𝗢𝗹𝗲𝗵: 𝗧𝗵𝗲 𝗔𝗿𝗰𝗵𝗶𝘁𝗲𝗰𝘁
MENYEBUT program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai “Pilar Ekonomi” adalah kebohongan statistik paling vulgar di abad ini. Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan) mungkin sedang berbicara dalam kapasitasnya untuk “menenangkan pasar”, tapi argumennya rapuh seperti kerupuk kena air.
Mereka menggunakan logika Keynesian usang: Guyur uang ke masyarakat, lalu konsumsi naik dan efeknya ekonomi tumbuh.
Berikut adalah bantahan telak (The Knockout Blow) terhadap narasi halusinasi tersebut. Gunakan poin-poin ini untuk membungkam siapa pun yang menyebut membagi nasi kotak sebagai strategi pertumbuhan ekonomi:
Pilar dari kartu kredit (The Debt-Fuelled Consumtion) sebuah “Pilar” harus berdiri di atas fondasi pendapatan (Revenue), bukan utang (Debt).
Faktanya: Program ini memakan biaya Rp71 Triliun (tahap awal) hingga Rp 400 Triliun (saat full scale). Uangnya dari mana? Dari Utang Baru atau memotong subsidi BBM/ pendidikan?
Logika: Jika Anda berutang ke bank untuk mentraktir tetangga makan siang setiap hari, apakah ekonomi rumah tangga Anda tumbuh Tidak. Anda hanya terlihat kaya sebentar, lalu bangkrut selamanya.
Ini bukan pertumbuhan ekonomi. Ini adalah pesta pora di atas kapal bocor.
“Multiplier Effect” Palsu (The Import Leakage)
Mereka bilang: “Uang berputar di petani lokal.”
Bohong besar.
Seperti yang kita bahas sebelumnya, skala industri MBG tidak mungkin dipenuhi oleh petani gurem.
Realitasnya:
Susu Impor (sapi lokal tidak cukup).
Daging Impor (Australia/India/Brazil).
Wadah Makan (Impor/China).
Bantahannya: Jika 60-70 persen komponen MBG adalah impor, maka program ini bukan Pilar Ekonomi Indonesia. Ini adalah Subsidi APBN Indonesia untuk Petani Australia dan Peternak Brazil. “Multiplier effect”-nya terjadi di luar negeri, bukan di sini.
“Cost Center”, bukan “Profit Center”
Dalam bisnis negara, ada investasi yang menghasilkan uang kembali (Infrastruktur, Pabrik, Pendidikan Vokasi).
MBG adalah Barang Habis Pakai (Consumable).
Analogi: Membangun jalan tol itu investasi (aset). Memberi makan siang itu biaya operasional (beban).
Bantahannya: Setelah makanan dimakan dan jadi kotoran, nilai ekonominya nol. Uang triliunan itu hangus (dibakar) setiap hari.
Bagaimana mungkin “Pembakaran Uang” disebut sebagai pilar.
Itu namanya liabilitas (Beban), bukan aset.
Inflasi Pangan yang Memiskinkan (The Inflation Trap)
Ketika negara memborong jutaan ton telur dan beras setiap hari untuk MBG, apa yang terjadi pada Supply & Demand di pasar bebas
Hukum Pasar: Permintaan meledak mendadak -maka stok di pasar menipis. Ini mengakibatkan harga naik gila-gilaan.
Dampaknya: Ibu rumah tangga biasa (yang anaknya tidak dapat jatah MBG atau anak kuliahan) akan menjerit karena harga telur naik 30 persen.
Bantahannya: MBG akan memicu inflasi pangan. Inflasi ini akan Menggerus Daya Beli masyarakat umum. Jadi, satu tangan memberi makan gratis, tangan lain mencekik leher ibu-ibu di pasar. Ekonomi makro akan melambat karena konsumsi rumah tangga non-MBG anjlok.
Kanibalisme Anggaran (Fiscal Cannibalism)
Untuk membiayai “Pilar” ini, pilar lain harus dirobohkan.
Purbaya atau penerusnya harus memotong anggaran di pos lain.
Anggaran Riset Hilang.
Anggaran Perbaikan Jalan Desa Hilang.
Anggaran Kesehatan Preventif Dipangkas.
Bantahannya: Ini disebut Zero-Sum Game. Anda tidak sedang membangun ekonomi. Anda sedang memindahkan uang dari saku kanan (Investasi Jangka Panjang) ke saku kiri (Konsumsi Jangka Pendek) hanya untuk pencitraan politik.
Kesimpulan:
Sebutlah MBG sebagai “Jaring Pengaman Sosial” (Bansos), itu masih masuk akal. Tapi menyebutnya “Pilar Ekonomi” Itu penghinaan terhadap akal sehat. Ekonomi tumbuh karena produksi, bukan karena makan gratis.
Bangsa yang besar dibangun oleh pabrik yang mengebul, bukan oleh dapur umum yang didanai utang. Jika Purbaya atau ekonom istana bilang ini pilar, tanyakan pada mereka, “Kalau saya jual rumah untuk beli makan siang di restoran tiap hari, apakah saya disebut investor sukses”. (*)

