Oleh: Zarin Muthia Gani | Mahasiswi Manajemen Aktif 2025 Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Fekon Unand)
SATE Mak Etek merupakan bukti nyata bahwa usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dimulai dari keterbatasan dapat tumbuh dan memberi manfaat berkelanjutan jika dikelola dengan konsistensi dan kerja keras. Sejak pertama kali dijajakan pada 1987 dengan modal gerobak dorong,
Sate Mak Etek berkembang menjadi usaha keluarga yang kini memiliki tiga cabang ruko di kawasan Lubuk Minturun, Padang, serta mempekerjakan dua orang karyawan. Usaha ini dikelola secara turun-temurun oleh anak dan cucu Mak Etek dengan tujuan utama membantu perekonomian keluarga dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Awal Mula dan Perjalanan Usaha
Bermula dari menjual sate menggunakan gerobak dorong, Mak Etek menawarkan sate ayam khas Padang kepada warga setempat. Ketekunan dalam menjaga kualitas rasa dan pelayanan menjadi faktor penentu kelangsungan usaha ini.
Seiring waktu, permintaan yang stabil dan dukungan dari pelanggan setia memungkinkan keluarga Mak Etek membuka ruko pertama, lalu berkembang menjadi tiga cabang yang berlokasi di Lubuk Minturun: Jalan Air Dingin, Jalan Hidayah Balai Gadang dan Jalan Raya Balai Gadang.
Meskipun masih mempekerjakan dua karyawan, pengelolaan yang berdasarkan kekeluargaan membuat usaha ini tetap solid dan terkoordinasi.
Keunikan Produk yang Menjaga Pelanggan Lama
Sate Mak Etek dikenal sebagai sate ayam khas Padang yang memiliki ciri khas visual dan rasa: daging berukuran cenderung lebih besar, warna kuning pada bumbu yang identik dengan sate Padang, serta penggunaan bawang goreng olahan sendiri sebagai pelengkap.
Menariknya, kuah sate Mak Etek secara umum tidak banyak berubah sejak 1987, sehingga pelanggan lama yang datang kembali masih dapat merasakan kenangan rasa masa lalu. Harga yang ditawarkan pun tetap terjangkau: mulai dari Rp12.000 per porsi, menjadikan Sate Mak Etek dapat dinikmati berbagai kalangan, dari anak-anak hingga lansia.
Dampak Sosial dan Ekonomi Lokal
Selain fungsi komersial, Sate Mak Etek memiliki peran sosial yang nyata. Usaha ini membantu menopang perekonomian keluarga pendiri sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Walaupun jumlah karyawan relatif kecil, konsistensi dalam mempekerjakan dan memberdayakan tenaga lokal menjadi bagian penting dari visi usaha.
Dengan berlokasi di wilayah yang sama (Lubuk Minturun) namun ditempatkan di titik-titik berbeda, Sate Mak Etek turut menggerakkan ekonomi mikro lokal mulai dari pemasok bahan baku hingga pedagang pelengkap di sekitar ruko.
Strategi Pemasaran: Menggabungkan Tradisi dan Digital
Strategi Sate Mak Etek mengandalkan dua pilar: penguatan kualitas produk dan pemanfaatan saluran komunikasi modern. Secara tradisional, rekomendasi dari mulut ke mulut menjadi sumber pelanggan utama. Namun, menyadari perubahan perilaku konsumen, keluarga Mak Etek turut memanfaatkan media sosial sederhana seperti Facebook dan alat komunikasi bisnis seperti WhatsApp Business untuk menerima pesanan dan memperluas jangkauan, terutama kepada generasi muda dan perantau yang ingin bernostalgia. Pendekatan ini menunjukkan adaptasi yang praktis serta efisien: tidak meninggalkan akar tradisi, tetapi juga membuka ruang bagi inovasi pemasaran.
Inovasi Produk dan Rencana Ekspansi
Walaupun menjaga resep asli, Sate Mak Etek tidak berhenti sampai disitu saja. Menyikapi selera pasar yang berkembang, Sate Mak Etek merencanakan penambahan variasi pada bagian menu sepertisate telur puyuh dan sate lokan sebagai pilihan baru bagi pelanggan tanpa menghilangkan identitas rasa utama.
Secara bertahap, usaha ini juga menyiapkan ekspansi ke cabang keempat yang direncanakan akan dibuka di pusat kota Padang. Rencana tersebut akan dilaksanakan secara bertahap (step by step) agar pertumbuhan tetap terkendali dan keberlanjutan usaha terjaga.
Di balik kesuksesan yang diraih, keluarga Mak Etk tetap rendah hati. Mereka menegaskan bahwa usaha ini tidak hanya untuk kepentingan keluarga, tetapi juga untuk memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Dan dengan membuka cabang baru, mereka berharap bisa membuka lebih banyak lapangan kerja dan inspirasi bagi UMKM lain.
Pesan Inspiratif untuk Pelaku UMKM
Penulis
Keluarga Mak Etek menegaskan bahwa kunci keberlanjutan usaha adalah konsistensi dan kerja keras, diiringi keberanian untuk berinovasi. Dari pengalaman mereka, bang tegar selaku keluarga memberi pesan sederhana namun kuat yang ditujukan kepada pelaku UMKM lain “jangan mudah putus asa, jaga kualitas produk, adaptasi dengan perkembangan pasar, dan terus berinovasi tanpa menghilangkan identitas usaha”. Prinsip-prinsip ini, menurut keluarga Mak Etek, menjadi modal penting untuk melanjutkan usaha lintas generasi.
Penyampaian Akhir
Sate Mak Etek bukan sekadar tempat makan, ini adalah contoh praktik UMKM yang berhasil memadukan tradisi dan adaptasi modern. Dari gerobak dorong pada 1987 hingga tiga ruko yang kini beroperasi di Lubuk Minturun, perjalanan usaha ini menegaskan bahwa visi sederhana membantu perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar bisa diwujudkan lewat konsistensi, inovasi yang terukur, dan komitmen pada kualitas.
Bagi pembaca, kisah Sate Mak Etek menawarkan pelajaran praktis, usaha kecil yang dikelola dengan penuh tanggung jawab dapat menjadi sumber inspirasi dan kesejahteraan berkelanjutan. (*)

