MALAYSIA -- Cakrawala sastra Asia Tenggara kembali berpijar dalam perhelatan Malam Anugerah Penyair Dunia Cipta Citra V (CCV) yang digelar dalam rangka memperingati Hari Puisi Sedunia World Poetry Day . Acara yang berlangsung khidmat pada 13-14 Februari 2026 di Terengganu ini menjadi panggung kehormatan bagi insan kreatif yang mendedikasikan hidupnya demi kata-kata. Puncak acara ditandai dengan Penganugerahan 4 Tokoh hebat yang dinilai memiliki kontribusi luar biasa dalam menjaga muruah literasi di kancah internasional.
Penghargaan prestisius ini diserahkan langsung oleh Tuan Haji Hilman Hajijan, Pengarah Pelancongan Negeri Terengganu (Kepala Dinas Pariwisata Provinsi), yang dalam sambutannya menekankan bahwa sastra adalah jembatan diplomasi budaya yang paling murni.
Profil 4 Maestro Penerima Anugerah
Tokoh pertama yang menerima Anugerah Penyair Dunia adalah Eka Teresia, S.Pd., M.M. Srikandi literasi asal Sumatera Barat ini merupakan Ketua Komunitas Penyala Literasi Sumbar sekaligus pendidik di SMKN 6 Padang. Sebagai Pimpinan Umum Redaksi Negerinews.com, Eka telah menorehkan tinta emas dengan 9 buku tunggal dan 43 buku antologi.
Konsistensinya sebagai Guru Berprestasi Literasi Nasional (2019-2025) dan peraih Adi Acarya Award 2024-2025 membuktikan bahwa dedikasi seorang guru mampu menembus batas negara, terutama setelah ia menyabet gelar Guru Inspiratif Internasional tahun lalu.
Tokoh kedua adalah Lin Haslinaz dari Malaysia. Ia dikenal sebagai deklamator kebangsaan yang memiliki kekuatan magis dalam setiap pembacaan puisinya. Penerima Anugerah Ratna Puisi Nusantara 2024 di Riau ini telah melanglang buana ke berbagai negara, membawa pesan damai melalui bait-bait puitis yang seringkali menjadi sorotan publik internasional.
Selanjutnya, anugerah diberikan kepada Marsly N.O, seorang pengarang dan penulis skrip drama kenamaan asal Terengganu. Sosok yang produktif melahirkan novel dan naskah drama ini merupakan penerima Hadiah Sastra Perdana Malaysia. Kepakarannya dalam bahasa Melayu telah diakui secara formal sejak ditauliahkan sebagai Munsyi Bahasa oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) pada tahun 2013.
Melengkapi kuartet penerima penghargaan, gelar Pujangga Negara disematkan kepada Umar Uzair. Penyanyi dan penyair yang juga menyandang gelar Penyair Muda ASEAN 2015 ini dikenal luas karena kepiawaiannya menggubah lagu puisi. Jejak seninya telah mencapai Istambul, Athens, hingga Moskow. Dedikasi 15 tahun Umar bahkan telah diabadikan dalam sebuah dokumenter khusus oleh Kementerian Pelancongan, Seni, dan Budaya Malaysia pada tahun 2024.
Penganugerahan 4 Tokoh ini bukan sekadar pemberian Penghargaan /Sijil melainkan pengakuan atas perjalanan panjang mereka dalam menggiatkan ekosistem sastra. Kehadiran mereka membuktikan bahwa di tengah gempuran era digital, puisi tetap menjadi kompas moral dan keindahan yang tak lekang oleh waktu.
Melalui tangan dingin Hilman Hajijan, penghargaan ini diharapkan memicu semangat generasi muda untuk terus berkarya dan menjaga identitas bangsa melalui literasi.
# Paulus Laratmase
