DUNIA kesusastraan Indonesia selalu menaruh rasa hormat yang luar biasa pada kejeniusan kata-kata milik Chairil Anwar, seorang penyair besar yang mengalir deras darah Minangkabau dari kedua orang tuanya yang berasal asli dari Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Lahir di Medan pada 26 Juli 1922 sebagai anak tunggal dari pasangan Toeloes dan Saleha, pemuda yang masih memiliki pertalian keluarga dengan Perdana Menteri Sutan Sjahrir ini tumbuh dengan watak yang sangat keras kepala serta bertekad kuat menjadi seniman sejak usia belia.
Awal karier atau titik bawah kehidupannya dimulai saat ia memutuskan berhenti sekolah pada usia 18 tahun dan harus berpindah ke Batavia bersama ibunya pasca-perceraian orang tuanya demi menyambung hidup di tengah ketidakpastian zaman.
Meskipun tidak menyelesaikan pendidikan formal, ia mengisi hari-harinya secara mandiri dengan menguasai berbagai bahasa asing dan melahap karya-karya pengarang internasional ternama demi mengasah ketajaman puitisnya.
Masa-masa sulitnya di dunia kepenulisan semakin nyata ketika kiriman puisi pertamanya di majalah Pandji Pustaka ditolak mentah-mentah oleh penguasa karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan propaganda politik Jepang.
Garis takdir kepenyairannya menemui titik balik popularitas yang sangat dahsyat ketika puisi berjudul "Nisan" pada tahun 1942 dan mahakarya berjudul "Aku" berhasil mendobrak kekakuan gaya bahasa lama sastra Nusantara.
Lewat gaya penulisan yang penuh dengan tema pemberontakan, individualisme, serta eksistensinya yang bebas, ia bersama para sahabatnya resmi dinobatkan oleh kritikus sastra sebagai pelopor Angkatan '45.
Sifatnya yang anarkis individualis dan meledak-ledak di lapangan membuat dirinya kerap menjadi inspirasi utama penulisan watak tokoh seni dalam berbagai karya roman dan budaya populer tanah air.
Vitalitas puitisnya yang luar biasa sayangnya tidak sejalan dengan kondisi fisiknya yang terus digerogoti komplikasi penyakit paru-paru akut hingga ia mengembuskan napas terakhirnya dalam usia yang sangat muda pada 28 April 1949.
Kini, seluruh warisan puluhan puisi legendaris yang ditinggalkannya tetap abadi dan tanggal kelahirannya terus diperingati dengan penuh khidmat sebagai Hari Puisi Nasional bagi semua kalangan pembaca.
#wkp/ede


