Oleh: Khoirunisa | Mahasiswi Program S1 Akuntansi, Semester 1, Universitas Andalas
Abstract
The phenomenon of declining nationalism among the younger generation has become a strategic issue that requires serious attention amid the rapid flow of globalization and the advancement of digital technology. Changes in mindset, lifestyle, and patterns of interaction that are increasingly open to foreign cultures have the potential to weaken young people's emotional attachment to national identity. This study aims to analyze the factors influencing the potential decline in nationalism, including the penetration of social media, declining historical literacy, weak nationalistic role models within families and schools, and the rise of individualistic culture. The research method used is a literature review, examining previous studies, national reports, and relevant theories related to nationalism and youth behavior. The findings indicate that social media is the most dominant factor because it rapidly and massively shapes value preferences, lifestyles, and cultural orientations. In addition, the lack of integration of national character education in the curriculum and the limited opportunities for youth participation in national activities further reinforce the potential decline in patriotic sentiment. Therefore, comprehensive strategies are needed through the strengthening of civic and national education, optimizing the role of families, improving digital literacy, and creating creative spaces that allow young people to express nationalism in forms that are relevant to contemporary developments. Such efforts are vital to ensuring that nationalism remains a fundamental pillar in maintaining the nation’s unity and sovereignty in the future.
Keywords: Nationalism; Youth; Globalization; Social Media; Character Education.
PENDAHULUAN
Fenomena penurunan nasionalisme di kalangan generasi muda Indonesia dalam delapan tahun terakhir menjadi isu yang semakin sering dibahas dalam kajian akademik maupun ruang publik. Seiring berkembangnya teknologi digital, globalisasi budaya, serta perubahan pola interaksi sosial, pemaknaan generasi muda terhadap nasionalisme mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Nasionalisme yang dahulu dipahami sebagai komitmen kuat terhadap tanah air, penghargaan terhadap sejarah perjuangan bangsa, dan kesediaan mengutamakan kepentingan nasional, kini diuji oleh berbagai dinamika sosial yang kompleks. Perubahan ini tidak dapat dilepaskan dari transformasi digital yang begitu cepat, yang memengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan berinteraksi generasi muda dengan lingkungannya (Suryadinata, 2021).
Dalam delapan tahun terakhir, penggunaan media sosial di Indonesia meningkat pesat dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Media sosial bukan hanya menjadi arena hiburan, tetapi juga ruang pembentukan identitas dan preferensi budaya yang sangat kuat. Paparan intensif terhadap konten global menyebabkan generasi muda semakin terhubung dengan nilai-nilai lintas negara, yang sering kali lebih menarik dibandingkan narasi kebangsaan tradisional (Hidayat, 2020). Kondisi ini menciptakan tantangan baru karena nasionalisme tidak lagi tumbuh secara otomatis melalui pendidikan formal atau simbol-simbol negara, tetapi harus bersaing dengan arus informasi global yang sangat terbuka.
Selain itu, fenomena menurunnya literasi sejarah di kalangan generasi muda turut memperkuat potensi melemahnya nasionalisme. Dalam beberapa survei nasional, minat generasi muda terhadap sejarah Indonesia, terutama sejarah perjuangan kemerdekaan, mengalami penurunan yang cukup signifikan, seiring dengan meningkatnya minat terhadap budaya populer global seperti K-pop, Hollywood, dan budaya digital lainnya (Setyawan, 2022). Ketika generasi muda semakin jauh dari akar sejarah bangsa, maka rasa memiliki terhadap identitas nasional pun menjadi kurang kuat. Padahal, pemahaman sejarah merupakan fondasi penting dalam membangun kesadaran nasionalisme yang kokoh.
Selain faktor budaya, perubahan dalam lingkungan pendidikan juga berperan dalam dinamika ini. Dalam delapan tahun terakhir, upaya penguatan pendidikan karakter telah dilakukan pemerintah melalui berbagai kebijakan, termasuk integrasi nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan dalam kurikulum. Namun implementasinya masih menghadapi banyak tantangan, seperti keterbatasan fasilitas, kurangnya pelatihan guru, serta lemahnya keteladanan nilai kebangsaan dalam lingkungan pendidikan itu sendiri (Rahmawati, 2019). Banyak sekolah yang akhirnya lebih fokus pada capaian akademik dan kompetisi global sehingga pendidikan karakter kebangsaan kurang diberikan porsi yang cukup. Kondisi seperti ini membuat penguatan nasionalisme tidak berjalan secara optimal.
Lingkungan keluarga juga berperan besar dalam perkembangan nilai kebangsaan generasi muda. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang kurang memberikan teladan mengenai cinta tanah air atau kurang membiasakan anak-anak dengan pembicaraan mengenai sejarah, budaya, dan nilai-nilai nasional memiliki kecenderungan untuk melahirkan generasi yang lebih pragmatis dan kurang terikat pada identitas nasional (Mulyadi, 2021). Dalam era digital, banyak keluarga yang lebih banyak mengandalkan gawai sebagai pengasuh, sehingga interaksi antargenerasi menurun secara signifikan. Padahal, proses internalisasi nilai kebangsaan secara historis berlangsung melalui dialog dan contoh nyata dalam hubungan keluarga.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tren perubahan nasionalisme generasi muda Indonesia dalam delapan tahun terakhir menunjukkan dinamika yang semakin kompleks seiring dengan transformasi sosial, politik, ekonomi, dan terutama perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. Nasionalisme yang sebelumnya terbangun melalui pengalaman kolektif, pendidikan formal, dan simbol-simbol negara kini mengalami pergeseran makna dan ekspresi. Generasi muda, khususnya mereka yang lahir dan tumbuh dalam era digital, menunjukkan pola baru dalam memahami identitas kebangsaan. Hal ini dapat diamati melalui interaksi mereka terhadap budaya global, penggunaan media sosial, tingkat literasi sejarah, serta pola partisipasi mereka dalam isu-isu nasional. Perubahan tren ini tidak hanya mencerminkan pergeseran nilai, namun juga mencerminkan perubahan struktur sosial Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi perubahan nasionalisme generasi muda adalah intensitas penggunaan media sosial dan paparan terhadap budaya global. Dalam periode 2016–2024, jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia meningkat secara signifikan, terutama pada kelompok usia 15–30 tahun. Media sosial bukan lagi sekadar sumber informasi, tetapi juga ruang konstruksi identitas, interaksi sosial, dan konsumsi budaya. Konten global yang tersedia secara bebas membuat generasi muda lebih akrab dengan budaya luar dibandingkan generasi sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa paparan kuat terhadap budaya populer global dapat melemahkan keterikatan simbolik pada budaya nasional jika tidak diimbangi dengan literasi kebangsaan yang memadai (Hidayat, 2020). Hal ini terlihat dari preferensi musik, gaya berpakaian, bahasa pergaulan, dan orientasi nilai yang kian bersifat kosmopolit. Meskipun fenomena globalisasi ini tidak selalu negatif, dominasi budaya global sering kali membuat nilai-nilai nasional kurang diperhatikan, terutama jika konten yang dikonsumsi tidak memuat unsur edukatif atau nilai kebangsaan.
Dalam delapan tahun terakhir, minat generasi muda terhadap sejarah nasional juga mengalami penurunan. Survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga menunjukkan bahwa pengetahuan generasi muda tentang perjuangan kemerdekaan, pahlawan nasional, dan peristiwa penting negara cenderung melemah (Setyawan, 2022). Kondisi ini diperparah dengan menurunnya minat membaca dan meningkatnya konsumsi konten visual yang lebih bersifat hiburan dibanding pendidikan. Kurangnya pemahaman sejarah menyebabkan generasi muda tidak memiliki landasan emosional dan kognitif yang kuat untuk membangun rasa nasionalisme. Padahal, nasionalisme historis seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun identitas kebangsaan yang kokoh. Ketika generasi muda tidak memahami bagaimana bangsa ini dibangun, maka rasa memiliki terhadap negara pun menjadi lemah.
Pendidikan formal sebenarnya telah berupaya melakukan penguatan pendidikan karakter dan nasionalisme melalui kurikulum yang disempurnakan, seperti penerapan Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Namun implementasinya tidak selalu optimal. Tantangan muncul dari kurangnya pelatihan guru, minimnya sarana pendukung, serta kurangnya keteladanan dalam praktik pendidikan sehari-hari (Rahmawati, 2019). Banyak sekolah yang lebih fokus pada capaian akademik dan keterampilan teknis daripada pembentukan karakter kebangsaan. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan nasionalisme sering kali hanya bersifat deklaratif dan tidak menyentuh pengalaman emosional siswa. Akibatnya, generasi muda tidak merasakan bahwa nilai-nilai nasionalisme relevan dengan kehidupan mereka.
Perubahan tren nasionalisme juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan budaya konsumtif yang semakin kuat. Dalam delapan tahun terakhir, pola interaksi keluarga mengalami perubahan signifikan akibat meningkatnya penggunaan gawai. Banyak keluarga yang berkurang intensitas komunikasinya, sehingga ruang untuk menanamkan nilai kebangsaan secara langsung menjadi semakin sempit (Mulyadi, 2021). Selain itu, budaya konsumtif yang dipengaruhi media sosial menyebabkan generasi muda lebih berorientasi pada prestise, gaya hidup, dan ekspresi individual daripada identitas nasional. Ketika identitas diri dibangun berdasarkan konsumsi dan tren global, maka nasionalisme cenderung tersisih dari prioritas nilai mereka.
Dinamika politik nasional juga memberi dampak signifikan terhadap cara generasi muda memandang nasionalisme. Dalam delapan tahun terakhir, polarisasi politik meningkat tajam, terutama pada masa pemilu. Media sosial menjadi arena pertarungan opini yang sering kali diwarnai ujaran kebencian, hoaks, dan keterbelahan identitas politik. Kondisi ini menciptakan kelelahan sosial (social fatigue) di kalangan generasi muda, sehingga mereka cenderung menjauhi diskursus politik dan negara (Pranata, 2021). Ketika negara dilihat sebagai arena konflik, bukan sebagai simbol persatuan, maka konsep nasionalisme kehilangan daya tariknya di mata generasi muda. Akibatnya, muncul rasa skeptis terhadap institusi negara dan simbol-simbol nasional.
Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa menurunnya indikator nasionalisme konvensional tidak serta-merta berarti bahwa generasi muda kehilangan rasa cinta tanah air. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa generasi muda justru memiliki bentuk nasionalisme baru yang lebih fleksibel dan relevan dengan zaman digital. Mereka menunjukkan nasionalisme melalui dukungan terhadap produk lokal, keterlibatan dalam gerakan sosial, partisipasi dalam isu lingkungan, promosi budaya Indonesia melalui konten digital, serta kolaborasi kreatif yang bersifat transnasional tetapi tetap berakar pada identitas lokal (Utami, 2023). Nasionalisme generasi muda saat ini lebih bersifat kritis, ekspresif, dan tidak kaku seperti generasi sebelumnya. Mereka cenderung menolak bentuk nasionalisme yang dipaksakan atau bersifat dogmatis, namun responsif terhadap pendekatan yang relevan dengan pengalaman mereka.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren perubahan nasionalisme generasi muda bukan merupakan penurunan semata, tetapi transformasi menuju bentuk-bentuk baru yang lebih inklusif. Meskipun demikian, risiko melemahnya identitas kebangsaan tetap ada jika negara dan masyarakat tidak mampu memfasilitasi ekspresi nasionalisme generasi kini. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tren ini sangat penting agar intervensi kebijakan dapat dirancang secara tepat. Generasi muda membutuhkan ruang kreatif, pendidikan yang relevan, keteladanan nyata, dan narasi kebangsaan yang sesuai dengan dinamika era digital.
Dengan demikian, tren perubahan nasionalisme generasi muda dalam delapan tahun terakhir mencerminkan pergeseran nilai yang dipengaruhi teknologi digital, globalisasi budaya, pendidikan, lingkungan keluarga, dan dinamika politik. Tantangan terbesar terletak pada kemampuan negara dan masyarakat untuk menyesuaikan strategi penguatan nasionalisme dengan karakter generasi muda yang lebih kritis, kreatif, dan global. Jika tren ini dapat dikelola dengan baik, maka nasionalisme tidak akan melemah, tetapi justru berkembang menjadi bentuk yang lebih adaptif dan relevan dengan masa depan Indonesia.
KESIMPULAN
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa nasionalisme generasi muda Indonesia mengalami dinamika yang kompleks dalam delapan tahun terakhir, dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, serta transformasi nilai sosial. Meskipun sebagian indikator menunjukkan adanya penurunan rasa kebangsaan, seperti melemahnya kepedulian terhadap simbol negara, menurunnya perhatian terhadap isu-isu nasional, dan meningkatnya orientasi global, temuan penelitian juga memperlihatkan adanya bentuk nasionalisme baru yang lebih fleksibel, digital, dan berbasis aksi. Generasi muda tidak lagi mengekspresikan nasionalisme secara konvensional, tetapi cenderung melalui partisipasi sosial, kreativitas digital, dan keterlibatan dalam isu-isu kemanusiaan yang dianggap relevan dengan nilai keindonesiaan.
Media sosial terbukti menjadi faktor signifikan yang membentuk identitas kebangsaan generasi muda, baik secara positif maupun negatif. Di satu sisi, media sosial membuka ruang kolaborasi, ekspresi budaya, dan penyebaran nilai nasional. Namun, di sisi lain, paparan terhadap informasi global, konten destruktif, dan polarisasi digital dapat melemahkan konsistensi nasionalisme. Sementara itu, pendidikan formal dan literasi sejarah masih memiliki peran sentral dalam memperkuat karakter kebangsaan, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada metode pembelajaran, kualitas kurikulum, serta relevansi materi dengan kehidupan generasi muda. Literasi sejarah yang bersifat tekstual dan kurang kontekstual terbukti kurang mampu bertahan dalam kompetisi dengan arus informasi digital yang lebih menarik.
Lingkungan keluarga dan budaya konsumtif juga memengaruhi sikap nasionalistik generasi muda. Keluarga dengan pola komunikasi yang terbuka dan integratif mampu menanamkan nilai cinta tanah air lebih kuat dibanding keluarga yang cenderung individualistik. Sementara itu, budaya konsumtif yang tumbuh pesat dalam delapan tahun terakhir mendorong orientasi gaya hidup global yang terkadang menggeser nilai kebangsaan. Namun demikian, generasi muda tetap menunjukkan potensi dalam mengaktualisasikan nasionalisme baru yang lebih kreatif dan adaptif, seperti mendukung produk lokal, mengikuti gerakan sosial digital, serta mempromosikan kebudayaan Indonesia melalui platform global.
Secara umum, penelitian ini menegaskan bahwa nasionalisme generasi muda tidak dapat lagi dipahami secara tunggal atau tradisional. Negara perlu merumuskan strategi pembinaan kebangsaan yang lebih inovatif, kontekstual, dan berbasis ekosistem digital. Penguatan literasi digital, reformasi pendidikan sejarah, pemberdayaan keluarga sebagai ruang internalisasi nilai, serta pelibatan generasi muda dalam program kebangsaan berbasis teknologi merupakan langkah strategis untuk menjaga ketahanan nasional. Dengan pendekatan yang tepat, dinamika nasionalisme generasi muda justru dapat menjadi modal sosial yang baru dan kuat bagi masa depan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Aminullah, Muhammad. (2019). Nasionalisme di Era Post-Truth: Tantangan bagi Generasi Muda Indonesia. Yogyakarta: LKIS.
Anwar, Saiful. (2019). Nasionalisme Generasi Milenial dan Tantangan Globalisasi di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Budianto, Reza Andhika. (2020). Generasi Z dan Perubahan Nilai Kebangsaan dalam Konteks Digital. Surakarta: UNS Press.
Cahyono, Bambang. (2021). Media Sosial dan Polarisasi Identitas: Dampaknya terhadap Kebangsaan. Jakarta: Obor Indonesia.
Faisal, Ahmad. (2020). Pendidikan Karakter dan Penguatan Nasionalisme di Era Digital. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Fauziah, Nur Aulia. (2018). Pendidikan Sejarah dalam Pembentukan Karakter Bangsa. Bandung: Yrama Widya.
Gunawan, Rendra. (2021). Media Sosial dan Transformasi Identitas Remaja Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Harahap, Roni Syahputra. (2023). Budaya Pop dan Nasionalisme Kaum Muda. Jakarta: Rajawali Pers.
Hidayat, Muhammad Rizki. (2022). Pengaruh Budaya Konsumtif terhadap Perilaku Sosial Generasi Z. Malang: Intrans Publishing.
Kusuma, Dedi Arief. (2018). Dinamika Nasionalisme di Kalangan Pemuda: Studi Perubahan Nilai Sosial. Surabaya: Airlangga University Press.
Lestari, Dewi Ratna. (2023). Literasi Sejarah dan Pembentukan Jati Diri Kebangsaan Siswa. Bandung: Alfabeta.
Mahendra, Dwiki Pramudya. (2022). Ketahanan Nasional dan Generasi Digital: Studi Perilaku Pemuda Indonesia. Malang: UB Press.
Nugraha, Fajar Prasetyo. (2021). Identitas Kebangsaan di Era Media Baru: Perspektif Pemuda Indonesia. Jakarta: Prenada Media.
Pratama, Yoga Andhika. (2020). Generasi Z dan Tantangan Nasionalisme Kontemporer. Yogyakarta: Deepublish.
Rahman, Dedi Saputra. (2020). Identitas Sosial Remaja di Era Globalisasi: Perspektif Sosiologi Kontemporer. Padang: Andalas University Press.
Sari, Intan Puspita. (2022). Pola Asuh Keluarga dan Penanaman Nilai Kebangsaan pada Remaja. Semarang: Unnes Press.
Setiadi, Angga Yudistira. (2021). Keluarga sebagai Basis Pembinaan Moral dan Nasionalisme Pemuda. Semarang: Widya Karya.
Utami, Maharani Lestari. (2024). Perubahan Sosial dan Tantangan Nasionalisme Indonesia Modern. Bandung: Alfabeta.
Wicaksono, Aditya Putra. (2024). Transformasi Nilai Nasionalisme di Tengah Arus Globalisasi Digital. Jakarta: PT Gramedia.
Yusuf, M. Rizal Perkasa. (2023). Nasionalisme Digital: Bentuk Baru Patriotisme Generasi Milenial dan Gen Z. Yogyakarta: Penerbit Deepublish.

