal dialognya. Mereka hafal ending-nya. Prihatin. Tegas. Investigasi. Bersambung.
Di pojok dapur, seekor bakteri kecil memakai topi koki menatap kamera. Ia tersenyum. “Tenang, wak. Saya juga sangat prihatin.” Lalu berbisik, “Sampai jumpa di episode berikutnya.”
“Bang, luar biasa gagah si bapak itu saat konferensi pers. Suaranya lantang menggelegar. Cuma, tak suara lantang, kami jamin tidak ada lagi keracunan. Kalau ada keracunan lagi, saya mundur dengan hormat.”
“Mana ada gitu, wak. Kalau ada keracunan lagi, ya konferensi pers lagi. Mundur, mimpi kali! Yok, seruput Koptagul, wak!” Ups (*)
#camanewak

