LK Ara | Sastrawan/ Penyair
MENIMBANG Lahirnya Maestro dan Gelombang Generasi Baru di Gayo, Aceh Tengah, dan Bener Meriah
Didong tidak pernah sekadar seni. Ia adalah suara hutan Gayo, detak kopi yang disangrai, bahasa ibu yang diselamatkan lewat ritme, dan akal sehat masyarakat yang menegur dirinya sendiri. Dalam perjalanan panjangnya, didong telah melahirkan generasi maestro yang kini menjadi tonggak sejarah sastra lisan Gayo: Ceh Muh Basyir Lakkiki dengan logika petirnya; Sali Gobal dengan pukulan ceh yang padat dan keras; Ceh Daman dari Kebayakan dengan kebijaksanaan lembut yang meredakan panggung; Ishak Ali dari Toweren dengan nada tajam yang berdisiplin; Banta Aman Farida yang menyelamatkan kosakata Gayo kuno; serta Mahlil Lewa, M. Din, Matali, dan para senior lainnya yang menjadi pante tempat ceh-ceh muda belajar berdiri.
Mereka adalah maestro generasi emas, para penyusun peta estetik didong. Dari mereka kita mengenal gaya-gaya khas kampung: ritme Kebayakan yang halus, gaya Toweren yang tegas, pantun Kenawat yang halus layaknya air gunung, dan Bener Meriah yang kreatif dan renyah. Sosok-sosok ini bukan hanya penyanyi; mereka adalah arsitek budaya.
Namun sesuatu terjadi dalam dua dekade terakhir: didong meledak menjadi gelombang baru. Hampir setiap kampung di Aceh Tengah dan Bener Meriah kini memiliki ceh muda mereka sendiri. Dari Kebayakan, Rembele, Kenawat, Toweren, Wihni Durin, Bale Atu, Pantan Terong, Tunyang, Lampahan, hingga kampung-kampung terpencil di tepi hutan; dari Meriah Jernang hingga Merie Satu. Generasi baru — dengan nama-nama seperti Zul Dewan, M. Isa Tunyang, Ishak Ali Junior, Aman Janggut, ceh-ceh perempuan di beberapa grup baru, dan puluhan lagi — membuktikan bahwa didong tidak mati, tidak pun meredup. Ia hidup, tumbuh, berevolusi.
Dalam konteks ini muncul pertanyaan penting:
sudahkah kita layak, bahkan wajib, menyusun Buku Ensiklopedi Didong?
Jawabannya jelas: bukan hanya layak—tetapi mendesak.
Didong adalah warisan tak tertulis yang rentan hilang.
Sebagian besar sejarah maestro hanya hidup dalam ingatan panggung, tidak pernah dicatat.
Nama-nama besar seperti Lakkiki dan Sali Gobal hampir tidak memiliki dokumentasi resmi.
Ceh-ceh tua wafat satu per satu, dan bersama mereka, hilanglah:
• kosakata tua Gayo,
• pantun adat,
• teknik ceh,
• kisah-kisah di balik duel,
• sejarah grup,
• dan filosofi tepok.
Ensiklopedi Didong menjadi upaya menyelamatkan ingatan kolektif sebelum lenyap.
Lahirnya generasi baru memperkaya spektrum didong.
Dengan puluhan ceh muda muncul setiap tahun, ensiklopedi berfungsi:
• memetakan gaya kampung-kampung,
• mendokumentasikan evolusi estetika,
• mencatat perubahan bahasa,
• dan menilai kontribusi masing-masing generasi.
Tidak ada seni lisan yang bisa bertahan tanpa dokumentasi.
Didong kini menjadi penanda identitas Gayo.
Ketika masyarakat di kota besar mulai kehilangan bahasa ibunya, panggung didong justru menjadi ruang di mana Gayo kembali menemukan dirinya. Ensiklopedi bukan hanya buku seni; ia adalah proyek kebudayaan untuk memperkuat identitas Gayo di masa depan.
Legitimasi akademik dan pengakuan nasional.
Ensiklopedi membuka pintu untuk:
• penelitian,
• arsip kesenian,
• kurikulum daerah,
• festival budaya,
• dan pengakuan nasional hingga UNESCO.
Sastra lisan seperti didong hanya dapat diakui secara internasional jika didukung dokumentasi memadai.
Gelombang digital menuntut arsip rapi.
Ratusan rekaman didong beredar di media sosial tanpa nama, tanpa kredit, tanpa konteks.
Ensiklopedi memberi:
• biografi ceh
• riwayat grup
• gaya ceh
• arsip lagu
• analisis bahasa
• timeline sejarah
sehingga generasi digital tidak kehilangan akar.
⸻
Kesimpulan: Momentum Emas Penyusunan Ensiklopedi Didong
Dengan hadirnya maestro-maestro besar dan bangkitnya generasi baru yang hampir merata di seluruh kampung Gayo, kini adalah waktu terbaik — bahkan waktu terakhir — untuk menyusun Buku Ensiklopedi Didong.
Jika buku itu tidak ditulis hari ini, maka:
• jejak para maestro akan hilang,
• kisah asal-usul grup akan kabur,
• kosakata tua akan lenyap,
• panggung didong akan kehilangan sejarahnya.
Tetapi bila buku itu kita tulis sekarang, Gayo akan memiliki:
• peta besar seni didong,
• arsip hidup budaya lisan,
• warisan untuk generasi 50 tahun mendatang,
• dan bukti bahwa Gayo pernah melahirkan seni yang tak ada padanannya di Nusantara.
Ensiklopedi Didong bukan hanya buku; ia adalah monumen budaya, berdiri untuk menjaga suara nenek moyang agar tidak hilang dalam kebisingan zaman. (*)

