Oleh ReO Fiksiwan | Sastrawan
“Menurut pendapat saya, kematian hanyalah sebuah transisi ke realitas jenis lain.” — Raymond A. Moody Jr (81), Life After Life (1975).
KEMATIAN adalah kodrat, keniscayaan yang tak pernah bisa ditawar. Ia bukan sekadar akhir dari kehidupan biologis, melainkan pintu menuju hakikat yang lebih dalam.
Meski tak seseru dan seindah kehidupan yang penuh warna, kematian justru menyimpan filsafat hidup yang paling ditakuti.
Hampir semua orang berusaha menghindarinya, menunda, bahkan melawan, padahal ia adalah bagian dari siklus penciptaan yang tak terpisahkan.
Setiap kali kabar duka diumumkan, seperti wafatnya Ibu Uga Wiranto Usman (73), istri Jenderal (Purn.) Wiranto (78), publik kembali diingatkan bahwa kematian bukanlah berita asing, melainkan pengingat yang terus berulang.
Namun, betapa sering manusia lupa bahwa kematian adalah guru yang paling jujur.
Dalam tradisi agama, kematian selalu dipahami sebagai bagian dari rencana ilahi.
Islam menegaskan bahwa hidup dan mati adalah ujian Tuhan untuk melihat siapa yang terbaik amalnya (ahsanu amala).
Hindu dan Buddha memandang kematian sebagai peralihan menuju kelahiran kembali, sebuah siklus reinkarnasi yang menegaskan bahwa hidup bukanlah garis lurus, melainkan lingkaran.
Kekristenan menempatkan kematian sebagai penebusan melalui Kristus, sebagaimana firman: “Upah dosa adalah maut.”
Semua agama, dengan cara masing-masing, menegaskan bahwa kematian bukanlah absurditas, melainkan makna yang melekat pada kehidupan itu sendiri.
Para pemikir besar pun tak pernah berhenti merenungkan kematian. Al-Ghazali (1058–1111) menulis tentang kesiapan menjemput maut sebagai jalan menuju kebijaksanaan.
Dalam Metode Menjemput Maut (2000), ia menegaskan bahwa “mati adalah awal kehidupan yang sesungguhnya”, sebuah pandangan yang sejalan dengan sabda Nabi Muhammad maupun filsafat Plato tentang hidup sebagai persiapan untuk mati.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (72), kini Ketua Dewan Pers, dalam Psikologi Kematian (2007) mengajak kita memahami kematian bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai realitas yang harus diterima.
Ia ungkapkan: berbunyi: “Membahas soal kematian bisa menimbulkan sebuah pemberontakan yang menyimpan kepedihan pada setiap jiwa manusia; yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba serta punahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa kematian bukan hanya peristiwa biologis, tetapi juga trauma eksistensial yang memengaruhi cara manusia memandang hidup.
Komaruddin menekankan bahwa ketakutan terhadap mati muncul karena manusia sulit menerima kehilangan dan keterputusan dari segala yang dicintai.
Namun, ia juga menegaskan bahwa dengan memahami kematian, manusia bisa menjalani hidup lebih bermakna, karena kesadaran akan kefanaan justru mendorong kita untuk menghargai setiap detik kehidupan.
Demikian hal Prof. Dr. Quraish Shihab (81) bahkan menulis Kematian itu Nikmat (Cetak Ulang 2020), sebuah paradoks yang mengajak kita melihat keindahan di balik peristiwa yang ditakuti.
Dikatakan: “Jika dipahami dan disikapi dengan cara yang benar, sesungguhnya kematian adalah nikmat yang patut disyukuri.
Dari pandangan mutakhir neurosainstis, Eben Alexander (71), dalam Proof of Heaven: A Neurosurgeon’s Journey into the Afterlife (2012), ia menulis: “Pengalaman saya menunjukkan kepada saya bahwa kematian tubuh dan otak bukanlah akhir dari kesadaran, bahwa pengalaman manusia berlanjut setelah kematian.”
Alexander adalah seorang ahli bedah saraf Amerika yang mengalami near-death experience (NDE) pada tahun 2008 ketika menderita meningitis parah. Selama tujuh hari ia koma dengan kondisi otak yang secara medis dianggap tidak mungkin pulih.
Dari pengalaman itu lahirlah memoir Proof of Heaven, yang menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam diskursus tentang kehidupan setelah mati.
Tiga nasehat penting Alexander — sebelumnya seorang dokter bedah saraf (neurosurgeon) dengan pengalaman puluhan tahun di rumah sakit akademik ternama, termasuk Brigham & Women’s Hospital dan Harvard Medical School — bisa diacu berikut:
1/ Kematian bukan akhir kesadaran. Ia menegaskan bahwa meski tubuh dan otak berhenti berfungsi, kesadaran manusia tetap berlanjut.
2/ Pengalaman transenden. Ia menggambarkan berada di ruang tanpa waktu, penuh cahaya dan kasih, yang menurutnya mustahil dijelaskan dengan bahasa biasa.
3/ Kasih sebagai inti realitas. Salah satu kutipan lain dari bukunya: “Love is, without a doubt, the basis of everything.”
Selain itu, secara teologi sabda Rasul Muhammad yang mengatakan bahwa manusia baru benar-benar merasakan kehidupan ketika kematian menjemputnya, sejalan dengan pandangan Plato bahwa filsafat sejati adalah latihan untuk mati.
“Matilah sebelum mati” bukanlah ajakan untuk menyerah, melainkan perintah untuk membunuh ego, hawa nafsu, dan kesombongan sebelum tubuh benar-benar berhenti bernafas selamanya.
Dengan mati sebelum mati, manusia belajar hidup dengan kesadaran penuh, menerima kefanaan, dan menyiapkan diri untuk keabadian.
Kematian, dengan demikian, bukanlah musuh, melainkan cermin yang memantulkan wajah kehidupan yang sesungguhnya.
Akhirnya, bak lirik Chairil Anwar (1922-1949), Deru Campur Debu (1943): „Sekali berarti, sesudah itu mati.“ (Sajak Maju). (*)
#coverlagu: Lagu “Belajar Mati” karya Panji Sakti (49) dirilis pada 30 April 2020 di platform musik digital, termasuk YouTube Music dan Spotify.
Lagu “Belajar Mati” menjadi salah satu karya yang paling kuat karena mengangkat tema yang jarang disentuh secara eksplisit dalam musik populer: kematian sebagai keniscayaan sekaligus pelajaran hidup.
Dapat dimaknai sebagai ajakan spiritual untuk “mati sebelum mati”, yaitu menundukkan ego, berlatih ikhlas, dan menyiapkan diri menghadapi kematian dengan kesadaran penuh.

