Rosadi Jamani | Penulis
- Ketua Satupena Kalbar
// Ada follower saya minta, “Bang, tulis Timor Leste, dong.” Demi follower tercinta, ada baiknya kita tahu apa perkembangan negeri jiran kita itu. Dulu, ambisinya ingin jadi Singapura. Sekarang, gimana nasibnya? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Timor Leste, negeri muda yang lahir dari rahim sejarah paling bergolak di Asia Tenggara. Tahun 2002 ia berdiri sebagai negara merdeka setelah referendum 1999 yang dikawal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebelumnya ia koloni Portugal berabad-abad, lalu dianeksasi Indonesia hingga 1999. Sejarahnya seperti ombak yang tak pernah benar-benar reda, sekali tenang, datang lagi badai.
Dari puncak Cristo Rei yang memandang laut biru Dili, kemerdekaan terasa sakral. Tapi angka-angka ekonomi tak pernah puitis. PDB per kapita 2023 sekitar US$1.497. Non-oil GDP 2024 sekitar US$1,8 miliar dengan pertumbuhan riil 4,1%. Itu lebih gagah dibanding periode 2017–2021 yang rata-rata minus 1,4%. IMF memproyeksikan 2025 tumbuh 3,9%, lalu 2026 melambat ke 3,3% karena stimulus fiskal menyusut. Mesin hidup, tapi bahan bakarnya masih dominan dari negara.
Kemiskinan tetap jadi bayangan panjang. Sekitar 41,8% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Kemiskinan multidimensi 45,8%, tertinggi di Asia Tenggara. Tahun 2021 hampir 42% populasi miskin. Di luar Dili, separuh rumah tangga bertani sekadar bertahan hidup. Lebih getir lagi, sekitar 50% anak di bawah lima tahun mengalami stunting. Setengah generasi tumbuh dengan gizi yang tak sempurna, ini bukan drama, ini data.
Ironisnya, inflasi relatif jinak. Tahun 2025 rata-rata 0,9% dan diproyeksikan 1,8% pada 2026. Rahasianya, dolar AS sebagai mata uang resmi. Dolariasi membantu menstabilkan harga impor seperti beras. Tapi ketergantungan impor juga besar, defisit perdagangan lebih dari 40% PDB. Pada 2021, impor barang mencapai US$873 juta, sementara ekspor hanya US$616 juta termasuk minyak. Sekitar 40% impor berasal dari Indonesia, dan 73% ekspor juga menuju Indonesia. Hubungan ekonomi keduanya begitu lekat, seperti dua sisi pulau yang tak bisa benar-benar saling berpaling.
Ekonomi domestik masih rapuh. Sektor informal menyerap 77% tenaga kerja. Kredit perbankan hanya 31,5% PDB. Bahkan pengeluaran pemerintah diperkirakan setara 90% PDB pada 2026. Negara ini berjalan dengan tongkat fiskal bernama Petroleum Fund.
Petroleum Fund dibentuk 2005. Hingga akhir September 2025, nilainya US$18,95 miliar, sekitar 939% non-oil GDP. Dana ini diinvestasikan konservatif, dengan Estimated Sustainable Income 3%. Namun penarikan berlebih sudah berlangsung 16 tahun, menutup defisit fiskal yang melebihi 50% PDB. Lapangan Bayu-Undan berhenti produksi 2025, membuat ekspor minyak 2024 anjlok 73%. Harapan kini pada proyek Greater Sunrise dengan cadangan 5,1 triliun kaki kubik gas dan 226 juta barel kondensat, ditargetkan mulai 2028–2030. Tapi proyek ini masih dibayangi negosiasi panjang.
Secercah optimisme muncul ketika 26 Oktober 2025 Timor Leste resmi menjadi anggota ke-11 ASEAN. Akses ke pasar 680 juta orang dengan PDB kolektif US$3,8 triliun membuka peluang investasi dan integrasi regional. Namun peluang itu menuntut reformasi, regulasi lebih kuat, infrastruktur memadai, dan SDM yang kompetitif.
Bisakah ia menjelma seperti Singapore? Jaraknya masih jauh. Timor Leste punya demografi muda, 70% penduduk di bawah 30 tahun, dan dana abadi yang belum habis. Tapi ia juga menghadapi kemiskinan tinggi, ketergantungan minyak, dan risiko, Petroleum Fund bisa terkuras sekitar 2038 tanpa diversifikasi nyata.
Timor Leste hari ini, kisah tentang harapan yang berdiri di tepi laut biru dengan kas negara yang perlahan menyusut. Ia belum kalah, belum juga menang. Ia sedang belajar berjalan di antara statistik yang keras dan mimpi yang belum padam.
“Bang, hebat juga tetangga kita tu, mata uangnya dolar, duitnya Trump.”
“Iya, memang mantap, wak. Itu sebabnya banyak pedagang kita bisnis ke sana. Pulang bawa dolar.” Ups
Timor Leste yang Ingin Jadi Singapura, Apa Kabarnya Sekarang?
Ada follower saya minta, “Bang, tulis Timor Leste, dong.” Demi follower tercinta, ada baiknya kita tahu apa perkembangan negeri jiran kita itu. Dulu, ambisinya ingin jadi Singapura. Sekarang, gimana nasibnya? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Timor Leste, negeri muda yang lahir dari rahim sejarah paling bergolak di Asia Tenggara. Tahun 2002 ia berdiri sebagai negara merdeka setelah referendum 1999 yang dikawal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebelumnya ia koloni Portugal berabad-abad, lalu dianeksasi Indonesia hingga 1999. Sejarahnya seperti ombak yang tak pernah benar-benar reda, sekali tenang, datang lagi badai.
Dari puncak Cristo Rei yang memandang laut biru Dili, kemerdekaan terasa sakral. Tapi angka-angka ekonomi tak pernah puitis. PDB per kapita 2023 sekitar US$1.497. Non-oil GDP 2024 sekitar US$1,8 miliar dengan pertumbuhan riil 4,1%. Itu lebih gagah dibanding periode 2017–2021 yang rata-rata minus 1,4%. IMF memproyeksikan 2025 tumbuh 3,9%, lalu 2026 melambat ke 3,3% karena stimulus fiskal menyusut. Mesin hidup, tapi bahan bakarnya masih dominan dari negara.
Kemiskinan tetap jadi bayangan panjang. Sekitar 41,8% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Kemiskinan multidimensi 45,8%, tertinggi di Asia Tenggara. Tahun 2021 hampir 42% populasi miskin. Di luar Dili, separuh rumah tangga bertani sekadar bertahan hidup. Lebih getir lagi, sekitar 50% anak di bawah lima tahun mengalami stunting. Setengah generasi tumbuh dengan gizi yang tak sempurna, ini bukan drama, ini data.
Ironisnya, inflasi relatif jinak. Tahun 2025 rata-rata 0,9% dan diproyeksikan 1,8% pada 2026. Rahasianya, dolar AS sebagai mata uang resmi. Dolariasi membantu menstabilkan harga impor seperti beras. Tapi ketergantungan impor juga besar, defisit perdagangan lebih dari 40% PDB. Pada 2021, impor barang mencapai US$873 juta, sementara ekspor hanya US$616 juta termasuk minyak. Sekitar 40% impor berasal dari Indonesia, dan 73% ekspor juga menuju Indonesia. Hubungan ekonomi keduanya begitu lekat, seperti dua sisi pulau yang tak bisa benar-benar saling berpaling.
Ekonomi domestik masih rapuh. Sektor informal menyerap 77% tenaga kerja. Kredit perbankan hanya 31,5% PDB. Bahkan pengeluaran pemerintah diperkirakan setara 90% PDB pada 2026. Negara ini berjalan dengan tongkat fiskal bernama Petroleum Fund.
Petroleum Fund dibentuk 2005. Hingga akhir September 2025, nilainya US$18,95 miliar, sekitar 939% non-oil GDP. Dana ini diinvestasikan konservatif, dengan Estimated Sustainable Income 3%. Namun penarikan berlebih sudah berlangsung 16 tahun, menutup defisit fiskal yang melebihi 50% PDB. Lapangan Bayu-Undan berhenti produksi 2025, membuat ekspor minyak 2024 anjlok 73%. Harapan kini pada proyek Greater Sunrise dengan cadangan 5,1 triliun kaki kubik gas dan 226 juta barel kondensat, ditargetkan mulai 2028–2030. Tapi proyek ini masih dibayangi negosiasi panjang.
Secercah optimisme muncul ketika 26 Oktober 2025 Timor Leste resmi menjadi anggota ke-11 ASEAN. Akses ke pasar 680 juta orang dengan PDB kolektif US$3,8 triliun membuka peluang investasi dan integrasi regional. Namun peluang itu menuntut reformasi, regulasi lebih kuat, infrastruktur memadai, dan SDM yang kompetitif.
Bisakah ia menjelma seperti Singapore? Jaraknya masih jauh. Timor Leste punya demografi muda, 70% penduduk di bawah 30 tahun, dan dana abadi yang belum habis. Tapi ia juga menghadapi kemiskinan tinggi, ketergantungan minyak, dan risiko, Petroleum Fund bisa terkuras sekitar 2038 tanpa diversifikasi nyata.
Timor Leste hari ini, kisah tentang harapan yang berdiri di tepi laut biru dengan kas negara yang perlahan menyusut. Ia belum kalah, belum juga menang. Ia sedang belajar berjalan di antara statistik yang keras dan mimpi yang belum padam.
“Bang, hebat juga tetangga kita tu, mata uangnya dolar, duitnya Trump.”
“Iya, memang mantap, wak. Itu sebabnya banyak pedagang kita bisnis ke sana. Pulang bawa dolar.” Ups (*)
#camanewak

