Rosadi Jamani | Penulis

Ketua Satupena Kalbar


// Berdasarkan kisah nyata. Di saat libur pun tidak tetap kerja. Malang, saat di ruang kerjanya, kisah hidupnya berakhir. Simak cerpennya sambil seruput Koptagul, wak!

Selasa itu, 17 Februari 2026, pukul 15.30 WITA, waktu seperti patah di sebuah ruangan sederhana di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah. Di luar, dunia berjalan biasa saja. Orang-orang menikmati libur Imlek. Anak-anak tertawa. Toko-toko sebagian tutup. Langit Praya biru, tak memberi tanda apa-apa.

Di dalam ruangan itu, seorang lelaki masih bekerja. Namanya Dr H Suardi SKM MPH. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah. Gelarnya panjang, jabatannya tinggi, tapi hidupnya sederhana. Meja kayu penuh berkas, cangkir kopi yang mulai dingin, dan mata yang tak pernah benar-benar lepas dari tanggung jawab.

Hari itu seharusnya ia di rumah. Bersama keluarga. Beristirahat. Tetapi ia memilih masuk kantor. Ada program penguatan puskesmas yang harus ia cek ulang. Ada laporan pelayanan kesehatan masyarakat yang perlu ditandatangani. Ada evaluasi pengendalian penyakit yang tak boleh tertunda. Baginya, sakit dan sehat warga Lombok Tengah tidak mengenal tanggal merah.

Ia datang pagi itu dengan langkah seperti biasa. Menyapa satpam. Tersenyum pada staf yang heran melihatnya hadir di hari libur nasional.

“Sebentar saja,” katanya pelan. “Biar cepat selesai.”

Ia memang begitu. Dikenal sebagai sosok pekerja keras. Disiplin. Tak segan turun langsung ke lapangan. Pernah ia berdiri di halaman puskesmas desa yang becek oleh hujan, hanya untuk memastikan alat kesehatan sampai tepat waktu. Pernah ia duduk bersama warga, mendengar keluhan tentang antrean panjang dan kekurangan tenaga medis. Ia bukan tipe pejabat yang nyaman di balik meja. Ia turun. Ia mendengar. Ia bergerak.

Siang menjelang sore. Jam mendekati 15.30 WITA. Ia masih menatap layar komputer. Tangannya memegang pena. Ada satu dokumen lagi yang perlu ia paraf. Satu saja lagi.

Lalu dunia tiba-tiba berguncang tanpa suara.

Tubuhnya mendadak lemas. Pandangannya mengabur. Pena terlepas dari genggaman. Kursi berderit pelan, seolah menjerit. Dalam detik yang terasa panjang seperti musim kemarau, ia jatuh dari kursinya.

“Pak! Pak!”

Suara panik memecah ruangan. Rekan-rekan berlari. Mereka mengangkat tubuhnya yang tadi masih tegak, kini terkulai. Mereka memanggil namanya berulang-ulang, seakan nama itu bisa menariknya kembali. Upaya pertolongan dilakukan secepat mungkin. Nafasnya dicari. Denyutnya diraba.

Ia segera dibawa ke RS Adikarsa Praya. Ambulans melaju menembus sore yang tak tahu sedang mengantar sebuah perpisahan. Di dalamnya, harapan dan ketakutan berkelahi dalam diam.

Namun takdir telah lebih dulu mengetuk. Nyawanya tidak tertolong. Dugaan sementara, serangan jantung. Begitu singkat kalimat itu. Begitu berat maknanya.

Seorang kepala dinas kesehatan, yang sepanjang hidupnya mengoordinasikan pelayanan kesehatan daerah, menggerakkan kampanye kesehatan masyarakat, memperkuat fasilitas kesehatan, justru tak sempat menyelamatkan jantungnya sendiri. Ia menjaga ribuan nyawa, tapi tak pernah mengeluh tentang lelahnya. Ia memastikan puskesmas siap melayani, tapi tubuhnya diam-diam menyimpan kelelahan yang tak pernah ia bagi.

Kabar itu menyebar cepat ke seluruh Lombok Tengah. Pemerintah daerah menyampaikan duka mendalam. Di kantor-kantor, kepala-kepala tertunduk. Di puskesmas, tenaga kesehatan menahan tangis di balik masker mereka. Beberapa mungkin teringat wajahnya yang tersenyum saat sidak. Beberapa mungkin teringat nasihatnya yang tegas tapi hangat.

Masyarakat kehilangan bukan hanya seorang pejabat, tetapi seorang pelayan. Seorang figur yang berdedikasi tinggi hingga akhir hayat. Seorang yang ramah, dekat dengan pegawai dan warga, yang tak segan turun langsung melihat kondisi lapangan.

Di rumahnya, kesunyian lebih menyayat darip berita apa pun. Hari libur yang semestinya penuh canda berubah menjadi ruang duka. Ada kursi makan yang kosong. Ada ponsel yang tak lagi berdering dengan suaranya. Ada keluarga yang menunggu langkah kaki yang tak pernah kembali.

Barangkali pagi itu ia sempat berpamitan singkat. Barangkali ia berkata, “Sebentar saja ke kantor.” Siapa yang menyangka, “sebentar” itu adalah selamanya?

Semoga Tuhan membalas setiap lembur yang ia sembunyikan. Semoga setiap keringatnya menjadi saksi di hadapan langit. Semoga air mata yang jatuh hari ini menjadi doa paling jujur untuknya. (*)

#camanewak





 
Top