Rosadi Jamani | Penulis

Ketua Satupena Kalbar


// Kita lagi hidup di zaman di mana orang ribut soal AI mau ngambil kerjaan manusia, tapi tanah aja bisa tiba-tiba resign dari posisinya. Amblas. Drop out dari kerak bumi. Terjadilah dua episode “Bumi Menganga” versi 2026. Satu di Aceh. Satu lagi di Shanghai. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!

Sinkhole itu apaan sih? Singkatnya, lubang raksasa yang muncul mendadak karena tanah di bawahnya runtuh. Penyebabnya? Erosi, hujan deras, struktur tanah lemah, atau ulah manusia yang kebanyakan ngebor, ngecor, dan ngegas pembangunan tanpa rem. Kelihatan mistis? Enggak. Ilmiah banget. Cuma dramanya level dewa.

Kita mulai dari Aceh. Di Aceh Tengah, tepatnya daerah Ketol atau Pondok Balik, awal Februari 2026 muncul lubang yang bukan kaleng-kaleng. Luasnya sudah tembus 30.000 meter persegi alias sekitar 3 hektar. Kedalamannya? Bisa sampai 100 meter. Itu bukan lubang buat mancing lele, wak. Itu lubang yang bikin bulu kuduk berdiri. Bahkan muncul “air terjun” baru karena saluran irigasi overflow masuk ke perut bumi. Alam bikin fitur wisata dadakan tanpa tiket masuk.

Masalahnya, ini bukan kejadian semalam. Lubangnya sudah ada sekitar 5 tahun lalu, tapi makin brutal gara-gara hujan deras dan longsor di wilayah vulkanik kuno. Tanahnya memang jenis endapan vulkanik yang gampang banget tergerus air. Pakar dari USK bilang ini bukan sinkhole murni, melainkan amblas tanah akibat karakter geologi yang rapuh. Bukan tanah tiba-tiba ngambek, tapi memang dari sononya ringkih, lalu diguyur hujan bertubi-tubi, apalagi setelah banjir besar Aceh akhir 2025 yang merusak banyak infrastruktur.

Dampaknya? Jalan amblas. Lahan pertanian dan sawah warga lenyap. Petani rugi ratusan juta rupiah. Rumah-rumah terancam jadi tontonan pinggir jurang. Pemerintah lewat Kementerian Pekerjaan Umum lagi jungkir balik mengalihkan aliran air supaya lubangnya nggak makin doyan makan daratan. Ini bukan cuma soal lubang, ini soal ekonomi warga yang ikut tersedot.

Sekarang kita terbang ke Shanghai, China. Tanggal 11–12 Februari 2026, di Qixin Road, Minhang District, tanah mendadak buka mulut dan menelan jalan raya lengkap dengan kendaraan, motor, tiang lampu, bahkan sebagian bangunan terdekat. Kalau Aceh dramanya bertahap, Shanghai ini model “sekian detik langsung tamat”. CCTV merekam momen retakan muncul, lalu dalam hitungan detik jalan amblas. Selesai. Plot twist tanpa aba-aba.

Penyebabnya? Kebocoran air di lokasi konstruksi metro Jiamin Line yang sedang digali. Air dan tanah itu kombinasi berbahaya kalau manajemen proyeknya lengah. Untungnya, tidak ada korban jiwa. Area langsung ditutup, evakuasi berjalan berjam-jam. Tapi tetap saja, ini tamparan keras buat kota yang terkenal dengan pembangunan supercepatnya. Ini bukan pertama kali di China. Kasus serupa sering berkaitan dengan proyek infrastruktur masif yang ngebutnya kadang ngalahin kehati-hatian.

Kesimpulannya apa, wak? Dua-duanya kelihatan aneh karena muncul tiba-tiba dan skalanya gede. Tapi kalau dibedah, ini kombinasi klasik. Faktor alam dan faktor manusia. Di Aceh, dominan geologi vulkanik plus musim hujan yang brutal. Di Shanghai, lebih ke proyek metro dan kebocoran air yang bikin tanah kehilangan daya dukung. Tidak ada mistis, tidak ada konspirasi alien ngebor dari bawah tanah.

Ini cuma pengingat keras, bumi punya batas sabar. Kalau air tak dikelola, tanah tak dipahami, dan pembangunan dikebut tanpa kalkulasi matang, ya siap-siap saja jalan berubah jadi jurang. Mau secanggih apa pun zaman ini, kalau fondasinya rapuh, satu retakan kecil bisa berubah jadi lubang raksasa yang menelan segalanya. Mau sehebat apapun Barcelona tetap dibantai Atletico Madrid 4-0, ups.

“Lalu nyerempet ke Barcelona pula abang ni.”

“Maaf, wak. Lidah keseleo.” (*)

#camanewak

Sumber foto: Kompas dan Aljazeera



Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top