MASIH kurangnya pemahaman sebagian masyarakat terutama kalangan pelajar tentang mitigasi bencana gempa bumi, masih menjadi salah satu persoalan mendasar di Sumatera Barat (Sumbar). Pada satu sisi, provinsi dengan sebagian besar wilayah berada di jalur cincin Asia Pasifik ini menyimpan potensi gempa yang tinggi, namun pada sisi lain literasi kebencanaan di kalangan generasi mudanya dirasa masih sangat rendah. 

Secara lebih luas, kesiapsiagaan gempa bumi di sekolah merupakan aspek krusial dalam upaya pengurangan risiko bencana, khususnya di negara rawan gempa seperti Indonesia. Sekolah sebagai tempat berkumpulnya siswa dan pendidik memiliki risiko tinggi terhadap dampak gempa, namun juga menyimpan potensi besar sebagai pusat edukasi kesiapsiagaan bagi generasi muda. 

BACA JUGA: “Optimalisasi Komunikasi Antar Pribadi tentang Makanan Bergizi dan Sehat untuk Perbaikan Gizi dan Kesehatan Keluarga”

Perlu menjadi catatan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap gempa bumi karena berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia. Bencana gempa besar seperti di Yogyakarta (2006), Padang (2009) dan Palu (2018) telah menimbulkan kerusakan signifikan, termasuk pada sektor pendidikan. 

Tingkatkan Pemahaman Kalangan Pelajar

Guna meningkatkan pemahaman kalangan pelajar di Sumbar tentang mitigasi bencana gempa bumi tersebut, maka pada Rabu (26/2/2026), Tim Program Studi (Prodi) Teknik Sipil Fakultas Farmasi Sains dan Teknologi Universitas Dharma Andalas (Unidha) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) turun ke Kabupaten Solok Selatan (Solsel) untuk melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dalam rupa sosialisasi dan roadshow pada dua sekolah menengah atas setempat, yakni SMA Negeri 3 di Kecamatan Muaro Labuh dan SMA Negeri 5 di Kecamatan Padang Aro.

Ketua Tim Pengusul PKM, Anita Dewi Masdar, ST, MT, kepada www.sumatrazone.co.id, di Padang, Rabu (25/2/2026),  menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekedar memperkenalkan dunia teknik sipil, tetapi juga menjadi pembekalan bagi para siswa sehingga memiliki pemahaman dasar menghadapi bahaya gempa bumi.

"Kita hidup di wilayah rawan gempa. Edukasi mitigasi harus dimulai sejak usia sekolah. Dalam hal ini siswa perlu memahami bagaimana bersikap saat gempa terjadi, siswa mengenali struktur bangunan yang aman, serta memahami pentingnya perencanaan konstruksi yang sesuai standar," papar dosen yang  oleh mahasiswanya akrab disapa "Ibu Dewi" tersebut.


Peran Vital ilmu Farmasi Sains dan Teknologi 

Menurut dia, banyaknya jatuh korban dalam bencana gempa bukan semata karena kekuatan gempa, namun juga disebabkan kurangnya kesiapsiagaan dan lemahnya kualitas konstruksi bangunan. Maka, di sinilah peran ilmu Farmasi Sains dan Teknologi menjadi sangat vital. 

"Sains dan teknologi bukan hanya soal pekerjaan konstruksi membangun gedung atau jalan. Namun lebih tentang bagaimana kita merancang infrastruktur yang aman, tahan gempa dan berkelanjutan demi keselamatan masyarakat," tegasnya.

BACA JUGA: Tim PKM-RE FKM Unand Ciptakan Produk Minuman Isotonik, Tingkatkan Daya Tahan Kardiovaskular Atlet Sepakbola

Selain aspek kebencanaan, Tim Prodi Teknik Sipil Unidha juga menyoroti rendahnya pemahaman siswa SMA sederajat di Sumbar mengenai prospek dan kompetensi lulusan Prodi Sains dan Teknologi. Menurut Ibu Dewi, keterbatasan informasi menjadi salah satu faktor utama. 

"Banyak siswa belum memahami ruang lingkup Farmasi Sains dan Teknologi serta kompetensi apa saja yang dimiliki lulusan Prodi ini. Termasuk ruang karir yang terbuka luas. Akibatnya pilihan studi mereka cenderung tidak berdasarkan pada pemahaman yang utuh," ulasnya.

Padahal, lanjutnya, peran mereka yang membidangi Farmasi Sains dan Teknologi sangat strategis dalam pembangunan nasional, mulai dari infrastruktur jalan dan jembatan, bangunan tahan gempa, sistem irigasi, pelabuhan hingga pengembangan kawasan industri. 

"Indonesia terus membangun. Infrastruktur berkembang pesat. Artinya, kebutuhan tenaga ahli Farmasi Sains dan Teknologi akan selalu ada. Ini peluang besar bagi generasi muda," ujarnya menekankan.

Kegiatan PKM Prodi Teknik Sipil Unidha ke dua SMA Negeri di Kabupaten Solsel kali ini melibatkan tim dosen yang terdiri dari: 

1. Dr. Deni Irda Mazni, ST, MT

2. Gusni Vitri, ST, MT

3. Hazmal Herman, ST, MT

4. Dr. Wendy Boy, ST, MT

5. Zerha Fajserly, ST, MT

Dalam sesi roadshow, para dosen antara lain menyampaikan materi interaktif tentang dasar-dasar struktur bangunan tahan gempa, pengenalan bidang keahlian dalam Farmasi. Sains dan Teknologi, hingga simulasi sederhana terkait konsep kekuatan struktur bangunan. 

Para siswa terlihat sangat antusias, terutama pada sesi diskusi mengenai bagaimana sebuah bangunan dapat tetap berdiri kokoh meski diguncang gempa. 

Kemudian para siswa juga melontarkan pertanyaan seputar jalur masuk kuliah, prospek kerja hingga kisaran bidang pekerjaan yang bakal diperoleh setelah kuliah di Fakultas Farmasi Sains dan Teknologi nantinya.


Selaku Sekretaris Prodi Teknik Sipil Unidha, Ibu Dewi berharap kegiatan ini mampu membuka wawasan siswa tentang pentingnya peran insinyur sipil dalam kehidupan sehari-hari. 

"Kami ingin siswa tidak hanya tahu bahwa gempa itu berbahaya. Lebih dari itu, hendaknya mereka juga memahami bahwa ada ilmu dan profesi yang berperan mengurangi resiko tersebut. Kami ingin menumbuhkan kesadaran sekaligus minat siswa," ujarnya. 

BACA JUGA: Dr. Azrimaidaliza: Pemberian MP ASI Kaya Protein Hewani, Langkah Strategis Cegah Stunting pada Anak

Lebih lanjut dia menegaskan bahwa Fakultas Farmasi Sains dan Teknologi Unidha berkomitmen meningkatkan literasi dan pemahaman siswa tentang profil lulusan, cakupan keilmuan serta peluang karir di bidang ini.

"Jadi kegiatan ini bukan semata promosi kampus, namun juga bagian dari tanggungjawab akademik kami untuk memberi sumbangsih nyata bagi masyarakat dan dunia pendidikan. Jika semakin banyak generasi muda tertarik dan kompeten di bidang ini, maka infrastruktur di Indonesia akan semakin kuat," tutupnya.

Melalui roadshow ini, Unidha tidak hanya menghadirkan sosialisasi akademik, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa di balik setiap bangunan kokoh dan jembatan megah, ada ilmu pengetahuan dan dedikasi sosok-sosok yang bekerja demi keselamatan orang banyak. Bagi daerah rawan gempa seperti Sumbar, pesan itu menjadi semakin relevan dan mendesak.

#nov/ede




 

 
Top