NAMA Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si. sudah sangat melekat di hati masyarakat Kota Padang. Pria kelahiran 16 Agustus 1962 ini dikenal sebagai salah satu Wali Kota Padang paling berpengaruh di era modern, yang sukses memimpin ibu kota Provinsi Sumatra Barat tersebut selama dua periode penuh, dari tahun 2004 hingga 2014.

Di balik ketegasan dan kepemimpinannya yang visioner, Fauzi Bahar memiliki latar belakang yang unik: kombinasi antara anak nagari, mantan perwira militer TNI Angkatan Laut, akademisi, hingga politikus senior.

Tumbuh di Lingkungan Pemimpin dan Aktivis Agama

Fauzi Bahar dilahirkan di Ikua Koto, Koto Tangah, Kota Padang. Jiwa kepemimpinan dan kedisiplinan tampaknya memang mengalir deras di darahnya.

Ayahnya, Baharudin Amin (dikenal sebagai Wali Bahar), adalah seorang tokoh masyarakat yang pernah menjabat sebagai Wali Nagari pada zamannya.

Ibunya, Nurjanah Umar, adalah seorang guru agama Sekolah Dasar (SD) di Ikur Koto sekaligus aktivis perempuan Muhammadiyah.

Fauzi adalah anak keempat dari enam bersaudara. Saudara-saudaranya pun memiliki karier yang mentereng. 

Kakaknya, Fakhri Bahar, pernah mengabdi sebagai Anggota DPRD Kota Padang (2014–2019). Sementara adiknya, Kolonel Laut Fahmi Bahar, mengikuti jejaknya di militer dan sukses menjabat sebagai Komandan Polisi Militer (Danpom) Komando Armada I TNI AL.

Masa Muda: Pelatih Silat, Komandan Menwa, hingga Raih Gelar Doktor

Sejak usia muda, Fauzi Bahar dikenal sebagai sosok yang sangat aktif dan berjiwa sosial tinggi. Ia merupakan pelatih silat di Perguruan Pat Ban Bu Ikua Koto dan pernah dipercaya menjadi Ketua Pemuda di kampung halamannya.

Saat menempuh kuliah di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FPOK IKIP) Padang (sekarang FIK Universitas Negeri Padang), jiwa kepemimpinannya makin terasah. Ia aktif dalam organisasi Korps Resimen Mahasiswa (Menwa) dan sukses terpilih menjadi Komandan Menwa. Fauzi berhasil meraih gelar Doktorandus (Drs.) pada tahun 1986.

Haus akan ilmu, di tengah kesibukannya ia melanjutkan pendidikan Magister Sains (M.Si.) di Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (PSIL UI) dan lulus pada 2002. Puncaknya, ia sukses merengkuh gelar Doktor (Dr.) dari Universitas Negeri Padang pada tahun 2010 saat menjabat sebagai Wali Kota.

Menembus Batas: Sempat Gagal Akabri, Sukses Lewat Jalur Wajib Militer

Perjalanan Fauzi menuju dunia militer tidak didapatkan dengan instan. Di masa mudanya, ia sempat mengikuti tes masuk Akabri namun mengalami kegagalan. Enggan menyerah pada impian, ia kemudian mengambil jalur Wajib Militer (Wamil) setelah lulus sarjana dan berhasil memakai seragam TNI Angkatan Laut.

Karier militernya resmi dimulai pada 15 April 1987 sebagai Kasubditjasrek Watpersal Markas Besar TNI AL. Pria yang ahli dalam bidang pembinaan jasmani ini kemudian mutasi ke berbagai daerah:


1988–1989: Bertugas di Lanal Ujungpandang (Makassar) di bawah Komando Armada Timur (Koarmatim).

1991–1995: Kembali ke Jakarta menjadi Kasijasrek dan Paban Watpers Spers Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

1996–1999: Ditugaskan di satuan elit sebagai Pasiminpers Satuan Pasukan Katak (Sapaska) Komando Armada Barat (Koarmabar).

Ia menyudahi pengabdian militernya dengan pangkat terakhir Perwira Menengah Dinas Potensi Maritim Angkatan Laut (Pamen Dispotmar AL) pada periode 2000–2003 demi panggilan tugas yang lebih besar di kampung halaman.

Mencetak Sejarah di Kota Padang

Pada tahun 2003, Fauzi Bahar memutuskan maju dalam bursa pemilihan kepala daerah. Melalui sistem perwakilan di DPRD Kota Padang, ia terpilih menjadi Wali Kota Padang untuk periode pertama (2004–2009).

Kepemimpinannya yang dinilai tegas dan membawa banyak perubahan membuat posisinya makin kuat di mata rakyat. Terbukti, saat sistem pemilihan berubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat (Pilkada) pertama kali pada tahun 2008, Fauzi Bahar yang maju kembali sukses menang mutlak. Ia mengamankan kursi Wali Kota Padang untuk periode kedua hingga tahun 2014.

Selama satu dekade memimpin, Fauzi Bahar dikenal dengan berbagai kebijakan beraninya, mulai dari penataan kota, penguatan mitigasi bencana tsunami, program keagamaan dan kebudayaan lokal hingga "rela pasang badan" demi menyokong pergerakan elemen masyarakat pemberantas judi toto gelap [togel] yakni Forum Libas [Lintas Bersama Antar Tokoh Sumbar] yang dimotori sejumlah aktivis kepemudaan Sumbar antara lain Khairul Amri [alm], M Zulkarnain, Ecevit Demirel, Anovtrizal Masdar, Novi Zulfikar, serta Hanafi pada rentang tahun 2003 hingga 2005.

Setelah purnatugas sebagai wali kota, sosok yang juga berprofesi sebagai dosen ini melanjutkan kiprah politiknya di tingkat nasional dan kini berafiliasi sebagai politikus senior dari Partai NasDem.

#wkp/ede





 
Top