Kebaya dan Perlawanan yang Lembut
Oleh Christian Saputro | Jurnalis
// Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, identitas sering kali menjadi beban. Ia dianggap kuno, tak praktis, bahkan menghambat laju modernitas. Namun di Treviso, Italia—jauh dari kampung halaman, jauh dari pusat kekuasaan—sekelompok perempuan Indonesia justru membuktikan sebaliknya: identitas bisa menjadi kekuatan, bahkan diplomasi.
Malam itu, Minggu (2/2/2026), kebaya tidak sekadar dikenakan. Ia dihadirkan. Dengan penuh kesadaran. Dengan keyakinan. Dengan keberanian yang sunyi. Kebaya Night, yang digelar Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Eropa di sebuah restoran yang masuk daftar Michelin Guide, bukanlah peristiwa mode biasa. Ia adalah peristiwa budaya. Bahkan lebih jauh, ia adalah peristiwa politik dalam arti yang paling halus: politik tubuh, politik ingatan, dan politik identitas.
Kebaya sebagai Bahasa, Bukan Kostum
Selama ini, kebaya sering direduksi menjadi busana seremonial. Ia dipakai saat upacara, wisuda, atau perayaan nasional. Selesai acara, ia kembali ke lemari. Tak jarang, ia juga diposisikan sebagai simbol masa lalu—indah, tetapi tak relevan.
Namun PBI Eropa membaca kebaya dengan cara lain. Bagi mereka, kebaya bukan kostum, melainkan bahasa. Bahasa yang berbicara tentang asal-usul, tentang tubuh perempuan Indonesia, tentang cara berjalan yang tidak tergesa, tentang kesantunan yang tidak berarti lemah.
Ketika kebaya dikenakan di ruang internasional, ia menjadi penanda: aku ada, aku berasal, dan aku tidak ingin menghilang.
Ini penting, terutama bagi diaspora. Sebab hidup di luar negeri sering kali berarti hidup dalam negosiasi terus-menerus—antara beradaptasi dan bertahan, antara melebur dan menjaga jarak. Dalam konteks itu, kebaya menjadi jangkar. Ia mengikat, tanpa membelenggu.
Diplomasi yang Tidak Berisik
Diplomasi kerap dibayangkan sebagai pertemuan pejabat, pidato resmi, dan dokumen bertanda tangan. Namun apa yang terjadi di Treviso menunjukkan wajah lain diplomasi: yang bersandar pada perjumpaan, estetika, dan empati.
Didukung KBRI Roma, istri pendamping Duta Besar KBRI Vatikan, serta jejaring penggiat budaya dan bisnis, Kebaya Night dihadiri perwakilan dari 10 negara Eropa. Tidak ada teriakan slogan. Tidak ada klaim berlebihan. Yang ada hanyalah kehadiran yang konsisten dan bermartabat.
Duta Besar RI untuk Italia, Prof. Dr. Junimart Girsang, menyebut kebaya sebagai identitas, sejarah, dan narasi perempuan Indonesia. Pernyataan ini penting, karena menempatkan kebaya bukan sebagai artefak, melainkan sebagai narasi hidup—sesuatu yang terus ditulis ulang oleh zaman.
Di sinilah diplomasi budaya bekerja: bukan dengan memaksa orang lain mengerti, melainkan dengan mengundang mereka untuk merasakan.
Perempuan, Tubuh dan Ingatan Kolektif
Tidak bisa dipungkiri, kebaya selalu terkait dengan tubuh perempuan. Namun justru di situlah kekuatannya. Tubuh yang sering kali dikontrol, diatur, dan dinilai, kini menjadi medium pernyataan.
Perempuan-perempuan PBI Eropa tidak sedang menampilkan nostalgia. Mereka sedang mengajukan argumen: bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan akar; bahwa menjadi global tidak harus berarti menjadi seragam.
Atie Nitiasmoro menyebut kampanye berkebaya sebagai upaya mengembalikan identitas bangsa. Dalam konteks globalisasi yang cenderung menyeragamkan, pernyataan ini terasa relevan. Identitas bukan soal romantisme masa lalu, melainkan soal keberanian memilih apa yang ingin kita bawa ke masa depan.
Kebaya, Generasi Baru dan Masa Depan
Menariknya, Kebaya Night tidak berhenti pada simbol. Ia juga membuka ruang dialog lintas generasi. Penampilan Cahaya, penyanyi muda jebolan The Voice Kids Spanyol dan Eurovision Junior Spanyol, menjadi penanda bahwa kebaya bukan milik generasi tertentu.
Pameran mini kain tradisional Indonesia, dialog budaya, hingga jamuan makan oleh Chef Marco Feltrin menegaskan bahwa budaya hidup dalam perjumpaan. Di meja makan, di atas panggung, di tubuh yang bergerak—bukan hanya di buku atau arsip.
Ketua PBI Eropa, Christiana D. Streiff, menyatakan komitmen memperkuat kebaya sebagai identitas budaya nasional berkelas global. Pernyataan ini patut dibaca sebagai strategi kultural: bukan menjadikan kebaya eksotik, melainkan menjadikannya relevan.
Perlawanan yang Tidak Membentak
Apa yang dilakukan PBI Eropa sejatinya adalah bentuk perlawanan yang lembut. Melawan lupa. Melawan arus homogenisasi. Melawan anggapan bahwa tradisi adalah beban.
Didirikan pada 6 November 2022 di Zurich, PBI Eropa tumbuh dari sembilan negara menjadi jejaring di 23 negara. Mereka merangkul perempuan lintas generasi, termasuk mereka yang lahir dari pernikahan campur—mereka yang sering kali berada di wilayah abu-abu identitas.
Di tangan mereka, kebaya menjadi jembatan. Bukan tembok. Dari Treviso, kita belajar bahwa menjaga budaya tidak selalu harus lantang. Kadang, cukup dengan mengenakannya. Dengan merawatnya. Dengan membiarkannya berjalan ke dunia, tanpa kehilangan rumah.
Dan mungkin, di tengah dunia yang kian bising, kebaya justru mengajarkan satu hal penting:
bahwa keanggunan bisa menjadi bentuk keberanian yang paling radikal. (*)

