Curug yang Tidak Berteriak, Kopi yang Mengajarkan Kesabaran

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro | Jurnalis


// Ada destinasi wisata yang sibuk menjual ketinggian, gemuruh, dan sensasi instan. Ada pula tempat-tempat yang bekerja dalam diam—memperlambat napas, menurunkan suara hati, dan mengingatkan manusia pada rasa cukup yang lama tertinggal.

Indrokilo memilih jalan kedua. Di sini, air tidak jatuh untuk dipamerkan. Dan kopi tidak diseduh untuk tergesa-gesa. Air yang Jatuh dengan Ingatan

Curug Indrakilo tidak menyambut pengunjung dengan letupan suara. Ia hadir tenang, seperti seseorang yang telah berdamai dengan waktu. Airnya mengalir pelan di atas bebatuan gelap yang diselimuti lumut, membentuk tirai tipis yang berkilau saat cahaya matahari menembus celah pepohonan.

Tak ada teriakan alam. Yang terdengar justru sesuatu yang lebih dalam: doa yang diulang tanpa suara.

Perjalanan menuju curug ini terasa seperti ritual pelepasan hiruk-pikuk. Dari Kota Lama Semarang, melewati Banyumanik dan Ungaran, lanskap berubah perlahan. Klakson digantikan desir angin. Gedung bertukar dengan kebun. Kota melepas genggamannya.

Memasuki Desa Wisata Lerep, ritme perjalanan melambat. Rumah-rumah warga, sawah, dan senyum yang tak tergesa memberi isyarat bahwa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan perpindahan cara pandang.

Di Dusun Indrokilo, kendaraan ditinggalkan. Alam meminta manusia datang dengan tubuhnya sendiri. Jalan setapak membelah kebun dan rimbun pepohonan. Tanah lembap menyimpan aroma dedaunan tua. Di sini, waktu seperti lupa membawa jam.

Curug Indrakilo tidak mengamuk. Kolam alami di bawahnya menampung air seperti pangkuan ibu—dingin, menyegarkan, namun tidak mengundang untuk dikuasai. Saat kabut turun, curug seolah lenyap. Namun justru di sanalah kehadirannya terasa paling utuh: sebagai napas alam yang tidak menuntut.

Warga Lerep percaya, Indrakilo dijaga oleh cerita turun-temurun. Bukan untuk ditakuti, melainkan untuk diingat: datanglah dengan niat baik, jaga ucapan, jaga sikap. Alam bukan panggung. Ia adalah rumah. Ketika Kopi Menjadi Bahasa Desa

Selepas dari curug, Indrokilo tidak menyuruh pengunjung segera pulang.

Ia justru mengajak duduk.

Di rumah-rumah sederhana dan warung Sekretariat KWT Manggar Lestari, kopi diseduh bukan demi kafein, melainkan untuk menyambung cerita. Di sinilah perjalanan menemukan jedanya.

Kopi Manggar Lestari lahir dari dapur-dapur warga Dusun Indrokilo. Dari tangan perempuan desa yang sabar dan telaten. Robusta yang tegas, Excelsa yang lembut, kopi wine dengan keasaman yang jujur, jahe rempah yang menghangatkan, hingga manis alami gula aren—semuanya adalah pantulan lanskap Lerep: bersahaja, tidak berlebihan, namun berkarakter.

Di balik racikan ‘Kopi. Murni” itu ada Ibu Sriyatun dan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani Manggar Lestari. Mereka tidak sekadar memproduksi kopi dan olahan pangan desa. Mereka merawat irama hidup: bekerja tanpa gaduh, tumbuh tanpa memaksa, dan menjaga agar rasa tetap setia pada asalnya.

Menyeruput kopi di Indrokilo bukan hanya soal apa yang dirasakan lidah. Ia adalah peristiwa sosial—tentang duduk tanpa agenda, berbincang tanpa terburu-buru, dan menyadari bahwa pariwisata sejati tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari hubungan yang jujur antara manusia dan tempat.

Bagi pelancong, Manggar Lestari bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas Indrokilo. Namun bagi mereka yang memilih tinggal lebih lama, kopi ini dinikmati langsung—bersama setik kopi, biji ketapang, bir kopi, sirup pala, jahe rempah, dan temulawak—di ruang yang hangat oleh cerita dan kebersamaan.

Wisata yang Tidak Meminta Ditaklukkan

Indrokilo tidak menawarkan wahana.

Tidak menjanjikan sensasi instan.

Tidak memaksa siapa pun untuk kagum.

Ia hanya membuka diri.

Curugnya mengajarkan bahwa air paling kuat adalah yang mengalir sabar.

Kopinya mengajarkan bahwa rasa terbaik lahir dari waktu yang tidak dipercepat.

Di sini, wisata bukan tentang menaklukkan alam, melainkan tentang menemui diri sendiri. Tentang menunduk, diam, dan kembali mendengar suara yang sering kalah oleh bising kota.

Mungkin itulah sebabnya Indrokilo terasa berbeda.

Karena ia tidak menjual pengalaman.

Ia meninggalkan pelajaran.

Bahwa alam tidak membutuhkan manusia untuk bertahan.

Tetapi manusialah yang membutuhkan alam

agar tetap utuh sebagai manusia.

Datanglah ke Indrokilo.

Bukan semata untuk melihat air jatuh.

Bukan sekadar membawa pulang kopi.

Datanglah jika kau ingin pulang

dengan cara hidup yang lebih pelan—

dan ingatan yang lebih panjang. (*)






 
Top