SOSOK pria brewok berambut gondrong yang selalu tampil parlente bahkan nyentrik di berbagai kesempatan itu masih sangat lekat di ingatan. Kacamata hitam dan cangklong gading gajah sangat identik dengan kesehariannya. 

Nada bicaranya tegas, lugas, menggambarkan kecerdasan, visi yang jelas dan kewibawaan yang tinggi. Pandai bergaul, tak semata dengan kalangan papan atas seperti para jenderal, pengusaha sukses dan pembesar negara lainnya. Rakyat jelata, bahkan kalangan tertindas pun sangat dekat bahkan merasa terlindungi oleh keberadaannya.

Masih tergiang di ingatan bagaimana ia bersama organisasi kemasyarakatan (Ormas) besutannya, Forum Bersama Laskar Merah Putih, membebaskan Manohara dari cengkeraman suaminya yang “raja tega”, putera mahkota Kerajaan Kelantan Malaysia. 

Bagaimana getol dan pantang menyerahnya ia bersama Forum Bersama Laskar Merah Putih memperjuangkan pembebasan dua janda pahlawan dalam persidangan sengketa rumah dengan pihak pegadaian, sampai ia berani menyatakan akan mencopot kewarganegaraan Indonesianya jika dua janda pahlawan itu divonis bersalah dan dihukum walaupun hanya 5 detik oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim).

Belum pupus dari ingatan, bagaimana paman kandung diva Agnes Monica itu menentang keras peng-klaiman blok Ambalat oleh Malaysia. “Tanah Ambalat mutlak milik kita, jadi tidak perlu ada diplomasi!,” tegas Eddy saat demo ke Kedubes Malaysia bersama Forum Bersama Laskar Merah Putih.

Sebelum Forum Bersama Laskar Merah Putih berdiri pada tahun 2000 pun, LSM Pengabdian Putera Bangsa (PPB) yang dipimpinnya turut memberikan dukungan moril kepada tokoh prointegrasi Timor Timur, Eurico Guterres, yang harus menjalani hukuman penjara selama dua tahun atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di Timor Timur pasca Referendum 1999.

Terakhir, pada tahun 2010 ini, Forum Bersama Laskar Merah Putih di bawah kepemimpinannya juga melakukan gebrakan kontroversial “perang melawan Malaysia”. 

Forum Bersama Laskar Merah Putih dari Sabang sampai Merauke protes keras terhadap Malaysia yang dianggap sangat keterlaluan dan telah menginjak-injak harga diri dan kedaulatan NKRI. Dipicu sikap arogansi Pemerintah Malaysia menangkap tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikatan (KKP) Indonesia, lalu membarternya dengan tujuh nelayan Malaysia yang sebelumnya ditangkap polisi perairan Indonesia karena kedapatan mencuri ikan di perairan Indonesia.

Tinggal Kenangan

Sekarang, sosok fenomenal yang semasa hidupnya dikenal pemberani, kontroversial dan pantang menyerah itu tinggal kenangan. 

Hingga hari ini, hampir memasuki 11 tahun sang pembela kedaulatan NKRI itu meninggalkan bumi pertiwi. Ia menghadap Sang Khaliq pada hari Minggu 3 Oktober 2010 sekitar pukul 07.20 WIB, setelah menjalani perawatan selama lebih kurang tiga hari RS Omni International, Tangerang, Banten. Jasad Eddy Hartawan dikebumikan di Taman Pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, Selasa (5/10/2010). Alfaatihah untuk mendiang, sosok nasionalis sejati berdarah Tionghoa yang semasa hidup memutuskan menjadi mu'allaf. Semoga beliau husnul khatimah.

Si “ Abang”, demikian sapaan akrab mendiang, telah beristirahat dengan tenang. Namun, semangat dan cita-citanya mempersatukan anak bangsa dari Sabang sampai Merauke kekal dan abadi dalam setiap derap langkah Forum Bersama Laskar Merah Putih.

Air mata tak terbendung tatkala para sahabat dan handai taulan dari beragam suku, ras dan agama mengetahui kepergiannya yang begitu tiba-tiba.

Segenap anggota Forum Bersama Laskar Merah Putih dari Sabang sampai Merauke tersentak, seakan tak rela melepas kepergian sosok yang selama ini menjadi panutan dan senantiasa memberikan motivasi dan menularkan semangat nasionalisme, begitu cepat menghadap Illahi.

Penghisap rokok Djarum Super itu berpulang dalam usia 58 tahun. Kepergiannya begitu di luar dugaan, sementara Forum Bersama Laskar Merah Putih sebagai karya besar yang didirikan dan dirintis bersama sejumlah sahabat seperti Letnan Jenderal (Purn) Sutiyoso alias “ Bang Yos” dan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu masih membutuhkan sentuhan tangan dingin, kharisma dan gemblengannya.

Banyak pihak menyatakan, dalam hal membela kedaulatan bangsa, termasuk dalam menjaga proporsionalitas organisasi supaya bergerak selaras visi misi --- sosok Eddy Hartawan tiada duanya. Belum ada sosok putra bangsa dari kalangan sipil yang mampu menyamai, atau setidaknya mengimbangi semangat, keberanian dan loyalitasnya terhadap bangsa dan negara. Semua kala itu ia curahkan melalui Forum Bersama Laskar Merah Putih.

Mendiang semasa hidup juga dinilai sebagai sutradara hebat dalam perjuangan luhur menjaga serta membela kedaulatan NKRI melalui sederet aksi dan karya fenomenal, bahkan tak sedikit yang mengundang kontroversi!

Ya, pemilik nama lengkap Eddy Hartawan Siswono tersebut, semasa hidupnya memang dikenal kontroversial. Kata-kata dan tindakannya terbilang ‘berani’ menentang arus, terlebih kala berbicara dan menggelar aksi moral seputar beberapa persoalan bangsa. Dengus idealisme masih kental terasa, saat berbincang dengan siapa saja.

Simak saja aksi-aksi ‘membela kehormatan negara’ yang digelar Forum Bersama Laskar Merah Putih seperti kala menentang pemerintah Malaysia yang mencoba mengklaim kepemilikan atas blok Ambalat.  

Ia bersama Forum Bersama Laskar Merah Putih juga pernah menggelar aksi fenomenal pengibaran bendera Merah Putih sepanjang 5217 meter di sejumlah wilayah konflik Indonesia, mewacanakan pemakaman khusus bagi para koruptor hingga seruan perang melawan Malaysia. “Kami ingin me-ngembalikan roh nasionalisme yang menurut kami kini kian meluntur di tengah bangsa ini,” tegasnya kala itu.

Berbincang dengan Eddy Hartawan  memang ‘menyembulkan’ kesan idealisme yang masih kental. Dengar saja, misalnya, apresiasinya seputar ‘hari esok’ partai politik. 

Hapus Bantuan Parpol 

Menurut dia, kebijakan memberikan bantuan finansial kepada parpol tidak mencerminkan keberpihakan terhadap rakyat. “Karena kami berpendapat, bantuan kepada partai politik harus dihapuskan,” tandasnya.

Selain itu, mantan Komandan Satgas GM-Kosgoro itu juga menyatakan bahwa pemberian rumah dinas untuk anggota lembaga legislatif tidak tepat dan karenanya tidak perlu. Masih lebih tepat bila dana itu digunakan untuk menopang upaya mensejahterakan, petani, nelayan dan guru serta anak bangsa lainnya yang memang memerlukan. Apalagi, tingkat kemiskinan di tengah kehidupan bangsa ini masih memprihatinkan.

Menurut sosok yang semasa hidup merupakan penggagas, pendiri sekaligus menjabat Ketua Umum (Ketum) pertama Forum Bersama Laskar Merah Putih , hal-hal seperti disebut di atas, merupakan sebagian implikasi dari adanya kecenderungan betapa bangsa ini tengah dilanda oleh lima erosi nilai. “Pertama, erosi nilai kebangsaan. Selanjutnya erosi nasionalisme, patriotisme, kebudayaan dan atau moral bangsa, serta erosi kepercayaan diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat,” katanya. 

Nah, tekan Eddy kala itu, menjadi tugas kita semua, untuk menghapus erosi-erosi itu dengan segala kemampuan yang ada.

Karena itu, katanya lagi, kalau dahulu Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan negara ini dengan visi ‘membawa ke pintu gerbang kemerdekaan’ maka, saat ini setiap anak bangsa khususnya jajaran Forum Bersama Laskar Merah Putih bertujuan membawa bangsa ini ke dalam pintu gerbang kemerdekaan. 

“Dalam konteks inilah, maka kita memandang pendidikan menjadi prioritas penting untuk diperhatikan secara sungguh-sungguh,” papar mendiang dalam wawancara dengan salah satu mass media.

#naskah/foto dari berbagai sumber






 
Top